Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Kekerasan Dipakai untuk Membungkam

Monday, March 16, 2026 | Monday, March 16, 2026 WIB

 


Oleh. Intan Ummu Nara

Ada jenis kekerasan yang tujuannya bukan sekadar menyakiti, tetapi meninggalkan pesan yang menakutkan. Penyiraman air keras termasuk di dalamnya. Ketika seseorang disiram air keras, luka yang ditimbulkan tidak berhenti pada rasa sakit fisik. Wajah bisa rusak permanen, penglihatan dapat hilang, dan trauma yang tertinggal sering kali menemani korban sepanjang hidupnya. Namun, efeknya tidak berhenti pada korban saja; peristiwa seperti ini juga menimbulkan ketakutan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Belakangan publik kembali mendengar kabar penyiraman air keras terhadap aktivis HAM dari KontraS, Andrie Yunus. Peristiwa ini mengingatkan banyak orang pada kasus yang terjadi beberapa tahun lalu, ketika penyidik KPK, Novel Baswedan, menjadi korban serangan serupa pada tahun 2017.

Metode ini bukan sekadar bentuk kekerasan biasa. Dalam banyak kasus, penyiraman air keras digunakan sebagai alat teror. Pelaku tidak selalu bertujuan menghilangkan nyawa, tetapi membuat korban menanggung penderitaan yang terlihat seumur hidup. Bekas luka di wajah seakan menjadi pesan diam yang ingin ditunjukkan kepada siapa saja yang melihatnya: bersuara bisa berbahaya.

Dialog dan Adab dalam Islam

Dalam Islam, melukai orang lain dengan sengaja merupakan bentuk kezaliman yang sangat jelas dilarang. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa tidak boleh ada tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain (La dharara wala dhirara). Prinsip ini menegaskan bahwa setiap bentuk kekerasan yang merugikan manusia lain adalah pelanggaran terhadap nilai kemanusiaan sekaligus nilai agama.

Menariknya, tradisi intelektual Islam justru sangat akrab dengan perbedaan pendapat. Para ulama sejak dulu terbiasa berdebat, berdiskusi, dan mempertahankan argumentasi mereka dengan adab. Tujuannya bukan untuk menghancurkan lawan, tetapi untuk menemukan kebenaran.

Imam Asy-Syafi’i pernah menyampaikan sebuah prinsip yang sangat indah: dalam setiap perdebatan, ia berharap kebenaran muncul, bahkan jika kebenaran itu datang dari orang yang sedang berdebat dengannya. Sikap ini menunjukkan bahwa kerendahan hati intelektual adalah bagian dari tradisi ilmu. Ketika kekerasan menggantikan dialog, sesungguhnya yang sedang hilang bukan hanya rasa aman, melainkan juga kedewasaan dalam menyelesaikan perbedaan.

Peran Negara dan Jaminan Keadilan

Di sinilah peran negara menjadi sangat penting. Keamanan masyarakat bukan sekadar soal menindak pelaku setelah kejahatan terjadi. Negara memiliki tanggung jawab memastikan hukum berjalan dengan adil dan tegas, sehingga tidak ada ruang bagi teror untuk berkembang.

Jika masyarakat mulai merasa bahwa bersuara bisa berujung pada ancaman, maka yang terancam bukan hanya individu tertentu. Yang terancam adalah keberanian publik untuk menyampaikan kebenaran. Keadilan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Jika suatu hari orang-orang mulai memilih diam karena takut, maka luka yang ditinggalkan oleh kekerasan itu sebenarnya telah menjalar lebih jauh dari yang kita bayangkan. Ia tidak hanya melukai satu orang, tetapi juga melukai masa depan kebebasan dan keadilan dalam masyarakat. Semoga kita semua dijauhkan dari kezaliman, dan setiap peristiwa kekerasan menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga, bahkan ketika perbedaan tidak dapat dihindari.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update