.Oleh Wanti Ummu Abror
Pendidik Generasi
Darurat kesehatan jiwa pada anak saat ini kian memprihatinkan. Menurut survei yang telah dilakukan oleh Menteri PPPA tahun 2024, melalui Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) ditemukan fakta 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Keinginan anak mengakhiri hidup akibat konflik keluarga sebanyak 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen. Untuk itu pemerintah mengambil langkah tegas guna menangani krisis tersebut.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi bersama dengan delapan pimpinan Kementerian/Lembaga (K/L) lainnya secara resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak. Hal itu dilakukan karena isu tentang kesehatan jiwa pada anak tidak akan mampu ditangani oleh satu kementeriaan saja. Untuk itu Sembilan K/L ini bersama-sama berbagi peran untuk memperkuat penanganannya. (Berakhlak.com, 06/03/2026)
Meningkatnya gangguan kesehatan jiwa pada anak, merupakan salah satu ancaman nyata bagi keberlangsungan generasi bangsa. Tentunya hal itu memang membutuhkan kerjasama antar kementerian, namun apakah upaya ini akan berhasi?
Sejauh ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah peningkatan krisis kesehatan jiwa pada anak atau remaja, di antaranya dengan melakukan promosi dan edukasi guna meningkatkan kesadaran dan pengetahuann masyarakat tentang kasus tersebut. Melakukan pencegahan dan deteksi dini dengan mengadakan layanan dan rujukan untuk terapi dan konseling, memantau dan menguatkan sistem data guna mengevaluasi program-program kesehatan jiwa.
Namun berbagai upaya tertsebut pada faktanya tidak mampu menyelesaikan permasalahan bunuh diri. Hal ini seolah memberikan sinyal keras bahwa terdapat kerapuhan yang melanda generasi muda. Usia remaja seharusnya menjadi usia yang produktif, berkarakter dan berakidah kuat, mampu menemukan jati diri dan mengoptimalkan segala potensi dirinya untuk kemajuan umat.
Maraknya kasus kesehatan jiwa yang berujung pada bunuh diri, sering kali disebabkan dari lingkungan keluarga, masyarakat dan negara yang semuanya tidak berdiri sendiri melainkan bersifat sistemis. Pada lingkungan keluarga, kurangnya perhatian dari para anggota keluarga dan minimnya nilai-nilai agama yang diajarkan tidak mampu mecetak pribadi yang beriman dan brtakwa sehingga mereka berbuat dan berpikir hanya memenuhi nafsu semata.
Tekanan dari berbagai relasi yang tidak sehat seperti pertemanan, permasalahan ekonomi keluarga, beban tugas dari sekolah serta maraknya gaya hidup hedon yang terus diaruskan oleh media membuat generasi semakin rapuh.
Tidak adanya kontrol dari masyarakat yang saling mengingatkan dan saling membantu dalam kebaikan, membuat generasi semakin jauh dari nilai dan norma agama. Ditambah negara yang menerapkan sistem kehidupan yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan menganggap bahwa manusia bebas dalam mengatur tata cara kehidupan sesuai dengan kehendaknya seperti kebebasan dalam berekonomi, berkeyakinan, bertingkah laku dan bebas dalam berkepemilikan dan menghilangkan peran agama untuk mengaturnya, akibatnya ajaran agama hanya dianggap sebagai khasanah keilmuan belaka tanpa amal yang pasti.
Sehingga para pemudanya semakin terjerumus pada berbagai macam kerusakan moral, kemaksiatan, tindakan kriminal, dipenuhi rasa putus asa, depresi, konflik, sebagai korban kekerasan bahkan menjadi pelakunya serta berbagai problem lainnya. Jika dicermati permaslahan ini tidak muncul hanya dari satu atau dua faktor saja, baik dari keluarga dan sekolah. Akan tetapi permasalahan ini muncul akibat sistem kehidupan tempat mereka tumbuh dan dibesarkan yaitu sistem yang bercorak kapitalis sekuler yang mengadopsi cara hidup liberal.
Mereka dihadapkan pada tatanan kehidupan yang serba instant. Dengan perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, namun hal itu didominasi oleh konten-konten yang liberal, memberikan gambaran kehidupan yang serba bebas, menilai kebahagiaan ketika terpenuhinya segala kesenangan-kesenangan yang bersifat materi. Hal ini akhirnya diikuti oleh para pemuda tanpa adanya filter, akibatnya nilai-nilai dan pemikiran–pemikiran ini mereka adopsi sedangkan jati diri mereka sebagai muslim semakin tergerus, karena tontonan menjadi tuntunan.
Ditambah lagi tatanan kehidupan yang bercorak individualis, minim pembinaan dan keteladanan di dalam ranah keluarga, mengakibatkan anak kehilangan tempat berlindung dan bertanya karena komunikasi yang renggang antar anggota keluarga. Tak cukup itu saja, dalam sistem pendidikan dan masyarakat yang mengadopsi sekularisme, hanya menitikberatkan pada capaian nilai atau angka-angka yang bersifat akademik tanpa diimbangi dengan penanaman akidah yang kuat, dari hal ini tak jarang banyak anak yang berprestasi dari sisi akademik namun rapuh secara psikisnya atau terbebani dengan tugas-tugas sekolahnya hingga mengalami depresi.
Pada tatanan bermasyarakat adanya sikap acuh tak acuh pada permasalahan orang lain, membuat remaja pada umumnya seloah dibiarkan berjuang sendiri dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Sehingga menjamur kasus depresi, tindak kriminalitas, bahkan mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung beratnya permaslahan yang bmereka alami.
Maka benar jika permasalahan ini tidak akan mampu ditangani oleh satu kementeriaan atau gabungan dari kementeriaan yang lainnya. Namun butuh solusi yang komprehensif, melihat dari akar permasalahan yang menjadi sumbernya serta menemukan solusi alternatifnya.
Dan akar dari permasalahannya adalah penerapan sisitem kehidupan yang bercorak kapitalisme sekuler, yang dalam praktiknya telah nyata menyengsarakan umat dan meninggalkan generasi yang lemah, padahal Allah Swt telah berfirman:
“Dan hendaklah kamu takut (kepada Allah) orang-orang yang kiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, heendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)
Generasi merupakan aset peradaban dan kemajuan sehingga negara berkewajiban memberikan perhatian, fasilitas dan perlindungan lebih kepada mereka. Di tangan merekalah masa depan bangsa dan agama ini. Jika hak-haknya tidak dipenuhi, maka masa depan generasi berada di gerbang kehancuran. Karena mereka adalah investasi masa depan, negara harus memastikan kehidupannya bisa berjalan dengan pemenuhan dan jaminan segala kebutuhan, baik secara jasmani maupun ruhani.
Islam telah memberikan perhatian besar terhadap perlindungan anak-anak yang meliputi fisik, psikis, intelektual, moral, ekonomi, dan lainnya. Hal ini direalisasikan dalam bentuk memenuhi semua hak-haknya, menjamin kebutuhan sandang dan pangannya, menjaga nama baik dan martabatnya, menjaga kesehatannya, memilihkan teman bergaul yang baik, menghindarkan dari kekerasan, dan lain-lain.
Dalam Islam, terdapat tiga pihak yang berkewajiban menjaga dan menjamin kebutuhan anak-anak. Pertama, keluarga sebagai madrasah utama dan pertama. Ayah dan ibu harus bersinergi mendidik, mengasuh, mencukupi gizi anak, dan menjaga mereka dengan basis keimanan dan ketakwaan kepada Allah Taala. Jika ayahnya tiada maka anak akan mendapatkan jaminan nafkah dari keluarga dari jalur ayah yang laki-laki.
Kedua, lingkungan. Dalam hal ini, masyarakat berperan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Masyarakat adalah pengontrol perilaku anak dari kejahatan dan kemaksiatan. Dengan penerapan sistem sosial Islam, masyarakat akan terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar kepada siapa pun.
Ketiga, negara sebagai pengurus utama. Negara wajib memberikan pemenuhan kebutuhan berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi setiap anak. Penerapan sistem pendidikan Islam berkualitas dan bebas biaya akan mengakomodasi setiap anak dapat bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Sistem pendidikan Islam mampu membentuk generasi berkepribadian Islam dan berakhlak mulia.
Dengan penerapan syariat Islam secara kafah maka generasi jauh dari permasalahan gangguan jiwa, bahkan sampai pada mengakhiri hidup mereka yang merupakan anugerah dari Allah Swt.
Wallahu alam bi ashawwab.
No comments:
Post a Comment