Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tren Game Online Mengancam Generasi Muda

Sunday, January 11, 2026 | Sunday, January 11, 2026 WIB Last Updated 2026-01-11T05:36:09Z


Oleh : Samudra Ode 


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, game online telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Kehadirannya tidak hanya memengaruhi cara manusia bersantai, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku sosial. 


Dalam realitas inilah, game online memiliki dua mata sisi yang berbeda. Satu sisi digunakan sebagai sarana hiburan, namun di sisi lain bisa menjadi inspirasi kekerasan dan pembunuhan.

Akibat terinspirasi game online, berbagai kasus kekerasan terjadi pada anak  maupun remaja. Diantaranya adalah kasus bullying, bunuh diri, teror bom di sekolah bahkan pembunuhan.


Dilansir dalam Regional Kompas (29/12/2025), Seorang anak kelas VI SD berinisial AL di Medan Sumatera Utara tega membunuh ibu kandungnya F (42) karena sakit hati. Karena  ibunya menghapus game online miliknya. Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak mengatakan, tersangka masih umur 12 tahun, terinspirasi membunuh ibunya dari game online  dengan  melukai ibunya dengan 26 luka tusuk.


Orientasi Kepentingan


Kasus di atas menunjukkan bahwa kemudahan akses game online tanpa batasan usia membawa dampak serius terhadap kesehatan mental anak. Tanpa pengawasan keluarga yang kuat dan regulasi negara yang tegas, game online berpotensi merusak psikologi anak yang belum matang secara emosional dan kognitif.


Ruang digital pada hakikatnya tidak netral. Game online dikemas dengan nilai dan narasi tertentu—menonjolkan individualisme, kompetisi ekstrem, serta penyelesaian masalah melalui kekerasan bahkan pembunuhan. Sistem hadiah dan pencapaian yang terus-menerus dirancang untuk mengikat pemain, membentuk pola pikir dan pola sikap generasi muda agar terbiasa dengan logika instan, agresif, dan adiktif.


Lebih jauh, ruang digital telah dijadikan mega proyek oleh kapitalisme. Game online dirancang semenarik mungkin demi memaksimalkan keuntungan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi generasi. Selama profit terus mengalir, kerusakan moral, mental, dan sosial generasi muda bukanlah prioritas utama sistem ini.


Dalam konteks ini, negara tampak gagal menjalankan perannya sebagai pelindung generasi. Ketiadaan kontrol yang ketat, batasan usia yang jelas, serta regulasi efektif terhadap konten kekerasan di ruang digital menunjukkan lemahnya keberpihakan pada keselamatan anak. Tanggung jawab justru dialihkan sepenuhnya kepada keluarga, padahal ancaman ini bersifat sistemik dan hanya dapat diselesaikan melalui intervensi negara yang serius, tegas, dan berpihak pada masa depan generasi.


Islam Solusi Hakiki


Kerusakan moral dan spiritual yang terjadi hari ini, termasuk melalui ruang digital. Bukan persoalan individu semata, melainkan persoalan sistemik.


Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh sebagai ra’in (pengurus) untuk menjaga agama, jiwa, dan akal generasi. Negara tidak boleh netral terhadap berbagai sarana yang berpotensi merusak, terlebih yang mengarah pada kekerasan dan pembunuhan. 


Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu alasan yang benar.” (QS. Al-Isra’: 33). 


Ayat ini menegaskan kewajiban mencegah segala jalan yang mengantarkan pada hilangnya nyawa dan rusaknya kemanusiaan. Rasulullah SAW juga menegaskan prinsip pencegahan bahaya dalam sabdanya: “Tidak boleh melakukan sesuatu yang berbahaya dan menimbulkan bahaya bagi orang lain.” (HR. Ibnu Majah, 2341). Prinsip ini menjadi dasar ideologis bahwa segala aktivitas, media, dan sistem yang menimbulkan mudarat—termasuk di ruang digital—harus dihentikan. Dengan demikian, segala sarana yang berpotensi melahirkan kerusakan dan pembunuhan merupakan kewajiban negara untuk dicegah secara menyeluruh.


Islam menawarkan solusi hakiki melalui tiga pilar utama yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.


Pertama, ketakwaan individu.

Islam membentuk individu dengan kesadaran hidup yang berorientasi akhirat. Allah SWT berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain bermain-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An‘am: 32). 


Ayat ini mengarahkan setiap Muslim untuk menimbang setiap aktivitas, termasuk aktivitas digital, dengan standar halal-haram dan manfaat-mudarat. Ketakwaan inilah yang menjadi benteng awal agar individu tidak larut dalam hiburan yang merusak.


Kedua, kontrol masyarakat.

Individu yang bertakwa harus didukung oleh lingkungan yang sehat. Orang tua, sekolah, dan komunitas memiliki peran strategis dalam mengontrol dunia digital anak dan remaja. Orang tua bertugas menanamkan nafsiyah Islam, agar anak mampu memilih konten yang bermanfaat dan menjauhi yang merusak.


 Sekolah berperan menyeimbangkan interaksi sosial antara dunia nyata dan dunia digital, sehingga anak tidak terisolasi dalam dunia virtual. Sinergi masyarakat menjadi benteng kedua dalam menjaga generasi.


Ketiga, perlindungan negara.

Ketakwaan individu dan kontrol masyarakat tidak akan cukup tanpa peran negara. Kapitalisme menjadikan ruang digital sebagai ladang keuntungan, tanpa peduli pada kerusakan generasi. Karena itu, negara wajib hadir secara ideologis dengan melindungi rakyat dari dominasi konten dan platform yang merusak. 


Negara harus membangun platform digital mandiri melalui investasi negara, melibatkan kampus dan pesantren, serta mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan umat. Generasi tidak boleh hanya dijadikan konsumen digital, tetapi harus dididik menjadi pembangun peradaban.


Ketiga pilar ini hanya dapat berjalan efektif jika negara menerapkan sistem Islam secara menyeluruh dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan pergaulan. Dengan Islam kaffah, perlindungan generasi menjadi tanggung jawab kolektif yang terstruktur, bukan sekadar nasihat moral. Inilah solusi hakiki Islam dalam menyelamatkan generasi dan menjaga masa depan umat.


Wallahu A'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update