Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jurus "Srikandi Bukittinggi" Taklukkan Panggung: Dewi Angraini Bagi Tips Atasi Gugup Bicara di Depan Publik

Tuesday, January 27, 2026 | Tuesday, January 27, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T17:09:28Z

BUKITTINGGI – Tangan mendadak dingin, suara bergetar, hingga pikiran yang tiba-tiba kosong sering kali menjadi "serangan mendadak" bagi seseorang saat harus berdiri di depan forum. Namun, bagi anggota DPRD Kota Bukittinggi, Dewi Angraini, kegugupan bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan sinyal alami bahwa tubuh sedang bersiap menghadapi tantangan.


Sebagai politisi perempuan yang kerap tampil di berbagai forum resmi maupun publik, Dewi mengakui bahwa rasa grogi adalah hal yang sangat manusiawi. Menurutnya, kunci utama bukan menghilangkan rasa takut tersebut, melainkan bagaimana cara menjinakkannya. Selasa (27/1)


Persiapan sebagai Fondasi Kepercayaan Diri

Dewi menekankan bahwa mentalitas yang kuat lahir dari persiapan yang matang. Sebelum naik ke podium, sangat penting untuk mengenali siapa audiens yang akan dihadapi dan apa tujuan utama dari pesan yang ingin disampaikan.


“Kalau arah pembicaraan sudah jelas, pikiran tidak akan mudah tersesat saat di podium. Buatlah kerangka singkat yang terdiri dari tiga sampai lima poin utama agar fokus tetap terjaga,” jelas Dewi saat berbagi tips praktis di Bukittinggi.


Mengubah Pola Pikir dan Mengelola Suara

Salah satu jurus ampuh ala "Srikandi Bukittinggi" ini adalah mengubah pola pikir (mindset). Menurut Dewi, pembicara harus menanamkan pemikiran bahwa audiens sebenarnya menginginkan keberhasilan kita, bukan menunggu kegagalan. Dengan memindahkan fokus dari rasa takut ke pesan yang ingin disampaikan, kegugupan secara perlahan akan melemah.


Selain pola pikir, teknis vokal juga memegang peranan penting. Dewi menyarankan agar pembicara mengatur tempo bicara agar tidak terlalu cepat, menggunakan intonasi yang hidup, serta menyisipkan jeda yang tepat. “Suara yang tenang secara otomatis akan membuat pikiran kita ikut tenang,” tambahnya.


Bahasa Tubuh dan Kesederhanaan Kata

Visual pembicara sering kali memberikan dampak besar sebelum kata pertama keluar. Berdiri tegak namun rileks, menjaga kontak mata dengan audiens, serta memberikan senyum yang tulus adalah sinyal percaya diri yang kuat.


Dewi juga mengingatkan agar pembicara tidak terjebak menggunakan kalimat yang terlalu rumit. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami justru akan membuat audiens merasa nyaman dan pembicara menjadi lebih santai.


Percaya Diri adalah Hasil Latihan

Sebagai penutup, Dewi memberikan motivasi bahwa kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) adalah keterampilan yang dibentuk, bukan bakat yang ditunggu. Latihan konsisten di depan cermin, merekam suara sendiri, atau berbicara di hadapan teman adalah langkah awal yang sangat efektif.


“Percaya diri bukan soal bakat, ia lahir dari latihan dan keberanian mencoba. Semakin sering kita tampil, semakin kegugupan itu kehilangan kuasanya,” pungkas Dewi menutup pesannya.


Melalui langkah-langkah praktis ini, Dewi Angraini ingin membuktikan bahwa bagi perempuan Bukittinggi, podium bukanlah tempat yang menakutkan, melainkan panggung untuk bersinar dan menyampaikan aspirasi demi kemajuan daerah. (R.Sitepu)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update