Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Digitalisasi Merusak Mental Generasi, Islam Solusinya

Monday, January 05, 2026 | Monday, January 05, 2026 WIB Last Updated 2026-01-05T00:48:31Z

Oleh Santy Mey

Aktivis Muslimah


Seiring dengan perkembangan teknologi yang makin pesat, saat ini kita berada di era digitalisasi di mana teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi pusat kehidupan. Dengan demikian secara otomatis telah merubah cara bekerja, berkomunikasi dan berinteraksi. Juga berakibat pada pergeseran dari ekonomi fisik menjadi ekonomi berbasis data. 

Bagi sebagian orang, mungkin saja perubahan cara bekerja, dapat dijadikan alternatif dan peluang besar dalam menghemat waktu juga tenaga, seperti contohnya bisnis online dan kerja jarak jauh. Begitupula dalam berinteraksi dan berkomunikasi bisa dilakukan secara cepat dan mudah. Namun demikian, digitalisasi ini penuh dengan tantangan   kejahatan siber dan kesenjangan digital.

Oleh karena itu, sulit rasanya untuk membentuk Generasi Pelopor Perubahan karena para pemuda telah tergerus oleh jeratan ekosistem digital kapitalistik yang makin berkembang dengan pesat. Dan secara tidak disadari telah merusak mental generasi, yang seharusnya menghabiskan waktu di luar rumah untuk berinteraksi secara langsung dalam setiap aktivitas, malah menjadi mager. Hal ini justru yang menyebabkan rentannya penyakit. (muslimahnews.net, 5-12-2025)

Maka, wajar saja jika banyak pengamat menyebut dunia digital ini sebagai abad percepatan di mana perubahan sosial terjadi begitu cepat. Namun, sayangnya perubahan itu justru tidak pernah mengarah pada perbaikan yang fundamental (mendasar).

Tidak dipungkiri, dunia digital membuka ruang yang sangat luas, dengan memberikan kebebasan berekspresi. Tetapi pada saat yang sama juga dapat menutup ruang refleksi, dapat membatasi kedalaman berpikir. Ironi, kondisi ini paling kuat memengaruhi kelompok yang seharusnya menjadi motor perubahan bagi umat yaitu para pemuda muslim.

Dalam derasnya informasi yang tidak henti mengalir, para pemuda muslim dituntut untuk berjuang keras. Tidak hanya berusaha untuk mempertahankan identitas, tetapi juga untuk tetap sadar arah perjuangannya. Alhasil, tanpa ideologi, mereka akan larut dalam arus besar kapitalisme digital yang telah menjadikan manusia hanya sekadar komoditas yang bisa dijual kepada pasar global.

Hari ini, aktivisme pemuda muslim di ruang digital tampak begitu dinamis. Setiap momentum politik, tragedi kemanusiaan, atau ketidakadilan apa pun langsung memantik gelombang solidaritas, kampanye tagar, kritik kebijakan, hingga diskusi panjang yang mengisi lini masa dengan cepat.

Namun, kegairahan ini sering kali menipu, sebab di balik kecepatan pergerakannya tersimpan kerapuhan. Banyak aktivisme digital berkembang bukan karena kesadaran ideologis, melainkan mekanisme viralitas yang sengaja dibangun oleh korporasi teknologi. Ruang digital yang tampak terbuka sejatinya merupakan arena yang dikendalikan oleh algoritma, sang penjaga gerbang yang menentukan isu yang pantas diangkat dan yang harus dikubur perlahan.

Oleh sebab itu, gagasan yang menyentuh akar permasalahan seperti kegagalan kapitalisme global, hegemoni politik Barat, atau urgensi kepemimpinan Islam kerap dibatasi jangkaunya melalui praktik shadow-ban yang bekerja halus tetapi efektif.

Media digital seolah-olah memberi pemuda ruang untuk bersuara. Namun, sejatinya, selama suara mereka tidak mengancam struktur ideologis yang menopang platform-platform digital yang ada, hal itu menjadikan gerakan para pemuda tampak hidup, meski sebenarnya sedang dikebiri dari dalam.

Jelas, aktivisme digital hari ini tidak berjalan dalam ruang netral. Sesuatu yang disebut sebagai ruang publik digital sejatinya adalah ruang disiplin ideologis yang secara perlahan membentuk ulang cara berpikir dan berperilaku pemuda. Belum lagi, Platform digital global mengusung visi politik dan budaya tertentu yang berakar pada sekularisme dan liberalisme, lalu membungkusnya dengan mekanisme teknis yang membuatnya tampil netral. Melalui algoritma yang bekerja tanpa jeda, pemuda didorong memandang agama sebagai ranah privat, memisahkan nilai dari urusan politik, dan menganggap kebebasan individual sebagai tujuan paling rasional.

Sifat kapitalistik ruang digital memosisikan identitas dan perhatian pemuda menjadi komoditas yang diperdagangkan. Setiap interaksi dihitung, setiap opini diubah menjadi data dan setiap kegelisahan dibaca sebagai peluang monetisasi.

Sedangkan, ketika pemuda membicarakan penderitaan umat, platform hanya menimbang potensi engagement. Ketika mereka menunjukkan solidaritas, platform melihat peluang peningkatan traffic. Sementara narasi yang benar-benar mengancam struktur global, seperti gagasan tentang kembalinya kekuasaan politik Islam, bukan hanya dipinggirkan, tetapi kerap diberi label negatif atau dipotong jangkauannya.

Sungguh, sekularisasi hari ini tidak lagi datang melalui propaganda terang-terangan, melainkan melalui kurasi algoritma yang menormalisasi cara berpikir barat sebagai satu-satunya sudut pandang yang diopinikan masuk akal. Cara pandang itu dipenetrasikan kepada pengguna secara halus, senyap, dan sangat efektif. Dampaknya, energi besar pemuda muslim justru mengalir ke arah yang kabur.

Kita harus mengetahui, sejarah mencatat bahwa pemuda selalu menjadi agen perubahan yang kuat. Namun, kita juga harus sadar bahwa energi muda tanpa iringan ideologi hanya akan melahirkan aktivisme emosional yang meletup-letup tanpa mampu mengguncang akar kerusakan dalam kehidupan.

Banyak pemuda hari ini yang sangat peduli pada isu-isu sosial berupa ketidakadilan, korupsi, krisis moral, kemiskinan struktural, hingga solidaritas lintas batas seperti genosida Palestina. Namun, sayang, kepedulian itu sering tidak dibekali kerangka analisis yang kuat. Mereka marah pada gejala, tetapi tidak melihat sistem yang melahirkannya. Mereka ingin perubahan, tetapi tidak menantang paradigma yang memproduksi krisis itu.

Ketiadaan struktur politik Islam global memperparah keadaan. Kekosongan fungsi kepemimpinan ideologis akhirnya diisi oleh partai politik semu, lembaga donor, atau influencer dan politisi pragmatis yang mengarahkan semangat pemuda pada agenda-agenda sempit seperti kampanye moral sesaat, advokasi administratif, atau euforia pemilu. Aktivisme yang seharusnya mampu menggugat sistem batil justru terjebak dalam solusi-solusi pragmatis yang masih berada dalam lingkaran kapitalisme yang sama.

Kerapuhan ini bukan disebabkan kurangnya ketulusan atau kepedulian pemuda, tetapi karena absennya fondasi ideologi Islam yang seharusnya menuntun, mengarahkan, dan menguatkan perjuangan mereka di tengah ekosistem digital yang kian menyesatkan orientasi pergerakan. Pada titik inilah urgensi ideologisasi pergerakan pemuda menjadi makin nyata.

Karena, Ideologisasi bukan sekadar penguatan iman atau suntikan motivasi spiritual. Ia adalah proses sistemis untuk membangun cara berpikir, cara menilai dan cara bergerak berdasarkan akidah Islam. Tanpa landasan ideologis, para pemuda yang yang masih labil akan berhenti pada reaksi emosional sesaat, terlebih rasa kepedulian terhadap isu sosial akan hilang dengan sendirinya.

Dengan demikian ideologisasi akan menjadi benteng yang membuat mereka mampu membaca realitas global secara jernih. Karena, mereka harus paham krisis yang menimpa umat hati ini bukanlah persoalan teknis, tetapi buah dari penerapan sistem kapitalisme yang cacat sejak lahir.

Melalui ideologisasi, pemuda diarahkan untuk melihat perjuangan bukan hanya sebagai aktivisme moral, tetapi sebagai bagian dari proyek besar membangun peradaban Islam. Mereka dituntut untuk belajar memahami bahwa perubahan hakiki memerlukan pergantian sistem. Juga haru harus memahami bahwa selama sistem kufur masih dipertahankan sebagai fondasi, maka nestapa umat akan terus berulang tanpa henti yang akan berakibat pada kehancuran.

Bahwasanya, proses ini menuntut adanya pembinaan yang berkelanjutan, bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan atau pelatihan kepemimpinan yang singkat. Melalui pembinaan akan terbentuk syakhsiyyah Islamiyyah dalam diri pemuda, serta memiliki kapasitas intelektual dan spiritual yang kukuh untuk menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik.

Namun, ideologisasi tidak berhenti pada penguatan individu. Ia meniscayakan pengorganisasian. Pemuda tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Tanpa jemaah dakwah yang terarah, energi mereka mudah terpecah dan dibajak oleh agenda lainnya. Pengorganisasian ini bukan demi kepentingan kelompok, tetapi untuk memusatkan potensi pemuda pada tujuan strategis, yaitu kembalinya kepemimpinan Islam sebagai pelindung umat dan pengatur dunia.

Pengorganisasian pemuda tidak akan bermakna strategis tanpa wadah politik yang ideologis dan tulus memperjuangkan perubahan sistemis. Kesadaran pemuda harus mencapai level ideologis. Dengan ideologi, pemuda memiliki saluran politik yang jelas agar gerak mereka tidak berhenti pada aktivisme moral atau gerakan sesaat.

Oleh karena itu, umat membutuhkan partai politik Islam ideologis yang menjadikan akidah sebagai asas berpikir dan perubahan sistem sebagai tujuan perjuangan. Partai politik Islam ideologis inilah yang akan memobilisasi potensi pemuda secara terarah melalui metode perjuangan yang jelas dan terarah, konsisten serta berjangka panjang.

Tanpa jemaah dakwah berupa partai politik Islam ideologis, energi pemuda akan dirampas kembali oleh pragmatisme politik dan agenda sistem kufur kapitalisme. Sebaliknya, dengan kepemimpinan partai politik Islam yang ideologis, pemuda memiliki arah perjuangan yang jelas, tegas dan nyata menuju perubahan hakiki yakni menuju Islam kaffah dan terikat dengan syariat yang bersumber dari Allah SWT.

Mengulas sejarah peradaban Islam yang pernah berjaya selama empat belas abad. Sepanjang itu pula para pemudanya selalu berada di garda terdepan sebagai penggerak perubahan. Diantara para sahabat Rasulullah saw., ada Mush‘ab bin Umair sebagai Duta Islam yang telah membuka jalan hijrah dengan membawa dakwah ke Madinah. 

Selain itu, ada Zubair bin Awwam sejak usia belia sudah berdiri tegar di medan jihad, juga ada Muhammad al-Fatih  diusia muda mampu menaklukkan Konstatinopel. Dengan melihat keberanian dan keteguhan hatinya, mereka bukan generasi yang sekadar mengikuti arus zaman, tetapi  mereka justru yang telah menciptakan arus sejarah gemilang.

Berkaca dari sejarah peradaban Islam, maka pemuda hari ini membutuhkan visi yang sama dalam mewujudkan peradaban yang gemilang. Apalagi Allah SWT. telah menitipkan energi keberanian dan intelektualitas bukan untuk berlomba dalam tren digital, bukan pula sebagai konsumen konten. Tetapi untuk mengemban amanah besar, yakni menegakkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Namun, disaat pemuda memiliki arah ideologi yang jelas, maka dunia pun akan berubah pula. Dapat dipastikan, mereka tidak akan lagi tunduk pada algoritma digital milik kapitalis, tidak bisa dikebiri oleh kapitalisme dan tidak akan mudah dimanipulasi oleh narasi yang melemahkan arah politik umat. Mereka mampu menjadi subjek, bukan objek. Juga menjadi penggerak bukan sebagai komoditas. Dari merekalah peradaban Islam akan kembali berdiri tegak.

Sangat berbanding terbalik denga apa yang terjadi pada pemuda di era digital yang makin berkembang pesat saat ini, yang telah menjadikan pemuda terkurung dalam lingkaran aktivisme semu, sehingga umat membutuhkan generasi yang mampu keluar dari jebakan algoritma dan mampu berdiri sebagai subjek perubahan. Padahal, pemuda memiliki potensi yang sangat besar, tetapi karena kelabilannya sehingga mudah dibajak oleh sistem sekuler kapitalistik yang tidak berpihak pada kebenaran menurut Islam.

Untuk itu, diperlukan perjuangan dalam membangun generasi pelopor ke arah yang lebih jelas, fondasi pemikiran yang kukuh, dan kesadaran ideologis yang tidak rawan goyah. Untuk mewujudkannya butuh kerjasama dari semua dalam menghadirkan lingkungan pembinaan yang membentuk kepribadian Islam, menguatkan kemampuan membaca realitas dan mengarahkan kepedulian pemuda pada perubahan yang bersifat sistemis.

Dengan demikian, sangat dibutuhkan pemahaman secara Ideologisasi, karena sebagai fondasi dan pengorganisasian menjadi kerangka yang memusatkan energi mereka pada proyek kebangkitan peradaban. Oleh karena itu pemuda muslim harus mengambil kendali, tunduklah kepada wahyu Allah bukan kepada narasi pasar seperti algoritma. Seharusnya, mereka menjadi penggerak perubahan yang lebih baik tidak layak menjadi komoditas.

Jelaslah, Islam memiliki visi yang terang dan langkah yang terorganisir, bahkan tau betul bahwa merekalah generasi yang akan menutup era kegelapan peradaban kapitalistik dan membuka pintu gerbang kebangkitan Islam. Karena sejatinya arah sejarah ada pada tangan mereka. Dengan demikian masyarakat berkewajiban memantau dan memastikan mereka tumbuh serta siap memikul amanah itu. Begitu juga negara yang harus mensuport generasi muda dengan memfasilitasi ruang gerak mereka.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update