Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konflik Guru-Murid, Cermin Rusaknya Dunia Pendidikan

Monday, February 02, 2026 | Monday, February 02, 2026 WIB Last Updated 2026-02-01T23:45:49Z



Oleh Rosita

Pegiat Literasi


 

Sebuah video keributan antara guru dan murid SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi viral di media sosial. Kronologis berita menyebut ketika guru SMK berinisial AS sedang berjalan di depan kelas dan mendengar salah satu siswanya menegur dengan kata-kata tidak pantas, AS reflek menampar siswa tersebut sebagai bentuk pendidikan moral. Sementara di sisi lain sejumlah siswa mengaku AS telah menghina salah satu murid dengan perkataan miskin yang memicu keributan. Akibat dari insiden ini kedua belah pihak berujung saling lapor ke Polda Jambi (detiknews.com, 17/01/2026)


Sementara itu Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyatakan peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak, karena perlindungan anak telah dijamin dalam Konstitusi dan UU perlindungan anak. (MediaIndonesia.com, 15/01/2026)


Konflik yang terjadi di dunia pendidikan  bukan kali ini saja terjadi, bahkan akhir-akhir ini sering disuguhkan  berita-berita yang cukup miris dengan adegan-adegan yang kurang bermoral di lembaga pendidikan. Kasus guru dikeroyok murid yang terjadi di Jambi ini bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini menunjukkan gagalnya dunia pendidikan saat ini dalam membentuk generasi yang beradab dimana sistem sekuler menjadi pemicunya, pada akhirnya melahirkan murid yang minim adab dan mudah meluapkan emosi dengan cara kekerasan.  


Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam mewujudkan  tujuan pendidikan melalui  Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023, pembentukan Tim Pencegahan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah, bekerjasama dengan kepolisian untuk menerapkan restorative justice, gerakan “Ayo Rukun” bahkan membentuk lembaga seperti KPAI pun telah negara lakukan. Akan tetapi kasus kekerasan di dunia pendidikan justru menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan, dengan lonjakan signifikan dari tahun ke tahun, terutama dalam bentuk perundungan (bullying), kekerasan fisik, dan kekerasan seksual. (https://www.google.com)


Kasus kekerasan semakin meningkat karena kedua belah pihak merasa apa yang mereka lakukan sudah dijalur yang benar. Disatu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tak dapat dimungkiri ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan. Inilah buah pendidikan sistem sekuler kapitalis dimana setiap orang merdeka atau bebas untuk melakukan apa saja yang menurutnya benar diperparah lagi dengan memisahkan aturan agama dari kehidupan.


Pendidikan sekuler kapitalis sangat berbeda dengan pendidikan dalam sistem Islam. Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah saw bersabda:  “Innama bu’itstu li’utammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan/kemuliaan akhlak). (HR. Imam Al-Baihaqi dan Imam Ahmad) 


Dalam sistem Islam, guru menempati kedudukan yang sangat mulia dan terhormat, guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu melainkan sebagai pewaris para nabi dalam membimbing umat menuju kebenaran dan memiliki akhlak mulia. Karena itu guru dihormati, dilindungi, dan diberi ruang untuk menjalankan secara optimal tanpa rasa takut, tertekan, apalagi kriminalisasi.


Selain itu negara yang menerapkan Islam sebagai sumber hukum memiliki pendidikan yang berbasis akidah Islam, yang dirancang untuk mencetak generasi yang beradab yakni generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan akal, ketundukan spiritual, dan keluhuran akhlak, Karena pendidikan tidak hanya mengedepankan penguasaan ilmu semata melainkan pembinaan kepada kepribadian islam menjadikan halal-haram standar berperilaku yanki setiap manusia akan memiliki syakhsiyah Islamiah. Dengan memiliki kepribadian Islam ini, peserta didik akan  menghormati orang tua, guru dan sesame serta menyadari tanggung jawabnya sebagai hamba allah dan khalifah di muka bumi.


Negara juga memiliki tanggung jawab penuh untuk memperhatikan kesejahteraan dan perlindungan seluruh rakyatnya termasuk para guru. Negara akan menerapkan sistem ekonomi islam yang menjamin terpenuhinya pemenuhan kebutuhan pokok rakyat sehingga guru dapat hidup layak dan focus menjalankan tugas mendidik, selain itu negara juga akan menerapkan sistem uqubat (sanksi hukum) yang tegas dan adil untuk menjaga keamanan serta mencegah kezaliman dalam penerapan hukum yang konsisten tidak ada pihak yang berani melakukan kekerasan intimidasi atau tindakan sewenang-wenang terhadap guru. Ketika terjadi perselisihan atau konflik di lingkungan pendidikan Islam mengatur penyelesaiannya dengan melibatkan pihak berwenang seperti qadhi atau aparat negara yang dijamin kemampuan mewujudkan kemaslahatan. 


Dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh baik dalam ekonomi Islam atau pun kurikulum Islam, maka suatu keniscayaan terwujudnya masyarakat sejahtera, murid dan guru akan memahami bahwa adab dan ilmu merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap individu muslim. Dengan begitu murid akan memuliakan guru (ta’zim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang.


Akhlak mulia bagian dari syariat Islam, oleh karena itu setiap muslim wajib memiliki akhlak yang mulia baik itu  masyarakat biasa ataupun pejabat. Ketika seorang muslim memiliki akhlak mulia mereka tidak akan berani melakukan kezaliman, karena pelaku kezaliman akan mendapatkan sanksi baik di dunia maupun akhirat. Seperti hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra: “Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan takutlah kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman  itu aka. menjadikan kegelapan  pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Oleh sebab itu hal yang mustahil untuk mewujudkan keharmonisan dalam dunia pendidikan jika masih mempertahankan sistem yang menjunjung tinggi kebebasan dan memisahkan aturan agama dalam kehidupan.


Wallahu ‘alam bis shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update