Oleh: Rumaisha
Pejuang Literasi
Rindu Rasul
Rindu kami padaMu ya Rasul
Rindu tiara terperi
Berabad jarak dariMu ya Rasul
Serasa Dikau disini
Cinta ikhlasMu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintaMu Secara bersahaja
Rindu kami padaMu ya Rasul
Rindu tiara terperi
Berabad jarak dariMu ya Rasul
Serasa Dikau disini
Cinta ikhlasMu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintaMu Secara bersahaja
Rindu kami padaMu ya Rasul
Rindu tiara terperi
Berabad jarak dariMu ya Rasul
Serasa Dikau disini (Taufiq Ismail)
Syair di atas menggambarkan sosok pemimpin yang mencintai umatnya. Tetapi, hari ini, andai Rasulullah saw. melihat keadaan umatnya hari ini, pasti beliau akan meneteskan air mata. Di banyak negeri Muslim, darah kaum beriman tertumpah bukan di tangan musuh, tapi oleh saudara seagama sendiri. Dari Palestina hingga Sudan, dari Suriah hingga Yaman, bumi kaum Muslim seakan tak pernah kering dari luka dan air mata. Umat yang dulu satu barisan di bawah panji tauhid, kini tercerai-berai dalam batas dan kepentingan buatan manusia.
Padahal, Rasulullah saw. telah mewariskan petunjuk hidup yang sempurna, Islam sebagai mabda yang menata seluruh aspek kehidupan. Dengan mabda itulah beliau membangun masyarakat yang adil, penuh kasih, dan sejahtera. Selama risalah itu diterapkan, umat Islam hidup dalam satu kepemimpinan yang melindungi mereka dari kezaliman dan perpecahan. Tapi ketika petunjuk itu ditinggalkan, dunia Islam pun terjerumus dalam kegelapan yang sama: perebutan kuasa, kedzaliman, dan kehancuran.
Andai beliau menyaksikan pemimpin-pemimpin Muslim hari ini yang saling berebut kursi, sementara rakyat kelaparan dan negeri-negeri Islam porak-poranda, tentu hatinya sangat pilu. Sebab beliau dahulu mengajarkan, “Pemimpin itu pengurus rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Namun kini, banyak yang berkuasa tanpa peduli pada amanah, dan banyak yang diam di tengah kemungkaran.
Namun, di balik kesedihan itu, ada secercah harapan. Rasulullah saw. juga pernah bersabda bahwa umatnya akan kembali bersatu dalam naungan keadilan Islam, setelah melalui masa keterpurukan yang panjang. Maka, setiap tetes air mata dan rasa pedih ini seharusnya menjadi pengingat untuk bangkit, menegakkan kembali sistem yang diwariskan beliau yaitu sistem yang menebar rahmat bagi seluruh alam.
Andai Rasulullah saw. melihat umatnya kini, semoga beliau tahu masih ada yang mencintainya dengan tulus; masih ada hati-hati yang berjuang, hamba-hamba yang selalu mengikuti jejak langkah dakwahnya agar risalah yang beliau bawa kembali menjadi cahaya bagi dunia.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment