Oleh : Asham Ummu Laila
Relawan Opini Andoolo Konawe Selatan
Presiden Republik Indonesia,Prabowo Subianto menyampaikan optimisme kuat terhadap tercapainya perdamaian di Gaza usai menandatangani Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Optimisme tersebut disampaikan presiden Prabowo dalam keterangannya kepada awak media di Davos,Swiss, pada kamis , 22 januari 2026.Prabowo juga mengatakan bahwa forum ini terbuka bagi negara-negara yang memiliki tujuan untuk perdamaian dan kemanusiaan . sementara Trump dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bop merupakan salah satu inisiatif perdamaian paling penting dan bersejarah. Trump juga menekankan bahwa Bop dihimpun dari para pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar untuk mendorong perdamaian global. (News Indonesia, 22 januari 2026)
Nama dan kemasannya terdenganr indah “peace” perdamaian. namun kenyataanya ditengah ramainya isu genjatan senjata dan Bop seranga militer Israel kembali menewaskan puluhan warga Palestina di jalur Gaza pada Rabu (4/2/2026) peristiwa ini menjadi salah satu hari paling mematikan sejak genjatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu. Mengutip laporan Aljazeer kamis (5/2/2026) sebanyak 23 warga Palestina tewas akibat tembakan artileri dan serangan udara Israel yang menghantam wilayah Gaza utara dan selatan . ototritas kesehatan setempat menyebutkan korban termasuk anak-anak,perempuan serta petugas medis yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.
Nyatanya Gencatan senjata dan Bop hanyalah alat politik negara kapitalis AS untuk melanggengkan penjajahan Israel atas Palestina dengan dalih menjaga perdamaian dan keamanan . AS dan sekutunya menempatkan diri sebagai mediator tetapi sekaligus memberi Israel ruang untuk menguasai secara strategis wilayah Palestina dan melanjutkan upaya militer. Upaya ini memperlihatkan kepentingan negara adikuasa lebih diutamakan dibandingkan keadilan bagi rakyat Palestina yang terhimpit.
Sementara itu penguasa negeri-negeri muslim cenderung memilih diam, tidak bersuara lantang untuk membela rakyat Gaza. Keengganan mereka ini menunjukan ketidak mampuan atau ketakutan menghadapi negara penjajah sekelas As dan Israel dengan dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik meluas.kemudian yang memperparah adalah bergabungnya negeri-negeri muslim dalam BoP dengan menegaskan sikap pragmatis tapi relah mengorbankan prisip ukhwah umat demi keamanan politik dan kepentingan nasional katanya.
Dalam konteks ini konflik Gaza sesungggguhnya bukan sekedar perang wilayah tetapi juga cermin kelemahan dunia muslim menghadapi tekanan kekuatan global sementara rakyat Palestina terus menanggung penderitaan tanpa ada perlindungan nyata melihat perkemabangan fakta yang terjadi hari ini , semakin jelas bahwa solusi yang dibutuhkan tidak hanya sekedar dengan kecaman diplomatif .
Sejatihnya Islam telah memberi arah sikap yang jelas . Dalam firman Allah SWT QS. Al-baqarah ayat 191 yang artinya berbunyi “ dan bunuhlah mereka ,dimana saja kamu jumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu: karena fitnah itu lebih besar bahayanya dari pada pembunuhan “ ayat ini menunjukan bahwa penjajahan, pengusiran dan penindasan terhadap kaum muslim merupakan kezoliman besar yang tidak boleh dibiarkan dengan kompromi tanpa batas tetapi hanya bisa diatasi dengan peperangan (jihad fisabilillah).
Oleh karena itu umat Islam harus memiliki sikap tegas dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi perdamaian semu ,gencatan senjata yang terus dilanggar menunjukan bahwa istilah perdamaian sering dipakai hanya sebagai strategi politik untuk melemahkan perlawanan dan menenagkan opini publik dunia karena itu bahwa perdamaian sejati tidak mungkin berdiri diatas penjajahan sikap zero toleran terhadap propaganda menipu menjadi penting agar umat Islam tidak kembali terjebak pada siklus harapan palsu selanjutnya kesatuan politik umat dibawah naungan negara Khilafah merupakan kebutuhan mendesak , kelemahan dunia muslim hari ini bukan sekedar kekurangan daya melainkan terpecahnya kepemimpinan dibawah bayang-banyang nasionalisme , negri muslim bergerak sendiri-sendiri sehingga mudah ditekan kekuatan global .
Padahal sejarah menunjukan ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan politik yang kuat hegemoni penjajah dapat dihentikan dan keamanan kawasan terjaga secara mandiri dan diperlukan upaya memahamkan umat dan penguasa serta kewajiban membela kaum tertindas termasuk melalui jihad. mestinya upaya ini terus didorong menuju persatuan negeri-negeri muslim di bawah kepempinan khilafah Islam sehingga keputusan politik militer dan ekonomi berada dalam satu perlindungan umat dengan demikian pemebelaan terhadap Palestina tidak lagi sebatas simpati tetapi jadi tanggung jawab kolektif seluruh umat Islam yang terorganisir dan dapat terwujud nyata . wallahu’alam bishawab

No comments:
Post a Comment