Oleh. Irohima
Gaza kini seakan semakin kelam. Kelaparan, kehancuran, hidup di tenda pengungsian dan terhenti dari sentuhan pendidikan. Penyerangan demi penyerangan masih saja dilakukan Zionis Israel meski Board Of Peace (BoP) yang diinisiasi Amerika Serikat untuk mengawasi penataan pasca perang di Gaza telah ada. Lantas, muncul pertanyaan di benak kita, di mana letak perbedaan BoP dan lembaga perdamaian internasional sebelumnya jika sama-sama tak menghasilkan solusi nyata?
Warga Palestina kembali mengalami kekerasan oleh pemukim Israel, kelompok pemukim yang mengenakan masker diduga membakar tenda serta kendaraan milik penduduk Desa Susiya pada selasa malam (CNNIndonesia, 27-02-2026). Sementara itu di Tepi Barat bagian utara, seorang remaja Palestina tewas ditembak tentara Israel. Sejumlah saksi mata dan nara sumber mengatakan bahwa pasukan Israel menyerang kota dan menggeledah rumah-rumah warga.
Ketua Komite Palestina, Ali Shaath mengumumkan secara resmi susunan anggota Komite Pengelola Gaza yang menandai langkah konkret dalam upaya pemulihan wilayah yang dilanda konflik. Komite Pengelola Gaza dibentuk atas persetujuan dari Gedung Putih sebagai bagian dari Dewan Keamanan. Komite ini beranggotakan 11 tokoh nasional Palestina dengan Ali Shaath yang bertindak sebagai ketua. Komite ini bersifat nonpolitik dan bertanggung jawab penuh atas urusan pelayanan sipil sehari-hari (merdeka, 18-01-2026).
Israel telah ratusan kali melanggar perjanjian damai, dan akibat ulahnya itulah Jalur Gaza dan Tepi Barat terus menerus mengalami krisis. Rakyat Palestina telah cukup kenyang dengan berbagai perundingan ataupun perjanjian damai yang tak ada ujungnya, bahkan kini warga Palestina skeptis terhadap BoP buatan Trump, karena pada kenyataannya, sang inisiator justru selalu berpihak pada Israel dalam setiap kebijakan politik dan militer, bahkan rela menggunakan hak vetonya di PBB untuk membela zionis Israel.
Amerika Serikat dan Israel terkesan justru akan menggunakan BoP sebagai legitimasi pembersihan etnis, genosida dan perampasan tanah Palestina, hal ini dibuktikan dengan diamnya Amerika dan anggota BoP lainnya terhadap tindakan penyerangan yang dilakukan tentara Israel kepada rakyat Palestina di tengah perjanjian gencatan senjata. Israel juga berani mangkir dari kewajiban anggota BoP untuk membayar iuran dan mirisnya lagi Amerika menyetujuinya.
Ayat tersebut telah menjelaskan bahwa orang Yahudi dan Musyrik adalah orang-orang yang secara terang-terangan memusuhi Islam, dan sebagai kaum Muslim kita tak boleh mempercayai mereka apalagi mendukung perdamaian dengan Israel karena Israel adalah negara dengan karakter pembohong dan pengkhianat, bagi mereka, perdamaian hanyalah janji yang akan terus dilanggar. Sikap Amerika yang sedari awal memihak dan membantu Israel sejak konflik pecah, secara tegas menunjukkan bahwa Amerika dan Israel sebenarnya telah bersekutu untuk menguasai dunia dengan cara penjajahan politik, ekonomi maupun militer.
Gagasan BoP adalah salah satu upaya mereka untuk menguasai Palestina secara utuh dengan dalih rekonstruksi Gaza. Maka dari itu haram bagi kita untuk bergantung apalagi mendukung setiap kebijakan atau solusi yang mereka tawarkan karena sejatinya mereka tak pernah menginginkan terwujudnya perdamaian untuk umat Islam.
Palestina juga akan terus terjajah jika kita masih saja percaya pada mulut manis penjajah yang mengatakan akan merekonstruksi Gaza melalui BoP dengan proyek-proyeknya. Kita telah menyaksikan dengan gamblang apa yang telah berlaku sekarang, kebijakan dan perlakuan yang timpang serta Israel yang masih melakukan penyerangan demi penyerangan.
Kita sebenarnya bisa membaca dengan jelas niat terselubung Israel dan Amerika untuk mengendalikan Palestina dan dunia. Palestina yang bebas merdeka tak akan pernah ada selagi umat muslim masih terpecah belah dan selagi pemimpin negeri-negeri muslim dengan segala kekuasaannya lebih memilih mengkhianati rakyat dengan bersekutu dengan BoP buatan Donald Trump di mana Israel berada di dalamnya.
Untuk membungkam Israel dan penjajah dibutuhkan persatuan umat Muslim, karena dengan bersatunya umat, kita bisa membangun kekuatan global dan menegakkan kembali khilafah rasyidah untuk melawan dominasi penjajahan Israel dan Amerika Serikat. Hanya jihad dan khilafah satu-satunya solusi untuk persoalan Palestina, karena hanya khilafah yang bisa memberi komando jihad dan mengirimkan tentara.
Tindakan kaum penjajah AS dan Israel tidak bisa lagi diabaikan dan disikapi hanya dengan perundingan, karena apa yang mereka lakukan sudah melebihi batas kemanusiaan. Palestina butuh tentara, dan hanya khilafah yang bisa melakukannya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
.jpg)
No comments:
Post a Comment