Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ingatlah Wahai Tentara Muslim : Gugur Membela Penjajah Sia-Sia, Gugur Membela Gaza Syuhada

Monday, February 23, 2026 | Monday, February 23, 2026 WIB

Oleh : Hawilawati
(Muslimah Permata Umat)


Sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia (21/01/2026), Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak membayar iuran sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,8 triliun untuk menjadi anggota Board of Peace (BoP). Sebagai gantinya, Indonesia berkomitmen memberikan kontribusi non-finansial berupa pengiriman hingga 8.000 personel pasukan perdamaian. Langkah ini diambil di tengah tekanan global agar negeri-negeri Muslim ikut serta dalam "stabilisasi" kawasan pasca-konflik berkepanjangan di Gaza.

Brigjen TNI Donny Pramono, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), menjelaskan dalam keterangannya yang dikutip dari Kompas.com (15/2/2026) bahwa kesiapan militer terus dipacu. Sebanyak 1.000 personel ditargetkan siap berangkat pada awal April 2026, sementara sisa pasukan lainnya akan disiagakan penuh pada akhir Juni 2026. Namun, Donny menggarisbawahi bahwa "siap berangkat" berarti pasukan dalam posisi standby untuk diterjunkan sewaktu-waktu, menunggu komando dalam kerangka misi internasional yang sedang digodok di Washington.

Namun, di balik retorika perdamaian ini, publik harus mencermati sejarah kelam sejak 1948. Palestina bukan sedang mengalami konflik biasa, melainkan genosida sistematis oleh Zionis Israel yang bertujuan menghapus eksistensi penduduk asli dari tanah mereka. Ironisnya, ketika dunia menuntut penghentian agresi, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump justru membentuk Board of Peace (BoP). Lembaga ini mengundang keterlibatan militer dari negeri-negeri Muslim bukan untuk mengusir penjajah, melainkan untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai "rekonstruksi" dan "stabilisasi".

Kekhawatiran akan adanya agenda tersembunyi kian nyata dengan mencuatnya rencana pembangunan pangkalan militer raksasa di jantung Gaza seluas 350 hektar. Berdasarkan laporan eksklusif dari The Guardian dan analisis mendalam dari Middle East Eye, pangkalan ini diproyeksikan menampung 5.000 personel International Stability Force (ISF). 

Fasilitas senilai 500 juta dolar AS ini direncanakan menjadi pusat saraf kontrol wilayah, di mana seluruh koordinasi keamanannya tetap terhubung langsung dengan pusat komando perang Israel. Jika pasukan Muslim ditempatkan di sana, mereka tidak akan berperan sebagai pembela rakyat Palestina, melainkan sebagai penjaga tembok infrastruktur yang melegitimasi pendudukan.

Tak hanya soal militer, BoP adalah instrumen neokolonialisme ekonomi. Dalam pertemuan perdana di Washington pada 19 Februari 2026, dipaparkan visi "New Gaza"—sebuah cetak biru yang akan mengubah tanah reruntuhan Gaza menjadi zona investasi eksklusif. Proyek ini diprediksi akan menguntungkan korporasi-korporasi besar yang dekat dengan lingkaran kekuasaan AS, termasuk rencana pembangunan resor mewah dan pelabuhan komersial yang dikelola oleh pihak asing. Kedaulatan Palestina sedang ditukar dengan ketergantungan ekonomi total. Dana bantuan sebesar 17 miliar dolar AS yang dijanjikan internasional nyatanya dikelola oleh badan bentukan Amerika, yang memastikan bahwa setiap sen yang mengalir harus sejalan dengan kepentingan politik sang mediator

Pertanyaan kritis yang harus dijawab oleh para pemegang kebijakan dan prajurit di lapangan adalah: jika TNI dikirim di bawah bendera BoP dan bermarkas di fasilitas yang dikoordinasikan dengan Israel, maka siapa lawan yang sebenarnya mereka hadapi? Jika rakyat Gaza kembali melakukan perlawanan sah untuk menuntut hak atas tanah mereka yang dirampas, apakah pasukan Muslim akan berdiri melindungi mereka, atau justru dipaksa untuk membungkam mereka atas nama "stabilitas"? Situasi ini sangat berbahaya karena menempatkan militer negeri Islam sebagai tameng bagi kepentingan imperialis, menjadikan mereka wasit dalam konflik yang secara historis tidak netral.

Dalam kacamata syariat Islam, kedudukan militer Muslim sangatlah tinggi dan mulia. Tugas utama mereka adalah menjadi pelindung bagi kaum yang lemah (mustadh'afin) dan menjaga kesucian tanah waqaf kaum Muslimin. Tidak ada landasan fiqih yang membenarkan seorang prajurit Muslim berada di bawah instruksi atau kepemimpinan pihak yang secara nyata memusuhi dan menjajah umat. 

Allah SWT telah memperingatkan dengan tegas dalam Al-Qur'an: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu); mereka itu satu sama lain adalah pemimpin bagi orang-orang kafir. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5]: 51).


Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan umat Islam terletak pada kemandirian kepemimpinannya. Menyerahkan urusan keamanan dan strategi militer kepada pihak kafir harbi yang memiliki agenda dominasi global adalah sebuah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri dan umat. Perdamaian sejati dalam Islam bukanlah perdamaian yang didikte oleh penjajah, melainkan perdamaian yang berdiri di atas tegaknya keadilan dan kembalinya hak-hak yang dirampas.

Oleh karena itu, solusi hakiki bagi penderitaan Palestina bukanlah melalui badan-badan internasional yang dikendalikan oleh kekuatan imperialis. Solusi itu terletak pada bersatunya seluruh negeri-negeri Muslim di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Hanya dengan kesatuan politik dan militer yang independen, umat Islam mampu membentuk kekuatan yang tidak dapat didekte oleh kepentingan asing. Kekuatan inilah yang akan membebaskan Palestina secara total, mengusir penjajah tanpa harus mengemis pada meja perundingan yang penuh tipu daya.

Wahai para komandan dan prajurit TNI yang gagah berani, ingatlah bahwa sumpah kalian adalah untuk membela kebenaran. Jangan biarkan seragam kalian dinodai oleh agenda-agenda neokolonial yang hanya ingin memadamkan api perlawanan di Palestina. Ikut serta dalam misi yang dikendalikan oleh musuh-musuh Islam bukan hanya tindakan yang sia-sia di hadapan Allah, tetapi juga akan dicatat dalam sejarah sebagai bentuk pengkhianatan terhadap darah para syuhada. Surga menanti mereka yang teguh berdiri membela saudara seiman, sementara kehinaan menanti mereka yang menjadi alat bagi para penindas.

“Ya Allah, lindungilah para prajurit kami dari segala bentuk makar dan tipu daya musuh. Teguhkanlah hati mereka agar senantiasa berada di barisan pembela kaum yang dizalimi. Satukanlah langkah umat ini untuk menegakkan keadilan di bawah naungan syariat-Mu, dan jadikanlah kami saksi atas kemerdekaan Palestina yang sejati. Wallahu 'alam bish-shawab.”

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update