Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

New Gaza dan Dewan Perdamaian Gaza: Kendali Total AS–Israel atas Palestina

Monday, February 02, 2026 | Monday, February 02, 2026 WIB Last Updated 2026-02-02T12:40:55Z


Oleh Rumaisha

Pejuang Literasi


Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana mereka untuk membangun Gaza baru. Proyek pembangunan ini akan dimulai dari nol wilayah Palestina yang hancur. Merujuk salindia presentasi resmi, AS akan membangun puluhan gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak. (bbc.com, 23/1/2026)


Tragedi Gaza belum  berakhir. Di tengah puing-puing kehancuran dan luka kemanusiaan yang masih menganga, muncul narasi baru yang patut dicermati: wacana “New Gaza” dan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza. Alih-alih menghadirkan keadilan, skema ini justru menguatkan dugaan adanya proyek politik global untuk mengambil alih Gaza secara total di bawah kendali Amerika Serikat dan Israel.


Fakta yang  mengkhawatirkan dan seharusnya menjadi pemikiran kaum muslimin akan kondisi saudara-saudaranya di Gaza.


Pertama, sejumlah pejabat Israel secara terbuka menyerukan penghancuran total Gaza dan pengusiran paksa penduduknya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan selaras dengan tindakan militer brutal yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.


Kedua, Amerika Serikat dikabarkan telah menyiapkan konsep pembangunan “New Gaza”, sebuah proyek rekonstruksi yang muncul tanpa kejelasan nasib penduduk asli Gaza dan tanpa pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang telah terjadi.


Ketiga, AS menggagas Dewan Perdamaian Gaza, sebuah badan internasional yang digadang-gadang akan mengelola Gaza pascaperang. Namun, komposisi dan arah kebijakannya justru mengindikasikan penguatan kendali politik asing, bukan pemulihan kedaulatan Palestina.


Proyek Rekonstruksi atau Rekayasa Penguasaan?


Pembangunan “New Gaza” patut dicurigai sebagai upaya menghapus jejak genosida melalui narasi rekonstruksi. Dengan membangun ulang Gaza versi mereka, AS dan Israel seolah ingin menutup kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan, sekaligus menciptakan realitas politik baru yang menguntungkan kepentingan penjajah.


Pembentukan Dewan Perdamaian Gaza juga bukan langkah netral. Dengan merangkul beberapa negara Muslim, AS berupaya memberi legitimasi internasional atas proyek penguasaannya. Negara-negara tersebut berpotensi hanya dijadikan stempel moral untuk kebijakan yang sejatinya tetap dikendalikan Washington dan Tel Aviv.


Semua ini mengarah pada satu tujuan: menguasai Gaza secara penuh, baik secara politik, ekonomi, maupun keamanan, sambil menyingkirkan rakyat Palestina dari hak dasarnya atas tanah dan masa depan mereka.


Sikap Umat Islam


Seharusnya, Gaza dan Palestina bukan sekadar wilayah sengketa, melainkan tanah yang dirampas melalui penjajahan dan kekerasan. Dalam pandangan umat Islam, pembelaan terhadap Palestina adalah bagian dari kewajiban moral dan akidah untuk menolak kezaliman.


Islam mengajarkan agar umat tidak tunduk pada hegemoni kekuatan zalim yang nyata-nyata merugikan kaum tertindas. Karena itu, umat Islam perlu bersikap kritis terhadap setiap proyek internasional yang berpotensi melanggengkan penjajahan dengan kemasan perdamaian.


Perlawanan terhadap makar politik AS dan Israel tidak harus dimaknai sempit, tetapi dapat diwujudkan melalui persatuan sikap politik dunia Islam, tekanan diplomatik yang serius, dukungan kemanusiaan, serta perjuangan ideologis yang konsisten untuk membela Palestina.


Ingatlah, terhadap firman Allah Swt. yang berbunyi: "Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan bagi kafir untuk menguasai kaum Mukmin." (TQS. An-Nisa' [4]: 141)


Lebih dari itu, umat Islam perlu kembali memikirkan model kepemimpinan dan sistem politik yang benar-benar independen dari kepentingan Barat, agar pembelaan terhadap Palestina tidak berhenti pada kecaman, tetapi berujung pada solusi nyata dan bermartabat.


“New Gaza” dan Dewan Perdamaian Gaza bukan sekadar agenda rekonstruksi, melainkan bagian dari strategi penguasaan baru atas Palestina. Jika umat Islam lengah, proyek ini akan menjadi babak lanjutan penjajahan dengan wajah yang lebih halus. Karena itu, kewaspadaan, persatuan, dan keberanian bersikap menjadi kunci agar Gaza tidak kembali dirampas atas nama perdamaian semu.


Solusi untuk membebaskan Gaza dan Palestina bukanlah dengan negoisasi. Solusi satu-satunya adalah dengan mengusir Zionis Yahudi dari Palestina dengan jihad. Jihad hanya bisa ditegakkan oleh sebuah institusi global sebagai pemersatu mereka. Itulah khilafah Islamiyah, yang bisa menghimpun dan menggerakkan kaum muslimin untuk menumpas sekaligus mengusir Zionis dari bumi Palestina.


Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update