Oleh : Kurniasari (Aktivis Muslimah Ideologis)
Peringatan Isra' Mi'raj pada 16 Januari kemarin memberikan pelajaran bagi umat Islam. Momen ini mengadung nilai-nilai spiritual yang relevan dengan tantangan kehidupan di era modern saat ini. Memahami hikmah Isra' Mi'raj 2026 tidak hanya sebatas mengingat peristiwa sejarah dan seremoni semata terkait mu'jizat Rasulullah saw dan di syariatkannya sholat lima waktu, tetapi juga menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peristiwa yang istimewa bagi umat Islam tak sekadar momentum spiritual, tapi juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Atau bukan sekadar agama ritual-individual, melainkan ideologi yang memimpin kehidupan manusia secara menyeluruh di bawah kepemimpinan global.
Dimensi politik Isra Mi‘raj tampak jelas ketika Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kosong. Ia adalah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya.
Setelah era Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ, kemudian dilanjutkan oleh khulafar rasyidin, kepemimpinan Islam global mencapai bentuk institusionalnya dalam wujud Khilafah Islam. Namun tragedi besar menimpa umat Islam. Pasca runtuhnya Khilafah, selama 105 tahun umat Islam tidak bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi.
Tanpa perisai ini, umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah dikendalikan, bahkan dijajah. Itulah yang terjadi sejak Khilafah Islam diruntuhkan hingga saat ini. Dan ini merupakan bencana besar bagi umat. Setelahnya, dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Maka menegakkan kembali kepemimpinan Islam atas dunia menjadi urgen.
Penjajahan di Palestina, tempat perjalanan Isra' Mi'raj Rasulullah saw yang telah jatuh di tangan entitas Yahudi harus dibebaskan. Demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan. Kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina selatan harus dihentikan. Kita harus berupaya menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan daulah Islam dalam bingkai Khilafah.
Selaku umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al Mu'tasim, cucu Sholahudin Al Ayubi, cucu Al Fatih, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Tegaknya Khilafah akan mengembalikan kemuliaan Islam.
Diperlukan partai Islam ideologis yang terus berjuang siang dan malam, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan Islam. Karena ini perjuangan pokok, agung, penting dan vital.
Juga, karena Islam berbeda dan bertolak belakang dengan Kapitalisme. Ideologi Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya, maupun pembunuhan massal demi kepentingan ekonomi atau politik. Dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah SWT. Maka dari itu, ideologi Islam dengan kepemimpinan global (Khilafah) bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi karena berbasis wahyu, bukan hawa nafsu.
WalLaahu a'lam

No comments:
Post a Comment