Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Skandal Epstein: Potret Kegagalan Sistem Sekuler Kapitalisme dalam Pusaran Elit Global

Thursday, February 05, 2026 | Thursday, February 05, 2026 WIB Last Updated 2026-02-05T15:39:31Z

Oleh : Hawilawati, S.Pd

(Muslimah Permata Umat)


Kasus Jeffrey Epstein bukan sekadar skandal individu,  ia adalah potret kegagalan sistem sekuler kapitalisme global. Di pusaran elit global di mana uang, kekuasaan, dan kepentingan saling melindungi, kejahatan besar bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa keadilan sejati. Meskipun Epstein pernah dipenjara melalui “sweetheart deal”, sebagian besar korban tetap tak memperoleh keadilan. 


Ia bukan anomali, melainkan produk sistem yang menyingkirkan nilai ilahi, memisahkan agama dari hukum.Hawa nafsu dan ambisi kekuasaan sebagai penguasa tunggal kehidupan manusia. Ketika manusia mengatur dunia sendiri, keadilan hanyalah ilusi, dan moralitas menjadi barang mewah yang bisa dibeli atau diabaikan oleh mereka yang berkuasa.


Sebagaimana dilansir Encyclopaedia Britannica (04 Februari 2026), Jeffrey Epstein lahir 20 Januari 1953, di Brooklyn, New York, AS, dan meninggal 10 Agustus 2019 di Manhattan. Ia adalah seorang pemodal Amerika dan terpidana pelaku kejahatan seksual yang dituduh melakukan perdagangan seks (trafficking) berulang terhadap perempuan dan anak perempuan. Melalui karier keuangannya yang sukses, Epstein menjadi seorang miliarder dan mengembangkan lingkaran sosial yang mencakup individu-individu yang sangat kaya, politisi terkemuka, dan bahkan keluarga kerajaan.


Sejak kematiannya pada 2019, meskipun otopsi resmi dan laporan Inspektur Jenderal (OIG) tahun 2023 menyatakan bahwa Epstein meninggal karena bunuh diri, narasi konspiratif mengenai dugaan “pembungkaman” tetap menguat dalam diskursus publik, khususnya di lingkungan pendukung MAGA dan komunitas penganut teori Pizzagate.


Awal tahun 2026 menandai fase ketiga skandal ini, yang secara metaforis membuka “Kotak Pandora” dan menyingkap keterlibatan elit global. Dikutip dari IDN Times (02 Februari 2026), Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada Jumat, 30 Januari 2026, mempublikasikan lebih dari tiga juta halaman dokumen tambahan sebagai bagian dari pelaksanaan Epstein Files Transparency Act, yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Trump pada 19 November 2025.



Epstein Files adalah kumpulan dokumen investigatif terkait kasus Jeffrey Epstein, termasuk catatan pengadilan, log penerbangan, dan buku kontak. Dokumen ini mencakup lebih dari 3 juta halaman, 2.000 video, dan 180.000 gambar yang dirilis oleh DOJ secara bertahap.


Apakah pengungkapan ini menandai awal runtuhnya kekuasaan elit global, atau sekadar skandal yang dibiarkan berlalu karena pelakunya berada di puncak kekuasaan?


*Kebebasan Semu dalam Sistem Sekuler*


Tidak dipungkiri bahwa dalam sistem sekuler kapitalisme, segala sesuatu diukur dengan materi dan keuntungan. Kejahatan yang menghasilkan kekayaan dan melibatkan elit kerap dipandang “abu-abu” atau bahkan ditoleransi, selama tidak mengganggu kepentingan kapital. Nilai kemanusiaan, hati nurani, dan moral dikalahkan oleh logika akumulasi keuntungan, seolah para kapital akan hidup abadi di dunia, sehingga semaunya saja mereka bertindak.


Inilah sistem batil sekuler kapitalisme telah menampakkan kerusakannya: sebagai sistem yang menafikan daya selamatnya sendiri bahkan akan hancur melalui tangan rakus dan kotor para pemujanya sendiri.


Menyoroti kontradiksi antara teori dan praktik: sistem sekuler kapitalisme mengklaim menjunjung HAM melalui tiga kebebasan utama: kebebasan berpendapat, berekspresi, dan beragama. Namun sejak kelahirannya, HAM inilah dijadikan dalih bagi dunia atas kendali sistem sekuler kapitalisme untuk melakukan tindakan bebas semaunya, tanpa titah Tuhan. Hal inilah yang justru membuka ruang rusaknya fitrah manusia.


Kasus Epstein menjadi bukti konkret bagaimana “kebebasan ekspresi” berubah menjadi legitimasi kejahatan, sementara hukum global tumpul terhadap pelaku elit. Sangat ironis bahwa daftar panjang kejahatan Epstein yang berlangsung lama justru tidak tersentuh hukum secara totalitas, bahkan melibatkan atau melindungi elit global.


*Masihkah Mengagungkan Sistem Sekuler Kapitalisme?*


Kengerian nyata terungkap ketika sebuah kejahatan tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk jaringan yang saling melindungi dan memperkuat aksinya. Inilah manifestasi kejahatan sistemik, di mana konspirasi dan interaksi elit menghasilkan akumulasi kerusakan yang bersifat struktural. 


Terkuaknya skandal Epstein seharusnya menjadi renungan kolektif sekaligus pemantik pertanyaan mendasar bagi negeri-negeri Muslim: apakah mereka masih akan menempatkan keyakinan dan harapan pada sistem sekuler kapitalisme ?. Padahal paradigma ini  secara empiris terbukti menciptakan kerusakan moral, sosial, dan politik, sekaligus melanggengkan dominasi elit global.


Pertanyaan ini harus diarahkan pada kesadaran ideologis umat dan para pemimpinnya. Masihkah negeri-negeri Muslim bersedia menjadi pengikut, atau bahkan pion, dari sistem yang jelas merusak, padahal virus sekularisme telah merasuk, melemahkan potensi umat, menggerogoti kedaulatan, dan menempatkan negeri dalam jerat dominasi melalui berbagai skema, mulai dari peperangan, hingga diplomasi damai yang memperdaya, serta perjanjian bilateral, multilateral, atau internasional yang sejatinya hanya melancarkan ekspansi dan kontrol elit global.


*Penutup*


Skandal Epstein menegaskan dengan gamblang bahwa kerusakan yang terjadi bukanlah penyimpangan personal, melainkan buah dari sistem yang menyingkirkan hukum Ilahi dari tatanan kehidupan. Al-Mawardi dalam Al-Aḥkam as-Sulṭaniyyah menegaskan bahwa rusaknya manusia dan masyarakat bersumber dari aturan hidup yang tidak berpijak pada syariat, karena kekuasaan yang terlepas dari rujukan wahyu niscaya melahirkan kezaliman dan penyalahgunaan wewenang.


Allah SWT memperingatkan, “Dan jika kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya” (QS. al-Mu’minun: 71).


Sistem sekuler kapitalisme, yang menjadikan manusia dan kepentingan sebagai penentu nilai, telah membuktikan kegagalannya dalam menundukkan elit global pada keadilan; inilah konsekuensi logis dari disingkirkannya hukum Allah, ketika kehendak manusia menggantikan wahyu, kejahatan elit terus berulang, keadilan dikalahkan oleh kekuasaan, dan peradaban yang melaju menuju keruntuhannya sendiri. Wallahu 'alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update