Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Belum hilang dari ingatan, seorang anak perempuan (12 th) di Medan membunuh ibunya. Tak luput pula berita tewasnya seorang ayah di tangan anak laki-lakinya mewarnai betapa bangunan keluarga begitu rapuh.
Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil dalam masyarakat. Dari keluargalah awal sebuah generasi terbentuk. Bangunan sebuah keluarga haruslah kuat supaya mampu menghasilkan generasi tangguh. Ketangguhan keluarga ditentukan oleh landasan pembangun keluarga. Landasan pembangun itu adalah aqidah. Aqidah-lah yang menjadi dasar pemikiran semua anggota keluarga, yang akan menguatkan ketahanan keluarga. Sementara di sisi lain, tumbuh suburnya kapitalisme yang ditopang oleh negara dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara sangat membawa pengaruh bagi setiap keluarga. Kapitalisme yang menjunjung tinggi empat macam kebebasan yaitu kebebasan beraqidah, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan kepemilikan telah membuat eksistensi sebuah keluarga terancam, bahkan rapuh sampai hancur.
Keluarga Indonesia saat ini berada dalam kerapuhan dan juga malapetaka. Kondisi kerapuhan dan malapetaka ini pun tnengah mengancam keluarga Indonesia. Kasus kekerasan dalam rumah tangga menggunung. Ketidakharmonisan rumah tangga sudah menjadi berita sehari-hari dan bahkan perceraian seringkali tak bisa dihindari. Trend perceraian yang terus meningkat beberapa tahun terakhir selayaknya mendapat perhatian serius semua kalangan. Tidak main-main, Indonesia menempati ranking teratas dengan jumlah perceraian tertinggi di dunia. Setidaknya perceraian terjadi setiap jam nya. Dari data tersebut juga terungkap bahwa gugat cerai (khulu’) dan angka cerai talak turut mengisi ruang data perceraian. Tentunya meningkatnya kasus perceraian berdampak besar bagi masa depan bangsa ini.
Serangkai dengan kondisi tersebut, anak-anak lah yang menjadi korban utama. Pola asuh dan proses pendidikan dalam keluarga jelas terganggu. Kualitas kehidupan anak-anak bangsa kian memburuk. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat berbagai masalah aduan anak terkait perceraian. Korban hak asuh, pelarangan akses bertemu orang tua, penelantaran ekonomi 124 kasus, anak hilang, penculikan keluarga, menjadi beberapa catatan yang menorehkan luka dalam pengasuhan. Belum lagi, filidasi dan kekerasan seksual turut menyakiti ruang hidup generasi.
Tak terbantahkan, kondisi rapuhnya keluarga sangat berpengaruh pada kualitas generasi. Faktor keluarga adalah faktor utama yang berkontribusi pada semakin banyaknya generasi yang terjerumus penyimpangan perilaku semisal narkoba, geng motor, LGBT dan pergaulan bebas.
Urgensi Ketahanan Keluarga
Ketahanan keluarga merupakan salah satu pilar katahanan masyarakat dan bangsa. Dan ini tidak bisa dibebankan pada kualitas individu dalam memerankan diri di masing-masing keluarganya. Ketahanan keluarga pun merupakan satu persoalan yang sangat penting, baik bagi keluarga itu sendiri maupun terhadap bangunan masyarakat. Oleh karena itu, ketahanan keluarga harus dijaga kekuatannya. Demikian juga pemeliharaan kodrat perempuan demi terwujudnya fungsi keluarga. Saat ini bekerjanya perempuan akibat tidak terwujudnya kesejahteraan keluarga sebagai akibat dari sistem ekonomi kapitalis. Tata kehidupan yang diatur dengan kapitalisme juga membuat para perempuan terpesona dengan jebakan pemberdayaan perempuan. Kodrat perempuan sebagai ibu, istri dan hamba Allah menjadi tidak terjaga dan terpelihara dalam sistem kapitalis saat ini yang tidak sama sekali menjamin kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Sistem ekonomi Kapitalis saat ini tidak memberikan jaminan kesejahteraan pada masyarakatnya termasuk keluarga sehingga para perempuan beramai.ramai turut bejibaku mencari nafkah yang notabene itu adalah kewajiban kaum laki laki. Sangat.berbeda dengan Islam, sistem Islam menjamin para perempuan menjalankan peran kodratinya dengan optimal. Fungsi keluarga akan dapat terpenuhi dengan optimal. Dengan demikian ketahanan keluarga juga akan terjaga. Keluarga yang kuat akan membentuk masyarakat yang kuat negara yang hebat.
Butuh Soko Guru untuk Merealisasikan Ketahanan Keluarga
Fungsi religi, edukasi, proteksi, ekonomi, sosialisasi, afeksi, reproduksi dan rekreasi yang merupakan fungsi-fungsi dalam keluarga mustahil diwujudkan oleh masing-masing keluarga tanpa peran besar negara. Negara sebagai sebuah institusi besar sangalah berperan dalam menangani berbagai hal yang sangat dibutuhkan warga negaranya. Negara sangat diharapkan menyediakan seluruh perangkat dan prasarana agar setiap individu dan setiap keluarga mampu memerankan fungsi-fungsinya secara ideal, tanpa gangguan dan tidak tumpang tindih. Fungsi ekonomi misalnya, bisa terjalan bila negara menopangnya dengan memberikan pendidikan untuk menjelaskan siapa saja pihak yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Negara juga harus menyediakan program dan sarana pelatihan agar individu terampil bekerja, membuka lapangan kerja, memberi kemudahan permodalan dan pengembangan usaha . Negara bahkan dituntut menghapus semua praktik kecurangan di dunia usaha. Karenanya, mengatasi kerapuhan keluarga yang dipicu faktor kemiskinan tidak bisa dilakukan dengan mendorong lebih banyak kaum ibu untuk bekerja. Justeru kebijakan ini akan berlawanan dengan perwujudan fungsi keluarga yang lain yang melibatkan ibu dan memelintir peran ibu yang seharusnya dijalankan. Negara lah yang mampu membangun dan menjamin keberlangsungan ketahanan keluarga, yang jika ketahanan keluarga ini berjalan, tentunya ini akan membangun ketahanan Nasional negara.
Jika paradigma program-program negara terkait keluarga yang menempatkan setiap individu dalam keluarga hanya sekedar sebagai Sumber Daya Ekonomi (SDE) maka yang muncul bukanlah kondisi yang lebih baik, namun yang ada adalah penjungkir balikan kodrat perempuan yang keluar dari Fithrahnya. Efektifitas program-program yang ditawarkan dalam mengatasu kerapuhan keluarga melalui pemberlakuan kursus pranikah, Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP), UU PKDRT, UU Perlindungan Anak dsb menjadi program yang sulit difahami dan malah semakin menjauhkan petempuan dari kodratnya. Tiadanya integrasi dan sinkronisasi antar program-program yang dicanangkan akan lebih banyak memunculkan masalah baru (kontraproduktif) pada keluarga.
Di sinilah diperlukan peran besar dari sebuah institusi yang memiliki perangkat sempurna. Dan peran itu dimiliki okeh negara. Negara semestinya dihadirkan dalam menyokong terwujudnya fungsi keluarga. Bila telah terbukti sulitnya mengatasi kerapuhan keluarga dengan mengandalkan kemampuan masing-masing keluarga, maka peran negara secara utuh sangatlah dibutuhkan untuk menopang terwujudnya ketahanan keluarga. Peran ideal negara dalam mewujudkan ketahanan keluarga haruslah mampu menghadirkan hal-hal berikut ini:
a. Sistem pendidikan yang menghasikkan manusia seutuhnya (insan kamil)
b. Penataan media yang mewujudkan masyarakat cerdas dan peduli
c. Sistem ekonomi yang menyejahterakan
d. Sistem sosial budaya yang meninggikan peradaban
e. Sistem hukum yang memberikan rasa keadilan
f. Integrasi fungsi edukasi negara yang mencakup pendidikan formal, informal dan non formal
Sudah saatnya mewujudkan kesadaran umat bahwa terwujudnya ketahanan keluarga meniscayakan peran besar negara, bahkan mengharuskan negara menempatkan diri sebagai pilar utama dan paling besar (soko guru). Namun, semua tidak bisa dilakukan oleh negara yang landasan hidupnya terkait erat bahkan kokoh dengan paradigma sistem demokrasi saat ini. Hanya negara berdasarkan Islam sajalah dalam naungan sistem Khilafah Islamiyah yang bisa diharapkan mewujudkan peran idealnya. Karena itu solusi tuntas bagi persoalan massalnya kerapuhan keluarga adalah berjuang bersama menegakkan sistem Khilafah yang akan secara nyata menghadirkan Negara sebagai Soko Guru Ketahanan Keluarga. Sudah saatnya bersegera kembali pada aturan Allah sehingga seluruh persoalan yang terkait dengan lemahmya ketahanan keluarga dan malapetaka rusaknya generasi bisa terselesaikan secara paripurna tanpa memunculkan masalah masalah krusial lainnya.
Wallaahu a'lam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment