Oleh. Zulfa Husna Maab
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir sebagai cita-cita besar negara untuk mengatasi malnutrisi dan stunting pada anak-anak Indonesia. Secara normatif, niat ini adalah bagian dari amanah pemerintah dalam menjamin kesejahteraan generasi penerus — menyediakan asupan pangan sehat bagi pelajar dari jenjang PAUD sampai SMA serta ibu hamil dan menyusui. Namun kenyataannya, harapan itu justru tercoreng oleh serangkaian kasus keracunan massal yang terus muncul di berbagai daerah.
Fakta Keracunan MBG yang Tidak Bisa Diabaikan
Sejak awal pelaksanaan program MBG pada Januari 2025, laporan keracunan pangan terjadi di banyak wilayah dan melibatkan ribuan peserta. Data resmi maupun dari lembaga pemantau independen menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi daripada klaim resmi pemerintah:
• Badan Gizi Nasional (BGN) pernah menyatakan program ini menyumbang sekitar 48% dari total keracunan pangan nasional, dengan lebih dari 11.640 orang terdampak sampai November 2025.
• Data dari Kepala Staf Kepresidenan mengungkapkan lebih dari 5.000 siswa keracunan dari berbagai sumber pelaporan lembaga negara.
• Rapat di DPR mencatat 75 kasus dengan sekitar 6.517 siswa keracunan sejak awal program.
• Hingga awal 2026, insiden keracunan masih terjadi: di Cianjur, ratusan penduduk termasuk balita dan lansia dilaporkan keracunan, bukan hanya siswa pelajar.
Ironisnya, kasus terbaru menunjukkan bahwa dampaknya sudah merembet ke warga umum, termasuk balita dan lansia — bukti bahwa masalah ini jauh lebih serius dari sekadar “kejadian sporadis”.
Klaim pemerintah tentang persentase kecil tidak boleh mengaburkan fakta bahwa setiap kasus keracunan berarti nyawa terganggu, kesehatan rusak, dan kepercayaan publik runtuh. Bahkan masyarakat sipil dan kelompok masyarakat peduli telah menggelar aksi dan mengecam bahwa angka ribuan keracunan bukan sekadar statistik.
Mengapa Program MBG Gagal Menjamin Gizi Generasi
Ada sejumlah persoalan struktural yang terlihat dari fakta-fakta tersebut:
a. Pengawasan dan Standar Keamanan Pangan Lemah
Rangkaian kasus berulang menunjukkan bahwa standar higiene, sanitasi, dan monitoring di dapur MBG tidak memadai. Banyak dapur yang harus ditutup sementara, bahkan ada kasus yang dikaitkan dengan bakteri berbahaya pada bahan makanan.
b. Fokus pada Distribusi, Bukan Akar Masalah Gizi
MBG fokus utama pada distribusi makanan — yang sudah terlanjur diproduksi massal — alih-alih pada pemberdayaan masyarakat, pendidikan gizi, dan peningkatan akses terhadap pangan sehat secara berkelanjutan.
c. Jurang Antara Anggaran Besar dan Dampak Nyata
Program ini menggunakan anggaran publik yang sangat besar untuk menjangkau puluhan juta orang, namun terjadi ketidaksesuaian antara skala biaya dan kualitas pelaksanaan di lapangan. Orientasi kebijakan lebih bersifat politis-proyek daripada penyelesaian masalah kesehatan yang sistemik.
d. Ketidakmampuan Menangani Penyebab Struktural Gizi Buruk
Akar permasalahan gizi buruk tidak hanya persoalan asupan harian, melainkan terkait kemiskinan struktural, akses layanan kesehatan, tingkat pendidikan keluarga, serta keterjangkauan pangan bergizi. Tanpa menangani ini secara menyeluruh, program seperti MBG hanya memberi “obat sementara” yang mudah runtuh ketika tekanan realitas berlangsung.
Saatnya Umat Kembali pada Sistem Islam Kaffah
Berulangnya kasus keracunan MBG seharusnya menjadi tamparan keras bagi umat Islam bahwa sistem yang saat ini diterapkan tidak mampu menjamin keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan generasi. Ketika program sebesar apa pun selalu berujung pada kegagalan, kebocoran, dan pengorbanan rakyat kecil, maka persoalannya bukan lagi teknis, melainkan sistemik.
Islam tidak pernah memisahkan urusan ibadah dengan urusan kehidupan. Dalam Islam, pengurusan pangan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi adalah bagian dari tanggung jawab negara. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa negara dalam Islam tidak boleh lepas tangan, apalagi menyerahkan urusan vital seperti pangan dan gizi generasi kepada mekanisme pasar, tender proyek, atau kepentingan bisnis. Semua harus dikelola langsung oleh negara demi kemaslahatan umat.
Sistem kapitalisme yang hari ini diterapkan telah terbukti melahirkan:
• Ketimpangan ekonomi,
• Kemiskinan struktural,
• Komersialisasi layanan publik,
• Lemahnya pengawasan,
• Dan orientasi kebijakan berbasis proyek.
Akibatnya, rakyat terus menjadi korban. Anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat justru terancam sakit karena kelalaian sistem. Ini adalah bentuk nyata dari kegagalan ideologi sekuler-kapitalistik dalam mengurus kehidupan manusia.
Karena itu, umat Islam tidak boleh terus berharap pada perbaikan parsial dalam sistem rusak. Perubahan hakiki hanya akan terwujud jika umat kembali kepada sistem Islam secara kaffah.
Dalam sistem Islam, negara tidak boleh membiarkan satu pun rakyatnya kelaparan, sakit karena makanan, atau kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar. Semua dijamin sebagai hak, bukan belas kasihan.
Gizi Generasi Hanya Terjamin dalam Naungan Islam
Kasus keracunan MBG adalah bukti nyata bahwa sistem hari ini gagal melindungi generasi. Selama pengelolaan negara masih berlandaskan kapitalisme, selama kebijakan masih berorientasi proyek, selama kesejahteraan hanya menjadi slogan, maka tragedi serupa akan terus berulang.
Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam, termasuk dalam urusan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan. Sudah saatnya umat berhenti berharap pada sistem yang terbukti gagal, dan mulai melangkah menuju perubahan hakiki dengan menegakkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena hanya dengan itulah, generasi akan tumbuh bukan sebagai korban kebijakan, tetapi sebagai pewaris peradaban.
Wallahu a'lam bissawab

No comments:
Post a Comment