Oleh Ummu Syifa
Ibu Rumah Tangga
Awal tahun ini, sejumlah wilayah di Indonesia kembali dilanda banjir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan setidaknya ada delapan provinsi di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua mengalami banjir besar. (lestari.kompas.com, 12/1/2026)
Pemerintah mengklaim bahwa banjir diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga mengupayakan untuk memodifikasi cuaca dan menormalisasi beberapa sungai agar aliran air tidak terhambat dan lancar.
Namun, Jika kita cermati bahwa banjir daerah perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan sebagainya bukan disebabkan karena curah hujan yang tinggi, melainkan kekeliruan tata kota dan ruang. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan tata kelola lahan dan tidak memperhitungkan dampak lingkungan. Wilayah yang subur yang seharusnya ditanami dan menghasilkan oksigen banyak dan daerah resapan air malah dijadikan untuk membangun pemukiman, sedangkan wilayah-wilayah yang tidak subur tidak dikelola dengan baik. Ketika musim hujan datang, air tidak bisa tertahan oleh pohon dan tanaman, air tidak terserap karena daerah resapan sudah beralih fungsi, sehingga banjir tidak bisa terelakkan.
Begitulah paradigma berpikir kapitalisme yang selalu mengedepankan keuntungan tanpa peduli dengan dampak lingkungan yang akan terjadi.
Ketika pun bencana banjir datang, penanganan dan solusi yang diberikan tidak menyentuh akar persoalannya. Padahal, seharusnya akar masalahnya yaitu mengembalikan Amdal (analisis menyeluruh dampak lingkungan) ketika membuat kebijakan dan tidak mementingkan hanya sekedar keuntungan saja.
Berbeda dengan Islam. Islam mengatur tata kelola kota dan ruang dengan meneliti dampak lingkungan. Islam menyandarkan kebijakan pembangunannya semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan umat jangka panjang, bukan keuntungan. Sehingga setiap kebijakan diupayakan tidak akan mendatangkan kerugian dan kesengsaraan umat.
Negara akan menata kota dan ruang sebagaimana mestinya, daerah-daerah resapan air akan dijaga dan dilestarikan, jika pun akan membuat pemukiman atau lahan untuk pembangunan akan digunakan tempat yang tidak cocok untuk pertanian, dengan begitu tidak akan berdampak kepada ekosistem dan kelestarian alam. Islam menciptakan ruang hidup yang nyaman, tidak hanya bagi manusia melainkan untuk seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Islam membawa rahmat bagi semesta alam. Allah Swt. berfirman "Dan tidaklah kami mengutus Engkau Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107).
Begitu pun jika terjadi bencana banjir, maka negara harus mengevaluasi segala sesuatunya dari mulai akar masalah, solusi maupun pencegahan jangan sampai terulang lagi di masa yang akan datang.
Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment