Oleh : Ruji'in (Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Gelombang teror terhadap aktivis mahasiswa telah menunjukkan adanya tekanan intimidasi suara yang kritis dikampus. Fakta yg mengkhawatirkan oleh masyarakat kepada teror aktivis mahasiswa kini menjadi sorotan. Alih-alih aparat yang memiliki tugas untuk melindungi, namun dalam sejumlah kasus justru aparat di persepsikan sebagai alat untuk intimidasi. Maka sungguh tak heran jika aparat malah kerap menjadi contoh yang buruk bagi masyarakat.
Seperti dilansir TVonenews.Com, kronologi Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mendapat sejumlah teror dari orang yang tak dikenal. Teror itu didapat Tiyo pasca Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melayangkan surat kepada dinas Nations Children Fund(UNICEF). Tak hanya melalui pesan whatsapp, Tiyo juga mengaku dikuntit dan difoto dari jarak jauh oleh orang tak dikenal. Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menerima teror usai bersurat ke UNICEF terkait hak-hak pendidikan tragedi anak SD berusia 10 tahun bunuh diri di (NTT) karena tak mampu membeli alat tulis seharga Rp. 10 ribu. Di kutip Jumat, (6/2/2026).
Sebelumnya pernah terjadi juga kasus yang menimpa ojek online ditabrak mobil kopasus hingga tewas saat aksi di Jakarta bulan Agustus 2025 yang lalu, bahkan sempat menjadi sorotan masyarakat hingga sampai aksi demonstrasi diberbagai wilayah. Akan tetapi pada akhirnya kasus ini ternyata ditutup juga tanpa ada kelanjutannya.
Sejumlah kasus-kasus pristiwa tersebut sangat menimbulkan kemarahan masyarakat dan para mahasiswa atas ketidakadilan yang menimpa rakyat saat ini. Hingga memicu kritik atau protes dengan melakukan aksi demonstrasi. Akan tetapi sejumlah aparat justru membungkam mahasiswa dengan berbagai teror bahkan sampai berujung pada kekerasan.
Sungguh miris, negeri yang berlabel leberalisme dan mengusung kebebasan, salah satunya kebebasan berpendapat namun hak kebebasan itu hanyalah untuk panggung penguasa bukan untuk kebebasan rakyat. Suatu fakta yang memperlihatkan bahwa setiap suara rakyat yang menuntut keadilan dan kebenaran akan selalu dibungkam oleh aparat negara.
Sistem kehidupan sekuler liberal ini menjadikan manusia merasa bebas dalam melakukan segala tindakan sehingga menjauhkan manusia dari syariat allah SWT dan lebih memilih aturan buatan manusia yang didalamnya hanya ada kepentingan-kepentingan yang ngawur tidak berlandaskan pada syariat Islam. Maka wajar jika dinegeri ini terjadi kekacauan dan kerusakan semakin merajalela karena tabiat masyarakat sekuler liberal yang jauh dari syariat.
Mekanisme lembaga dalam aparat negara disistem sekuler tidak berbasis pada ketaqwaan. Seringkali kedudukan dan jabatan dimasuki oleh orang-orang yang tidak berkapasitas melainkan orang-orang yang hanya mengejar materi dan kedudukan. Apa lagi dalam demokrasi praktek suap~menyuap kerap terjadi bahkan dijadikan alat untuk mencapai tujuan sehingga jabatan seolah diperjualbelikan. Seharusnya amanah potensi ini untuk meraih jabatan digunakan untuk melindungi masyarakat namun malah disalahgunakan oleh sejumlah aparat negara.
Disistem pendidikan sekuler kapitalis ini juga hanya menghasilkan predikat lulusan yang jauh dari agama. Sehingga hanya mengusung kebebasan moral namun sistem sanksi dalam politik demokrasi menghasilkan hukum yang tumpul keatas(pada oligarki) tetapi sangat tajam kebawah (pada masyarakat). Alhsil gambaran sistem hari ini dapat memberikan fakta adanya kegagalan karena ketidakadilan dan kesengsaraan yang terjadi ditengah masyarakat akibat peran negara terabaikan.
Sangat berbeda ketika Islam yang menjadi profil negara, maka Islam memiliki sejumlah mekanisme untuk mencegah kemaksiatan dan pelanggaran hukum. Dalam Islam keadilan masyarakat sangat diperhatikan, baik sanksi berat mau pun ringan bagi pelaku kejahatan. Dalam daulah Islam aparat negara bertugas menjaga dan melindungi umat, bahkan dalam politik islam tidak mengenal adanya suap~menyuap yang jelas keharamannya.
Dari segi sistem pendidikan Islam akan melahirkan lulusan generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syaksiyah(kepribadian) Islam. Mekanisme seperti ini tentu tidak akan terlaksana manakala tidak menerapkan tiga pilar yang dapat membentuk masyarakat yang bertaqwa yaitu ketaqwaan individu, kontrol masyarakat dan penerapan syariat Islam dalam daulah khilafah Islamiah.
Waallahu'alam Bish-shawab.

No comments:
Post a Comment