Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Dalam artikel halodoc, disebutkan apa makna "Red Flag" dalam suatu hubungan. Dikatakan bahwa "Red flag dalam suatu hubungan menjadi tanda yang sangat jelas untuk segera menyudahinya. Sebab, memaksa untuk melanjutkan hubungan tidak sehat tersebut justru bisa menyiksa batin maupun fisik.”
Dalam artikel tersebut, disebutkan juga hal apa saja yang masuk dalam kategori red flag yang konon katanya tanda-tandanya patut diwaspadai. Delapan tanda itu antara lain:
*Melakukan kekerasan
*Sering cemburu dan tidak percaya
*Punya riwayat berselingkuh
*Suka mengontrol menjadi tanda red flag pada hubungan
Selalu membicarakan mantan
*Tidak ada keintiman emosional
*Gaslighting (orang lain ragu terhadap dirinya. Ciri khas orang yang gaslighting yaitu suka bohong)
*Breadcrumbing ( suka menggoda orang yang mereka sukai meski tidak punya keinginan untuk berhubungan lebih lanjut/ menggantung hubungan)
Miris bahkan tragis. Ternyata di negeri ini kehidupan red flag seakan normal-normal saja karena berbagai peristiwa dalam kategori di atas terus berulang dan berulang.
Hidup sekadar dijalani. Ketidaknyamanan diharmonisasi sebagai hidup asal ada cuan. Derita dipola tanpa sketsa yang jelas. Semrawut.
Akar Masalah
Membaca kategori tersebut di atas, yang terbayang adalah akar masalah yang menumbuhkannya. Mengapa red flag bisa muncul sedemikian rupa dalam tingkat laku perikehidupan manusia. Padahal dalam penciptaannya, manusia ditunjukkan untuk senantiasa berbuat baik di muka bumi sebagaimana firman Allah Ta'ala,
قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan". (QS. Al-Maidah: 100).
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,” (QS. Al-Isra’: 7)
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ٧ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ٨
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."(QS. Al-zalzalah:7-8).
Tidak dimungkiri, sistem yang diterapkan saat ini bukan lagi habitat ideal bagi makhluk yang bernama manusia. Paradigma sekularisme yang mendasarinya begitu mengagungkan kebebasan atas nama HAM. Peran agama benar-benar disingkirkan. Nilai-nilai moral dipandang sebagai urusan personal yang terlarang bagi negara untuk mencampurinya.
Ditambah lagi, agama yang menjadi kunci kemuliaan justru diotak-atik dengan narasi moderasi dan deradikalisasi, walhasil Islam yang dimoderasi dan dideradikalisasi, sejatinya adalah Islam yang toleran terhadap nilai-nilai Barat yang sekuler dan mengagungkan hak asasi. Termasuk hak asasi untuk berbuat semaunya dan berdampak menyebarluaskan kerusakan.
Parahnya lagi penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang lahir dari sekularisme, telah meniscayakan cara pandang yang dipenuhi nilai-nilai materialisme. Kekuasaan tidak ubahnya seperti sebuah perusahaan bagi para pemilik modal. Hubungan rakyat dan negara, tidak ubahnya seperti bisnis jual beli. Apa pun yang menguntungkan akan dibiarkan berjalan. Tidak heran jika bisnis syahwat yang melenakan pandanga mata, hati dan jiwa semakin melarutkan alunan makna kebahagiaan yang menipu.
Kejahatan sistemik telah memporakporandakan pembentukan kepribadian mulia di negeri ini, hingga wajarlah fenomena "Red Flag" menjadi pokok bahasan yang membuat kecemasan pada sekian banyak pasangan. Kepribadian pasangan yang dianggap toksik dan memandang saling toksik menghancurkan arah langkah peradaban manusia. Ambyar lah tujuan pernikahan, hancurlah cita-cita mewujudkan keturunan tangguh nan cemerlang.
Islam Cegah Red Flag
Jika red flag dianggap perilaku minus, pribadi minim akhlak, yang tumbuh dari sistem yang menjauhkan agama, maka tidak akan demikian dengan sistem yang lahir dari Allah Rabbul Izzati. Islam memiliki konsep yang jelas terkait kepribadian.
Dalam Islam , kepribadian(syakhsiyyah) setiap manusia terbentuk oleh cara berpikir dan cara bersikapnya. Postur, bodi, perawakan, dan sebagainya, bukanlah unsur pembentuk syakhsiyyah. Semua itu kulit atau tampilan luar semata.
Visi terwujudnya sosok berkepribadian Islam tangguh, saleh, mushlih, hamba Allah yang taat pada syariat, calon pemimpin umat dan tidak (terbiasa) melakukan maksiat, melekat kuat dalam ajaran Islam. Dan untuk mewujudkannya erat kaitannya dengan ranah ikhtiar kita. Karena manusia lahir bukan karena kebetulan, melainkan ada kewajiban yang harus kita wujudkan saat menerima sebuah kelahiran generasi manusia.
Profil manusia saleh-mushlih (kepribadian Islam) generasi mulia yang terjaga dari melakukan kesalahan atau kemaksiatan, tentunya effort yang luar biasa untuk mewujudkannya. Beberapa hal harus dikokohkan dalam tumbuh kembangnya manusia.
Pertama, kokohnya akidah. Akidah yang kokon ibarat akar dari sebuah pohon atau fondasi dari sebuah bangunan. Kuat lemahnya akar /fondasi akan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya pohon dan bangunan di atasnya. pemahaman dari mana asal dirinya, alam semesta dan kehidupan ini, untuk apa dia dihidupkan, setelah kehidupan ini berakhir kemanakah dirinya dan semua kehidupan ini.
Akidah yang benar dan kuat akan membuat manusia bisa meletakkan kehidupan dan kematian dengan tepat. Memiliki cita-cita dan tujuan hidup yang benar, juga memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan di Dunia. Dengan akidah yang kuat akan menghindarkan dari profil lemah, penakut, mudah menyerah, malas berusaha, hedonis, materialistis, liberalis, hidup tanpa arah, tidak produktif, atau bahkan bermasalah. Dengan akidah kuat tak ada kamus red flag dalam hidupnya.
Kedua, kokohnya kesadaran untuk terikat pada syariat sebagai konsekuensi iman. Jika iman terpisah dari syariat, atau memisahkan syariat dari kehidupan yang dijalani, akan menjatuhkan diri pada kehancuran dan kerusakan. Dengan keterikatan pada syariat ciri-ciri red flag tak tersibghah dalam diri manusia.
Ketiga, kokohnya kelengkapan tsaqafah (pengetahuan) Islam ,dan kedekatan kepada Allah membuat manusia mudah menundukkan nafsu mereka di bawah kendali pemahaman Islam yang dimiliki. Bagaikann rambu-rambu, lengkapnya pengetahua tentang halal haram, baik buruk, terpuji tercela, akan makin mengarahkan hidup senantiasa menapaki jalan yang benar. Apalagi, jika kesadaran akan hubungannya dengan Allah selalu terpelihara red flag tidak akan menggerus diri masuk pada jurang kehinaan. Tak ada tindak kekerasan yang menyakiti siapa pun, tidak terkecuali pasangan hidup. Cara bergaul yang mulia sangat difahami dengan baik dan benar. Semakin tidak menguasai syariat (tsaqafah Islam), makin besar peluang tersesat atau terjatuh dalam bahaya saat menjalani kehidupan.
Keempat, kokohnya lingkungan (masyarakat) kondusif untuk terwujudnya kepribadian saleh dan mushlih. Lingkungan yang penuh suasana keimanan dan hidupnya amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat sangat membantu dan memudahkan agar tetap istikamah dalam ketaatan, dan segera diluruskan saat mulai ada penyelewengan. Tak ada kebohongan seperti kategori red flag yang melanggar syarak, sehingga tak ada yang dirugikan.
Kelima, kokohnya keberadaan negara yang berkarakter ra’in (pemelihara) dan junnah (perisai pelindung) bagi rakyatnya, dengan penerapan kebijakan dan peraturan yang benar sesuai tuntunan-Nya. Negara seperti ini akan melindungi generasi dari pornografi, pornoaksi. Juga melindungi dari berbagai pemikiran yang merusak semacam kampanye L68T atau pun perilaku seks sebagai HAM. Fenomena perselingkuhan, dan saling toksik pada sebuah relasi seperti gambaran red flag tidak terjadi.
Sayang beribu sayang, sinkretisme yang memandang semua agama adalah sama, pluralisme yang tidak membolehkan seorang muslim meyakini bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam, sekularisme yang berusaha memisahkan antara agama (Islam) dari kehidupan, juga kriminalisasi syariat (terutama yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan kemasyarakatan), membuat kokohnya lima faktor di atas tidak terealisasi. Red flag menjadi-jadi dalam sendi relasi manusia. Viral tak terbendung di dunia nyata dan maya.
Oleh karena itu perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk mengembalikan sistem Islam dalam kehidupan. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang mukhlis al-khalis yang tak mampu untuk tidak ikhlas dalam memperjuangkannya. Cukup baginya Allah sebagai penolong.
Firman Allah Ta'ala,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
“Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS Muhammad [47]: 7).
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment