Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kekerasan Aparat: Kegagalan Sistem Sekulerisme Menghasilkan Krisis Martabat

Sunday, March 08, 2026 | Sunday, March 08, 2026 WIB Last Updated 2026-03-08T04:57:29Z

 


Oleh: Suryani


Jakarta, tvOnenews.com – Kronologi Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat sejumlah teror dari orang tidak di kenal. Teror ini di dapat Tiyo pasca Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melayangkan surat kepada Nations Children Fund (UNICEFF). Tak hanya diteror melalui pesan whatsapp, tiyo ardianto juga mengaku di kuntit dan di foto dari jarak jauh oleh orang tak di kenal dengan ciri-ciri badan tegap.


MetroTV – Sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam badan eksekutif mahasiswa universitas indonesia (BEM IU) mendapat teror menjelang pemilihan ketua BEM UI. Teror yang di terima beragam, mulai dari praktik doxing hingga pengiriman paket misterius ke sejumlah mahasiswa. Amnesty International Indonesia mengancam keras aksi teror tersebut. Amnesty menilai tindakan intimidasi tersebut merupakan ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi dan demokrasi di lingkungan kampus. 


Analisis:


Tindakan kekerasan oleh aparat sering kali dilihat hanya sebagai kegagalan personal. Namun jika kita bedah lebih dalam fenomena ini merupakan masalah serius berkaitan dengan krisis moral dan etika serta martabat dalam sistem sekulerisme.


Sekulerisme memisahkan agama dari pengaturan urusan publik maupun kehidupan lainya. Dalam sistem ini standar baik dan buruk bersifat relatif bergantung kepada kesepakatan manusia atau kepentingan politik semata.


Tanpa landasan ruhiya yaitu kesadaran akan pengawasan allah, integritas aparat hanya berpatokan pada pengawasan manusia yang mudah disuap atau dimanipulasi. Dalam sistem sekuler hukum seringkali menjadi produk politik, aparat tidak lagi merasa sebagai pelindung rakyat, melainkan menjaga stabilitas kekuasaan serta kepentingan pemilik modal akibatnya jika ada yang menyenggol posisi tersebut merupakan ancaman bagi mereka dan berusaha melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan posisi tersebut.


Sistem sekulerisme bersanding dengan sistem sekulerisme yang melahirkan cara pandang materialistik di mana keberhasilan di ukur dari pencapaian materi, jabatan, dan pengaruh, bukan kemuliaan akhlak. Ketika negara lebih memprioritaskan investasi dan proyek daripada kesejahteraan rakyat, aparat seringkali membungkam kritik, ini menjadi bukti bahwa martabat tergeser oleh efisiensi ekonomi.


Sistem sekulerisme gagal membangun control yang kokoh. Martabat tidak bisa lahir hanya dari latihan fisik dan kepatuhan buta. Martabat harus lahir dari keyakinan bahwa setiap tindakan akan di mintai pertanggungjawaban dihadapan sang pencipta. Selama sistem yang menaunginya sistem sekuler yang menempatkan manusia sebagai pembuat hukum tertinggi maka aparat akan selalu rentan menjadi alat .penindas bagi manusia lainya, karena tidak adanya standar moral yang tetap dan tak tergoyahkan.


Kontruksi islam:


Dalam sistem islam, pembentukan aparat bukan sekedar masalah teknis dan pelatihan fisi, melainkan hasil dari integrasi antara akidah (landasan berfikir), syariah (aturan), dan sistem sanksi yang tegas.


Berbeda dengan sistem sekuler yang mungkin sebagian besar para aparat memandang jabatan sebagai otoritas mutlak atau alat kekuasaan, islam memandang jabatan sebagai tanggung jawab yang berat. Aparat di didik dengan akidah yang kokoh bahwa setiap tindakannya meski tidak dilihat oleh atasan melainkan di awasi oleh allah SWT. Ini adalah inner control yang paling efektif.


Sistem islam bekerja secara menyeluruh (kaffah) mulai dari pembentukan mentalitas individu hingga penyediaan perangkat hukum yang mampu menjangkau siapa pun yang berbuat zalim. Bahkan sampai pada penegakkan hukum terhadap orang yang berbuat zalim maupun kekerasan fisik tanpa memandang status sedikit pun, maka hukum berlaku bagi mereka seperti hukum qishash dan diyat.


Wallahu’alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update