Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Setahun Palestina dalam Pusaran Konspirasi: Siapa Diuntungkan, Siapa Dikorbankan?

Tuesday, January 13, 2026 | Tuesday, January 13, 2026 WIB Last Updated 2026-01-13T03:31:52Z

 



Oleh : Kursiyah Azis (Aktivis Muslimah)


Sudah setahun dunia menggulirkan narasi “penyelesaian Palestina”. Pertemuan internasional pun silih berganti, lalu resolusi dikeluarkan, kemudian pernyataan keprihatinan disampaikan secara terbuka dan disaksikan pula oleh seluruh dunia. Namun sayangnya ada satu hal tak pernah berubah, yakni palestina tetap dijajah, darah kaum Muslim terus ditumpahkan, dan yang lebih miris, Masjid Al-Aqsha masih berada di bawah ancaman Zionis. Inilah sesungguhnya ironi besar dari apa yang disebut oleh dunia sebagai “proses damai".


Dengan berkaca dari kondisi demikian, Umat Islam patut bertanya dengan jujur: apakah setahun belakangan ini benar-benar membawa Palestina lebih dekat pada pembebasan, atau malah  justru semakin menjerumuskannya dalam pusaran konspirasi global?


Dikutip dari ANTARA.com.(27/12/2025) Kementerian Luar Negeri Chile pada Jumat telah mengecam keputusan Israel untuk mendirikan 19 permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki, sebab hal tersebut dapat merusak upaya untuk mengamankan perdamaian yang adil.


Sebagaimana diketahu bahwa Kabinet Keamanan Israel menyetujui pembangunan permukiman baru, mereka mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB pada 2016 yang memerintahkan Israel untuk menghentikan kegiatan pembangunan permukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki.


*Narasi Damai yang Kerapkali Meninabobokan Umat*


Apa yang disebut penyelesaian Palestina sesungguhnya hanyalah narasi damai yang meninabobokan umat. Sebab pada hakikatnya dunia internasional tidak akan pernah menempatkan penjajahan sebagai akar masalah. Palestina akan selalu diposisikan seolah pihak yang berkonflik setara dengan penjajahnya. Padahal, realitasnya sudah sangat jelas: Palestina adalah tanah yang dirampas, rakyatnya diusir, dan hak-haknya diinjak-injak.


Sementara itu Amerika Serikat dan sekutunya asyik berbicara tentang kemanusiaan, namun di saat yang sama justru menjadi penyokong utama senjata Zionis untuk melancarakan penjajahan yang sengaja ia ciptakan. Tak hanya itu PBB pun mengeluarkan resolusi, tetapi membiarkan veto melumpuhkan keadilan. Inilah wajah sistem dunia hari ini. Dimana hukum tunduk pada kepentingan, bukan lagi pada kebenaran.


*Konspirasi Jahat terhadap Aksi Perlawanan*


Selain narasi damai yang terus di ulang, pola lama pun ikut di ulang juga. Segala aksi Perlawanan Palestina kerapkali dicap terorisme, sementara kekerasan yang dilakukan para penjajah justru disebut hak membela diri. Media global memainkan peran besar dalam memutarbalikkan fakta. Penjajah digambarkan sebagai korban, sedangkan rakyat yang mempertahankan tanahnya dianggap ancaman.


Lebih menyakitkan lagi, ketika sebagian penguasa negeri-negeri Muslim justru ikut larut dalam skenario jahat tersebut. Normalisasi hubungan dengan Zionis dilakukan terang-terangan dan disaksikan dunia dengan tanpa canggung. Dunia seolah puas hanya dengan kecaman yang terlontar dan Isu Palestina direduksi menjadi bantuan kemanusiaan semata, seolah-olah problemnya hanya soal makanan dan obat-obatan, bukan penjajahan yang sistemik dan terencana.


*Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dikorbankan?*


Yang diuntungkan dari setahun pusaran konspirasi ini bukanlah rakyat Palestina. Akan tetapi  Zionis Israellah yang diuntungkan. Penjajahan terus berjalan di bawah perlindungan internasional. Selain itu Negara-negara kapitalis juga diuntungkan, karena stabilitas semu kawasan tetap terjaga sesuai kepentingan mereka. Lalu Industri senjata pun juga diuntungkan, karena konflik berkepanjangan adalah sumber keuntungan yang cukup besar bagi penyedia alat tersebut.


Adapun yang dikorbankan adalah rakyat Palestina. Mulai dari anak-anak yang kehilangan masa depan, ibu-ibu yang kehilangan keluarga, dan generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang bom dan blokade. Lebih luas lagi, yang juga dikorbankan adalah kehormatan umat Islam, karena tanah suci mereka diperlakukan seolah barang tawar-menawar politik.


*Gagalnya Solusi Sekuler*


Setahun belakangan ini seharusnya cukup menjadi bukti bahwa solusi sekuler telah gagal total. Dimulai dari meja perundingan, resolusi internasional, dan diplomasi tanpa kekuatan, semua itu hanyalah ilusi. Olehnya itu maka, selama solusi dirancang oleh sistem kapitalisme global yang berpihak pada penjajah, maka hasilnya tak akan pernah membebaskan Palestina.


Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berharap pada keadilan dari sistem zalim. Allah SWT telah mengingatkan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah rela hingga kaum Muslim mengikuti jalan mereka.


*Solusi Islam: Jalan Pembebasan Sejati*


Islam memandang Palestina sebagai tanah wakaf kaum Muslim, bukan sekadar wilayah sengketa. Pembebasannya bukan pilihan, melainkan kewajiban syar’i. Karena itu, solusi Islam bukanlah gencatan senjata semu atau normalisasi memalukan, melainkan pembebasan total dari penjajahan.


Sehingga dengan demikian maka, solusi Islam akan meniscayakan terwujudnya persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan Islam yang sah (Khilafah), yang memiliki keberanian politik dan kekuatan militer. Sehingga dengan begitu maka pemutusan total hubungan dengan entitas penjajah, dalam bentuk apa pun akan mudah tercapai tanpa keraguan akan risiko dalam bidang apapun.


Dengan sistem islam, aktivitas pengembalian kesadaran umat merupakan suatu kewajiban agar umat islam paham bahwa akar persoalan Palestina adalah isu akidah, bukan sekadar isu kemanusiaan. Olehnya itu maka, umat seharusnya menyadari bahwa penggunaan kekuatan nyata untuk melindungi kaum Muslim dan tanah suci mereka adalah sebuah kewajiban yang harus segera ditunaikan.

Sejarah Islam telah membuktikan bahwasanya Palestina hanya benar-benar aman ketika berada di bawah naungan Islam. 


Maka, setahun pusaran konspirasi ini seharusnya menyadarkan umat bahwa ketika umat terus berharap pada solusi buatan penjajah, maka selama itu pula palestina akan terus dikorbankan.

Sudah saatnya umat bangkit, menyatukan barisan, dan kembali pada Islam sebagai satu-satunya jalan pembebasan hakiki. Sebab Palestina tidak butuh air mata belaka, tetapi kekuatan Islam yang memerdekakannya sebagaimana dahulu di bebaskan oleh Salahufdin al-Ayubi di bawah kepemimpinan islam kaffah. Wallahu alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update