Oleh Riny
Ketika Engkau bersembahyang,
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan.
Partikel udara, dan ruang hampa bergetar,
Bersama-sama mengucapkan "Allah hu Akbar".
Bacaan Al-Fatihah dan Surah, membuat kegelapan terbuka tabirnya.
Setiap do'a, dan pernyataan pasrah membentangkan jembatan cahaya.
Tegak tubuh Alifmu, mengangkat ke pusat bumi.
Pukullah badanmu memandangi asal-usul diri.
Kemudian air sujudmu menangis.
Di dalam cinta Allah hati gerimis.
Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup.
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup.
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada Asal Mula setiap jiwa kembali.
Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri.
Pergi, sejauh-jauhnya. Agar sampai kembali.
Badan diperas. Jiwa dipampang tak kira-kira kalau diri pecah terbelah.
Sujud mengutuhkannya.
Sembahyang diatas sejadah cahaya.
Melangkah perlahan lahan ke rumah rahasia.
Rumah yang tak ada ruang, tak ada waktunya,
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun.
Oleh-olehmu dari sembahyang, adalah sinar wajah.
Pancaran yang tak terumuskan, oleh ilmu fisika.
Hatimu sabar mulia. Kaki seteguh batu karang.
Dadamu mencakra wala...
Seluas Aras 99
Rabu, 28 Januari 2026

No comments:
Post a Comment