Oleh Iin Parlina
Ibu Rumah Tangga
BMKG memperkirakan, puncak musim hujan di daerah-daerah jawa barat variatif, di antara November 2025 hingga Maret 2026. Pemerintah Kabupaten Bandung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi akan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor.
Bersamaan dengan penyiapan langkah itu, Pemkab Bandung mengalokasikan Belanja Tidak Terduga(BTT) sebesar Rp 50 Miliar di 2026. Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah(BKAD) Kabupaten Bandung Yana Rosmiana menyampaikan, peruntukan BTT mencakup sejumlah hal. Salah satu di antaranya, penanggulangan bencana. "Berdasarkan Perbup, BTT untuk keperluan keadaan darurat,keperluan mendesak, pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya, penganggaran bantuan sosial yang tak dapat direncanakan sebelumnya," ucap yana, selasa 20 januari 2026.
Perihal keadaan darurat, ucap dia, meliputi bencana alam, bencana non alam, bencana sosial dan atau kejadian luar biasa, pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan. Selain itu, kerusakan sarana maupun prasarana yang dapat menganggu kegiatan pelayanan publik. Dalam hal penggunaan BTT untuk penanganan tanggap darurat, sebagaimana Perbup Nomor 71 Tahun 2023,mesti berlandaskan penetapan keadaan tanggap darurat bencana, "ucap yana.
Menurut BMKG, prakiraan curah hujan di kabupaten bandung berada di angka 200-300 milimeter sepanjang januari 2026,atau kategori menengah. Kepala Stasiun Geofisika kelas I Bandung Teguh Rahayu menyampaikan secara umun cuaca jawa barat termasuk Bandung Raya berada di masa musim hujan, dengan masa puncak bervariasi di tiap-tiap daerah, November 2025 hingga Maret 2026.
Inilah akibat di terapkannya sistem kapitalisme, sehingga yang berkuasa adalah para korporasi. Korporasi bebas mengeruk kekayaan alam meskipun akhirnya merusak lingkungan. Misi pemerintah mewujudkan masyarakat tangguh bencana seharusnya diganti dengan riayah dan pencegahan bencana dan menghentikan semua aktifitas pengrusakan lingkungan baik oleh individu maupun korporasi, sebab jika tidak tangguh bencana yang di maksud justru akan menjerumuskan rakyat pada bahaya dan ujung-ujungnya jadi korban atas kerusakan sistem kapitalisme. Bencana seharusnya membuat kita muhasabah dan memperbaiki diri. Sistem Sekuler yang telah menjauhkan islam dari kehidupan membuat alam dirusak oleh para korporasi atas ijin penguasa. Semakin tampak bahwa penguasa dalam sistem demokrasi tidak paham hakikat riayah, padahal seorang pemimpin harusnya sadar bahwa kepemimpinan dan jabatan akan menyeret ke neraka jika tidak menunaikan hak kepemimpinanya dengan benar.
Berbeda dengan islam, kita rindu dengan sosok pemimpin islam, sosok Amirul Mukminin Umar Bin Khattab yang sangat khawatir dengan kondisi rakyatnya. Di musim kelaparan, Amirul Mukminin ikut merasakan lapar. Khalifah Umar enggan dan tidak mau makan enak di tengah kondisi rakyatnya yang kelaparan. Bahkan di saat musibah penyakit melanda beliau terjun langsung siang malam mengurusi rakyatnya yang sedang diuji sakit . Bukan hanya keselamatan manusia dipikirkan, bahkan keselamatan hewan sekalipun diperhatikan. Pernyataan yang fenomenal dan melekat dalam ingatan kita bagaimana besarnya tanggung jawab Khalifah Umar atas kepemimpinanya. "Aku takut jika ada unta jatuh di irak lalu Allah menanyai diriku mengapa tidak meratakan jalan untuknya,." Allah SWT berfirman yang artinya, "Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan perbuatan tangan manusia." (TQS. Ar-Rum:41)
Dimanakah gerangan pemimpin adil dan berempati seperti itu? sudah selayaknya para pemimpin negeri ini berkaca dan koreksi diri. Hanya sistem islam kaffah yang mampu melahirkan pejabat amanah dan penuh empati.
wallahu alam bisshawab

No comments:
Post a Comment