Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Guru Dikeroyok, Murid Dihina:Buah Pendidikan Sekuler Kapitalis

Thursday, January 22, 2026 | Thursday, January 22, 2026 WIB Last Updated 2026-01-21T21:02:13Z

 



Oleh : Ummu Fatih(Pegiat Opini)


 

    Pada hari Rabu tanggal 14 Januari 2026, sebuah berita yang mengguncang hati banyak pihak muncul dan menjadi viral di berbagai platform media sosial: seorang guru SMK di wilayah Jambi menjadi korban serangan fisik dan verbal oleh sekelompok muridnya. Menurut keterangan langsung dari sang guru, yang bernama Agus, awal mula peristiwa adalah ketika ia melakukan tugas profesinya dengan memberikan peringatan kepada beberapa siswa yang tidak fokus selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, tanggapan yang diterimanya bukanlah kesadaran atau maaf, melainkan tindakan yang sangat tidak terduga: siswa tersebut menegurnya dengan cara yang sama sekali tidak hormat, meneriakkan kata-kata yang tidak pantas dan menyakitkan hati di depan seluruh teman sekelas yang sedang belajar.

 

    Selain laporan tentang serangan fisik dan ujaran kasar selama jam pelajaran, seperti yang disampaikan oleh Mufid, anggota Koordinator Nasional Jaringan Perlindungan Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji, terdapat juga keluhan bahwa tidak hanya siswa yang terlibat dalam tindakan tidak pantas tersebut, tetapi bahkan sebagian orang tua siswa turut menyebarkan ucapan yang merendahkan dengan menyebut guru tersebut "bodoh dan miskin". Peristiwa ini jelas bukan sekadar kasus isolasi atau masalah kecil yang dapat disepelekan. Sebagaimana telah ditegaskan, tindakan tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan—baik fisik maupun verbal—sebagaimana dijamin secara tegas dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Seperti yang dilaporkan oleh detik.com dalam artikel berjudul "Babak Baru Guru SMK Dikeroyok Murid di Jambi Ditempuh Jalur Hukum", pihak guru telah mengambil langkah hukum untuk mendapatkan keadilan. Sementara itu, Kompas.com dalam laporannya bertajuk "Mediasi Kasus Guru Dikeroyok Siswa di Jambi Gagal, KPAI Desak Kepala Daerah Lanjut Analisis" menyebutkan bahwa upaya mediasi yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tidak mencapai hasil yang diharapkan, sehingga pihaknya mendesak kepala daerah untuk melakukan analisis mendalam terkait faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut dan mencari solusi yang komprehensif.

 

    Kasus guru yang dikeroyok oleh murid tidak dapat disederhanakan hanya sebagai konflik personal antara individu guru dan siswa, atau sekadar ledakan emosi yang terjadi dalam waktu singkat. Sebaliknya, ini adalah tanda bahaya yang menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita saat ini sedang mengalami kerusakan pada fondasi paling dasar, yaitu relasi guru-murid yang seharusnya dibangun di atas landasan penghormatan saling menghargai, rasa hormat yang tulus, serta keteladanan yang baik. Di satu sisi, kita menyaksikan dengan prihatin perilaku siswa yang tidak sopan, kasar, dan seolah-olah kehilangan seluruh batasan adab dan kesopanan yang seharusnya menjadi bagian dari pendidikan karakter mereka. Namun, di sisi lain, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa terdapat sebagian kalangan guru yang dalam proses pembelajaran kerap melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika profesi, seperti menghina murid, merendahkan martabat mereka, atau bahkan memelabeli siswa dengan kata-kata yang sangat melukai psikologis dan dapat meninggalkan bekas yang dalam bagi perkembangan diri mereka. Akibatnya, kedua pihak terjebak dalam lingkaran setan konflik yang semakin memanas dan akhirnya berujung pada tindakan kekerasan yang tidak diinginkan. Fenomena menyedihkan ini tak lain adalah buah dari sistem pendidikan sekuler kapitalis yang telah menjauhkan nilai-nilai Islam sebagai landasan utama dalam pembentukan karakter dan akhlak generasi muda bangsa.

Dalam pendidikan Islam yang sebenar-benarnya, pendidikan bukan sekadar bertujuan untuk mencetak individu yang pintar secara akademik atau memiliki keahlian tertentu semata. Lebih dari itu, pendidikan dalam Islam memiliki tujuan yang jauh lebih mulia, yaitu membentuk manusia yang beradab, memiliki akhlak yang baik, dan mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Hadis ini menjadi landasan bahwa pembentukan akhlak adalah tujuan utama dari segala bentuk pendidikan dalam ajaran Islam. Selain itu, Al-Qur'an juga telah menegaskan pentingnya pendidikan ,seperti firman Allah swt. yang artinya"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami,menyucikan kamu,dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah (Sunnah),serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui".(TQS.Al-Baqarah:151)

     Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam mencakup tiga dimensi penting: pemberian peringatan (untuk menjaga diri dari kesalahan), pembelajaran kitab suci (ilmu agama), dan pembelajaran hikmah (ilmu pengetahuan umum dan kebijaksanaan hidup), serta memberikan pemahaman tentang hal-hal yang sebelumnya tidak diketahui.

 

    Dalam sistem pendidikan Islam yang ideal, adab dan kesopanan selalu didahulukan sebelum ilmu pengetahuan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: "Barangsiapa yang datang kepada kami untuk belajar ilmu, maka ia telah datang dengan membawa hak atas kami untuk menyambutnya dengan baik, memberikan tempat duduk yang baik, mengajarkannya dengan cara yang mudah dipahami, dan tidak menyulitkannya." Hal ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggung jawab besar untuk memperlakukan murid dengan baik, sementara murid juga diajarkan untuk memiliki sikap yang benar terhadap guru. Bahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah disebutkan: "Sesungguhnya seorang murid tidak akan sampai pada tahap kebaikan hingga ia menganggap gurunya lebih baik dari pada dirinya sendiri, atau sama baiknya dengan dirinya sendiri, atau tidak pernah menganggap gurunya lebih rendah darinya." Ini menjadi dasar bahwa murid harus memiliki rasa hormat yang tinggi kepada guru sebagai figur yang membimbing mereka dalam mendapatkan ilmu dan membentuk diri.

 

    Sementara itu, guru dalam ajaran Islam diwajibkan untuk mendidik dengan penuh kasih sayang dan bukan dengan cara yang menghina atau merendahkan. Allah swt. Telah berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad),, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya),jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."(TQS.An-Nisa':59)

     Dalam konteks pendidikan, guru merupakan salah satu bentuk "ulil amri" yang harus menjadi teladan dan contoh baik bagi murid, bukan hanya sebagai pengajar yang mentransfer pengetahuan semata. Guru diharapkan mampu menjadi orang yang tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia, sehingga dapat menjadi panutan bagi para muridnya.

 

    Selain itu, dalam konteks pembangunan sistem pendidikan bangsa, negara dalam pandangan Islam diharapkan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kurikulum pendidikan yang diterapkan berlandaskan pada akidah Islam yang benar. Setiap mata pelajaran yang diajarkan harus diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh, yaitu individu yang memiliki keimanan yang kuat, akhlak yang baik, serta kemampuan untuk berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.

Tujuan pendidikan tidak boleh hanya terfokus pada pengembangan kompetensi yang hanya diperuntukkan untuk kebutuhan pasar kerja semata, tetapi harus lebih luas yaitu mencetak generasi yang memiliki integritas moral, rasa tanggung jawab, dan kesadaran akan tugas sebagai khalifah Allah SWT di dunia. Hanya dengan demikian, pendidikan akan kembali mendapatkan makna sejati sebagai sarana untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia dan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa dan negara.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update