Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idulfitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat Islam

Wednesday, March 25, 2026 | Wednesday, March 25, 2026 WIB



Oleh Reni Rosmawati 

Pegiat Literasi Islam Kafah 


Ramadan telah usai. Perayaan Idulfitri sudah digelar dengan sukacita oleh umat Islam di seluruh dunia. Walaupun berbeda hari pelaksanaanya disebabkan masih terjadi perbedaan dalam penentuan awal dan akhir Ramadan, namun kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah umat. Umat bahagia telah menang berjuang menahan lapar, haus, dan melawan hawa nafsu selama Ramadan, karena Ramadan memang bulan perjuangan. 


Sayangnya, kemenangan umat belum sempurna, perjuangan umat belum usai karena kondisi mereka masih memprihatinkan. Di Palestina  umat muslim masih terus berhadapan dengan penjajahan Zionis yang kejam dan semakin brutal tak mengenal belas kasihan. Begitu pun dengan kaum muslim di Rohingya. Mereka  terpaksa merayakan Idulfitri dalam keadaan terusir, terlunta-lunta, bahkan terkatung-katung di lautan disebabkan tidak memiliki kewarganegaraan. Hal sama juga dirasakan umat muslim belahan dunia lainnya seperti India, Uighur, bahkan di negeri ini sendiri yang kerap mengalami diskriminasi. 


Di sisi lain umat pun masih terpecah belah,  karena pemimpin negara-negara muslim tempat mereka bernaung justru bersekutu dengan kafir harbi (AS dan sekutunya) untuk memusuhi Islam dan umatnya, bahkan menjegal kebangkitan Islam. Sebagaimana dilansir oleh CNBC Indonesia (2/3/2026), Arab Saudi bersama sekutunya AS mengutuk Iran yang melancarkan serangan balasan ke Israel. Dikutip Al-Arabiya pemerintah Arab Saudi menyatakan serangan itu tidak mendasar, berbahaya, dan melanggar kedaulatan beberapa negara. Ia juga menegaskan bahwa tidak dibenarkan eskalasi dibalas dengan eskalasi. 


Perjuangan Ramadan baru Sebatas Praktis-Pragmatis


Hakikatnya semua kondisi ini akibat umat Islam memaknai Ramadan sebagai bulan perjuangan belum sampai pada kesadaran ideologi Islam. Perjuangan umat masih dominan bersifat praktis-pragmatis, bahkan individualis. Umat mencukupkan diri pada sebatas memperbaiki diri, keluarga, dan amal ibadahnya. Inilah yang menjadikan posisi politik umat lemah dan terus hidup dalam belenggu penjajah, sehingga predikat umat terbaik tak dapat diraih seutuhnya. 


Karena itu, seyogyanya umat harus memaknai Ramadan bukan hanya sekadar bulan berjuang menahan haus dan lapar ataupun melawan hawa nafsu semata. Namun harus sampai pada makna berjuang mengembalikan aturan Islam ke tengah umat. Karena sejatinya semua permasalahan yang menimpa umat bermuara dari hilangnya aspek pemikiran politik pada diri mereka. Runtuhnya Daulah Khilafah Islamiah pada tahun 1924 menjadi gong kehancuran institusi politik umat, sekaligus menandai hilangnya kemampuan berpikir kaum muslimin. 


Setelah itu kaum muslimin hidup diatur oleh pemikiran sekuler kapitalisme disebabkan mereka kehilangan pemikiran produktifnya dan ideologi sahih-nya (Islam). Inilah yang menyebabkan kaum muslim tidak bisa bangkit dan menemukan jawaban atas masalah yang mereka hadapi. Mereka menjadi tidak independen, jangankan memimpin dunia menyelesaikan masalah internal saja tidak bisa. Akhirnya, mereka hidup mengikuti telunjuk negara penjajah. Mereka membebek setiap apa yang datang dari negara kafir harbi yang menghendaki kehancuran umat muslim. 


Maka, sudah semestinya umat menjadikan Ramadan sebagai momentum berpikir secara benar dan produktif yang mengarah pada ideologi Islam. Akidah Islam harus menjadi landasan berpikir umat. Karena akidah inilah yang akan memancarkan seluruh aturan terkait kehidupan. Akidah Islam akan melahirkan pemikiran Islam secara global yang pastinya akan mampu membawa kaum muslimin memimpin dunia dengan Islam. Terlebih jika melihat besarnya jumlah SDM, SDA, posisi geopolitik dan geostrategis wilayah umat Islam, tentunya umat punya potensi kuat untuk memimpin dunia kembali dengan Islam.


Ramadan Era Rasulullah  


Ramadan sejatinya bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga ataupun hawa nafsu, melainkan bulan perjuangan. Rasulullah dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana menyikapi bulan Ramadan. Rasulullah selain menjadikan Ramadan sebagai ajang meningkatkan amal saleh, namun juga momen menyebarkan dakwah Islam kepada seluruh umat manusia. Di bulan Ramadan Rasulullah melakukan dakwah dan jihad (perang Badar) agar Al-Qur'an sampai ke tengah umat. Pada bulan Ramadan pula Rasulullah berhasil menaklukkan Makkah dan membuat seluruh jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam.


Maka apa yang dilakukan Rasulullah haruslah kita tiru. Ramadan dan Idulfitri semestinya menjadi langkah awal untuk mengonsolidasi dan memobilisasi kekuatan serta kesatuan umat Islam dalam penyebaran Islam. Namun perlu digaris bawahi penyebaran Islam ini wajib melalui dakwah pemikiran yang membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kafah. Sebab hanya dengan kesadaran politik inilah akan lahir pemikiran produktif dan kebangkitan umat. Tanpa adanya kesadaran politik, umat akan tetap lemah, tertindas, terus bernasib buruk, serta kehilangan jati diri sebagai umat terbaik. 


Perlu diingat, upaya membentuk kesadaran politik yang benar tidak bisa dilakukan sendiri. Ia hanya bisa dihasilkan dari pengkajian intensif bersama partai politik Islam ideologis sahih yang mendakwahkan Islam secara kafah. Partai politik Islam yang mengikuti metode Rasulullah dalam membentuk kesadaran politik umat. 


Rasulullah membentuk kesadaran politik umat dengan 3 tahap, yaitu tatsqif, tafa'ul ma'al ummah dan tathbiq al-ahkam. Pada tahap tatsqif, Rasul membina para sahabat dengan pemahaman Islam mabda’iy yang menghujam, sehingga muncul individu yang berkepribadian Islam yang cemerlang. Lalu pada tahap tafa’ul ma’al ummah, Rasul dan para sahabat membina masyarakat dengan Islam kafah sehingga umat paham dan mau diterapkan syari’at Islam di tengah mereka. Pada tahap tathbiq al-ahkam maka diterapkanlah Islam utuh serta menyeluruh.


Maka yang harus dilakukan umat saat ini adalah menata peran terbaik untuk agama Islam. Lalu mencari partai politik Islam ideologis yang mendakwahkan Islam kafah dan berjuang bersamanya demi izzul islam wal muslimin.


Wallahu a'lam bi ash-Shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update