Oleh. Delfiani
Pegiat Literasi
Program Gizi yang Berubah Menjadi Ancaman
Program yang seharusnya menyelamatkan generasi justru berubah menjadi ancaman bagi keselamatan mereka. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi menekan stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, fakta berbicara sebaliknya ratusan bahkan ribuan anak justru menjadi korban keracunan makanan dari program tersebut.
Peristiwa ini bukan sekadar insiden teknis. Ini adalah cermin kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawab paling mendasar melindungi keselamatan rakyat, khususnya anak-anak sekolah. Ketika program negara berubah menjadi ancaman nyata, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya pelaksana teknis, melainkan sistem yang melahirkannya.
Data di lapangan menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Dalam periode 1–13 Januari 2026 saja, tercatat sedikitnya 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan MBG, dan jumlah itu terus bertambah hingga akhir bulan. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan yang terjadi bukan kebetulan melainkan sistemik. Jika sebuah program nasional berulang kali memicu kejadian serupa di berbagai daerah, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya pelaksana teknis, tetapi desain kebijakan secara keseluruhan.
Ironisnya, di tengah jatuhnya korban, anggaran MBG justru meningkat drastis dan bahkan menuai gugatan. Kondisi ini menimbulkan pertentangan, dana besar digelontorkan atas nama gizi dan masa depan generasi, tetapi keamanan dasar makanan saja tidak mampu dijamin. Keracunan massal menunjukkan lemahnya standar keamanan pangan dan buruknya pengawasan. Makanan yang seharusnya menyehatkan berubah menjadi sumber penyakit, bahkan berpotensi mengancam nyawa.
Proyek Instan yang Tak Menyentuh Akar Masalah
Kesenjangan antara tujuan program dan realitas pelaksanaan semakin terlihat jelas. MBG diklaim sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi generasi muda, tetapi orientasinya tampak lebih condong pada logika proyek distribusi cepat, target kuantitatif, dan serapan anggaran. Dalam kerangka ini, rakyat bahkan anak-anak direduksi menjadi angka statistik keberhasilan.
Padahal, persoalan gizi tidak berdiri sendiri. Itu terkait erat dengan kemiskinan struktural, rendahnya daya beli keluarga, mahalnya harga pangan, serta ketimpangan distribusi kebutuhan pokok. Selama keluarga hidup dalam tekanan ekonomi, pemberian makanan sesaat di sekolah tidak akan mampu menyelesaikan akar persoalan gizi secara berkelanjutan. Program semacam ini lebih menyerupai tambal sulam daripada solusi mendasar.
Buah Pahit Kebijakan dalam Sistem Kapitalisme
Fenomena ini mencerminkan watak kebijakan dalam sistem Kapitalisme, di mana negara cenderung berperan sebagai regulator, bukan pengurus langsung kebutuhan rakyat. Pemenuhan kebutuhan hidup diserahkan pada mekanisme pasar, sementara intervensi negara hadir dalam bentuk program jangka pendek yang reaktif. Akibatnya, kebijakan ini sering kali berfokus pada pencitraan keberhasilan administratif, bukan pada keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.
MBG menjadi contoh nyata bagaimana solusi instan digunakan untuk menutupi persoalan struktural yang lebih dalam. Ketika akar kemiskinan, ketimpangan, dan mahalnya pangan tidak disentuh, maka program bantuan apa pun akan selalu berisiko gagal atau tidak efektif. Lebih buruk lagi, jika pengawasan lemah, program tersebut justru dapat menimbulkan masalah baru yang membahayakan.
Islam Menawarkan Jaminan Nyata bagi Generasi
Berbeda dengan paradigma tersebut, Islam memandang negara sebagai raa’in wa junnah pengurus dan pelindung rakyat. Pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk pangan bergizi, bukanlah program opsional, melainkan kewajiban negara. Negara bertanggung jawab memastikan setiap individu rakyat dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara layak dan berkelanjutan.
Dalam sistem Islam kafah, negara menjamin kesejahteraan melalui mekanisme yang menyentuh akar persoalan pembukaan lapangan kerja luas, penetapan upah layak, distribusi pangan merata, serta pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan makanan. Selain itu, layanan kesehatan dan pendidikan disediakan secara gratis dengan fasilitas memadai, sehingga keselamatan dan masa depan generasi benar-benar terjaga.
Keracunan MBG yang berulang seharusnya menjadi alarm keras bahwa persoalan gizi generasi tidak dapat diselesaikan dengan kebijakan tambal sulam. Selama paradigma pengurusan rakyat tidak berubah, kegagalan serupa akan terus terulang dengan nama program yang berbeda. Generasi masa depan membutuhkan jaminan nyata, bukan sekadar janji dan proyek sesaat. Negara seharusnya hadir sebagai pelindung kehidupan, bukan justru menjadi sumber ancaman bagi mereka.
Wallahualam bissawab
No comments:
Post a Comment