Oleh Lilis Sumyati
Pegiat Literasi
Arus deras informasi digital adalah tantangan besar bagi generasi muda. Bagaimana tidak, digitalisasi saat ini memicu munculnya berbagai problematika. Dimulai dari masalah kesehatan mental, kecanduan game online, perundungan, kekerasan seksual hingga berujung bunuh diri. Tingkat screen time yang tinggi pun berpotensi menjadi melalaikan mereka dari peran nyata kehidupan.
Adapun, Screen time atau jumlah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menggunakan perangkat dengan layar elektronik kini makin meningkat di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan (PMK), Pratikno mengamati data yang menunjukkan rata-rata screen time orang Indonesia mencapai 7,5 jam per hari. Namun, dalam hal kemampuan literasi digital remaja masih tergolong rendah. ( jejakpersepsi.com, 27/11/2025)
Generasi muda ditengah derasnya digitalisasi ini kerap terperangkap dalam mekanisme algoritma digital. Dimana mereka hidup dalam arus informasi yang mengalir cepat dan dapat diakses setiap saat. Sayangnya, algoritma tersebut cenderung lebih mengutamakan konten yang ringan, bahkan sebatas hiburan, sehingga mendorong generasi muda untuk terus mengonsumsinya berulang tanpa mempertimbangkan kualitasnya.
Maka itu, paparan berlebihan terhadap konten yang bersifat instan dan minim tantangan berpotensi menimbulkan ketergantungan. Meskipun mampu memberikan hiburan sesaat, konsumsi yang tidak terkontrol tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan kelelahan kognitif, sehingga berpengaruh pada penurunan kemampuan berpikir kritis serta konsentrasi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang lebih kompleks.
Di sisi lain, algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memicu emosional atau bersifat kontroversial, sehingga informasi mengenai akar permasalahan suatu peristiwa sering kali terabaikan. Kondisi ini berkontribusi pada menurunnya tingkat kesadaran politik generasi muda. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa keburukan sistem kapitalisme semakin terekspos melalui unggahan warganet yang bersumber langsung dari realitas di lapangan. Namun demikian, paparan tersebut belum sepenuhnya mampu membangun daya kritis yang mendorong analisis mendalam serta pemahaman menyeluruh terhadap akar persoalan. Publik kerap menunjukan kemarahan atas ketidakadilan dan kezaliman penguasa, tetapi masih belum mampu berpikir serius untuk menghentikan kezaliman itu.
Generasi muda kini menjadi sasaran utama bagi perkembangan berbagai produk digital. Sekitar 35% dari kelompok ini tercatat menghabiskan waktu lebih dari 6 jam per hari untuk mengakses media melalu beragam platform. Fakta tersebut menunjukan bahwa kehadiran media digital telah menciptakan ketergantungan teknologi di kalangan generasi muda.
Alhasil, beragam konten yang dikonsumsi generasi muda perlahan membentuk cara mereka berpikir dan memandang dunia. Mereka tumbuh dalam ekosistem digital yang sangat rentan terhadap pengaruh luar. Media digital kini berfungsi sebagai pola atau acuan dalam perilaku, gaya hidup, dan cara berpikir mereka. Hiburan yang terus hadir secara digital seolah membentuk ikatan psikologis yang kuat, sementara pengaruh sistem kapitalisme sekuler menembus tidak hanya ranah maya, tetapi juga kehidupan nyata sehari-hari.
Arus pemikiran sekuler dan liberal yang mendominasi media sosial semakin kuat, sehingga generasi muda membutuhkan benteng ideologis yang kokoh. Benteng pertama tersebut adalah cara pandang sahih yang bersumber dari Sang Khalik, bukan dari pihak lain. Sangat penting bagi generasi muda untuk menjadikan ideologi yang sahih sebagai dasar hidup mereka, bukan hanya berangan-angan tentang perubahan namun tetap mengadopsi solusi parsial, karena hal tersebut berisiko menjadikan mereka aktivis yang belum matang dan mudah terpengaruh kepentingan politik atau jabatan.
Dengan demikian, pengaruh digital yang merusak pola pikir generasi Islam hanya dapat diatasi melalui penerapan ideologi Islam yang menuntun proses berpikir manusia sesuai dengan fitrahnya. Ideologi Islam yang berlandaskan akidah Islam menjadikan cara berpikir yang menjadi sarana untuk memahami keimanan dan posisi manusia di dunia. Berpikir mendasar tentang simpul besar menjadi pintu untuk menemukan kembali hakikatnya sebagai manusia, yakni tentang dari mana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan/dilahirkan ke dunia, dan akan kemana manusia setelah hidup di dunia, serta apa hubungan ketiganya.
Akidah Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat. Akidah menjadi dasar bagi terbentuknya pemikiran dan aturan yang mengatur kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Ruang lingkupnya meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, hingga peradilan. Generasi muslim meyakini bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah dan berkomitmen untuk menerapkan ajaran-Nya dalam urusan kehidupan sehari-hari. Mereka pun percaya bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, sekaligus teladan terbaik dalam mengatur persoalan masyarakat, sehingga berusaha sungguh-sungguh meneladani beliau.
Oleh karena itu, kemampuan berpikir yang berlandaskan akidah Islam pada generasi muslim menjadi senjata utama dalam menghadapi dominasi digital. Seorang muslim akan memanfaatkan teknologi digital untuk meraih ridha Allah dan membawa keberkahan bagi umat Islam. Mereka tidak akan terjebak dengan konten ringan yang mengalihkan tujuan hidupnya di dunia.
Dengan pola pikir Islam, generasi muda mampu menyaring ide dan perilaku negatif yang disuguhkan algoritma, bahkan mampu mengkritisi dan menentang pemikiran yang keliru melalui dakwah dan penerapan prinsip-prinsip Islam. Oleh karena itu, permasalahan derasnya arus informasi digital hanya bisa diatasi oleh penerapan syariah Islam kaffah yang akan menjaga akidah umat agar pola pikir generasi sesuai dengan akidah Islam.
Wallahu’alam bissawab.
No comments:
Post a Comment