Oleh. Ana Komunitas Muslimah Coblong
Presiden Amerika Donald Trump memperkenalkan apa yang disebut Dewan Perdamaian Dunia “Board of Peace” untuk masa depan Gaza pasca gencatan senjata. Hal ini dilakukan menindaklanjuti kesepakatan dari 20 poin pembangunan Gaza. Pada tanggal 23 Januari 2026, Jared Kusner, menindaklanjuti dengan mempresentasikan di World Economic Forum (WEF) di Davos, dia perkenalkan sebuah proyek ambisius "New Gaza". Di dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa akan dilakukan pembangunan besar-besaran dan tidak ada opsi lain, plan A tidak ada plan B benar benar dibuat sesuai kepentingan mereka, ini artinya Gaza dan Raffah benar benar akan dibuat sebagaimana apa yang dipersentasikan di dalam master plan tersebut. Yang dirancang adalah New Raffah dan New Gaza, kota-kota wisata yang sangat modern, kawasan industri bebas konflik militer dan akan dibangun ratusan ribu rumah permanen yang akan terintegrasi dengan energi, transportasi kemudian juga berbagai perangkat modern. (mediaindonesia.com)
Semua ini digagas sebagai sebuah peta jalan untuk memberikan masa depan saudara-saudara kita di Gaza dan Raffah. Tentu saja kita semua menyaksikan bahwa semua ini bukan untuk kepentingan saudara-saudara kita disana, jelas ini untuk kepentingan mereka. Mereka yang menyusun Board of Peace, mereka yang merancang master pembangunan pasca perang. Tentu kita sangat khawatir bahwa apa yang mereka rancang ini benar-benar terealisir. Karena nampaknya berbagai pemimpin atau berbagai pihak, atau pemimpin pemimpin di dunia Islam, mereka turut menandatangani Board of Peace. Termasuk pemerintah Indonesia juga ikut menandatangani Piagam Dewan Perdamaian Dunia, yang artinya mendukung apa yang dirancang oleh Trump.
Sementara, kita sangat paham yang diinginkan saudara saudara kita di Palestina, bukanlah memiliki kota-kota wisata, gedung-gedung pencakar langit yang sangat kental nilai-nilai sekuler dan liberal. Mereka juga pasti tidak menginginkan lepas dari penindasan oleh entitas zionis, kemudian mereka masuk kepada pemerintahan yang dikendalikan oleh negara negara-negara semacam Amerika ini. Yang tentu tidak akan membiarkan ketaatan total yang dimiliki penduduk Palestina akan berlangsung. Pasti akan diubah masyarakatnya menjadi masyarakat yang sekuler bahkan liberal. Maka ini adalah hal yang sangat mendasar yang mestinya bisa dipahami oleh kaum muslimin.
Jangan sampai kita menganggap bahwa peta jalan solusi dua negara ataupun adanya Dewan Keamanan sebagai jalan keluar untuk penindasan yang terjadi di Gaza dan juga untuk pembebasan Baitul Maqdis. Menteri Israel menyerukan untuk menghancurkan seluruh Gaza dengan dukungan penuh Amerika dan mereka bekerja sama dengan menyiapkan pembangunan New Gaza dengan membentuk Dewan Perdamaian Dunia untuk memperkuat posisi kendali politik internasional. Ini dilakukan sebagai siasat mengendalikan Gaza total.
Ambisi dua negara penjajah, Amerika dan Israel sudah jelas, ingin menghilangkan jejak genosida di sana dengan pembangunan kota Gaza yang baru dibawah kendali mereka sepenuhnya dengan menggandeng negara-negara muslim yang hanya dijadikan pelengkap legitimasi untuk memuluskan rencana mereka.
Wilayah Palestina, terutama Gaza adalah tanah milik kaum muslimin yang tentunya wajib dipertahankan dari entitas Zionis atau entitas manapun yang ingin merebut. Allah Subhanahu Wata'ala melarang kaum Muslim untuk tunduk dan patuh dan memberikan loyalitas kepada negara kafir, sebagaimana firmannya,
ولن يجعا الله للكا فرين على المومنين سبيلا
"Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kafir untuk menguasai kaum mukmin." (TQS. An Nisa [4] : 141)
Wajib bagi kaum Muslim serta para penguasanya untuk melawan makar AS dan Israel. Solusi hakiki untuk membebaskan Gaza dan Palestina bukan dengan negosiasi tapi dengan jihad dan khilafah.
Wallahua'lam bissawab

No comments:
Post a Comment