Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Guru Tak Lagi Dimuliakan dan Murid Kehilangan Adab

Sunday, January 25, 2026 | Sunday, January 25, 2026 WIB Last Updated 2026-01-25T14:33:04Z



Oleh: Rumaisha

Pejuang Literasi


Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan peristiwa memilukan dari dunia pendidikan. Seorang guru SMK di Jambi viral dikeroyok muridnya sendiri. Peristiwa ini bukan sekadar insiden kekerasan biasa, tetapi tamparan keras bagi sistem pendidikan kita yang kian kehilangan arah.


Menurut pengakuan sang guru, kejadian bermula saat proses belajar mengajar berlangsung. Seorang siswa menegurnya dengan cara tidak sopan, bahkan meneriakkan kata-kata yang tidak pantas di hadapan kelas. Teguran tersebut berujung konflik hingga terjadi pengeroyokan. Namun, versi lain muncul dari pihak siswa. Salah satu murid menyebut bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina siswa dan orang tua mereka, bahkan melabeli murid dengan sebutan “bodoh” dan “miskin”.


Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai peristiwa ini sebagai pelanggaran hak anak untuk memperoleh pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, sebagaimana dijamin konstitusi dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Pernyataan ini menegaskan bahwa kasus tersebut tidak bisa dipandang hitam-putih.


Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat. Ia adalah sinyal serius bahwa dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang, justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, saling melukai, bahkan berujung kekerasan.


Di satu sisi, murid menunjukkan sikap tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri adanya sebagian guru yang terjebak pada cara mendidik dengan hinaan, label negatif, dan kata-kata yang melukai psikologis. Ketika adab hilang dari kedua belah pihak, konflik menjadi keniscayaan.


Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler-kapitalis yang menjauhkan nilai-nilai Islam dari ruang kelas. Pendidikan direduksi sebatas transfer ilmu dan pencapaian kompetensi pasar, sementara pembentukan akhlak diletakkan di pinggir, bahkan dianggap urusan pribadi.


Kejadian berulangnya konflik antara guru dan murid bukan sekedar permasalahan individu, emosi sesaat, ataupun lemahnya pengawasan sekolah. Ia adalah potret buram dari sistem pendidikan hari ini, sistem yang telah menjauhkan agama dari kehidupan.


Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Syakhshiyyah al-Islamiyah menyatakan bahwa tingkah laku manusia merupakan cerminan langsung dari pemahaman yang dibentuk oleh sistem pendidikan dan lingkungan ideologis tempat ia hidup. Alhasil, ketika persepsi tentang ilmu dan relasi manusia dibangun di atas asas sekuler, perilaku yang lahir pun akan tercerabut dari adab dan nilai sakralnya.


Sementara dalam Islam  pendidikan adalah proses pembentukan manusia beradab. Rasulullah saw.  menegaskan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan, bukan dengan hinaan atau kekerasan verbal.


Guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, tetapi figur teladan yang akhlaknya menjadi rujukan. Sementara negara memiliki tanggung jawab penuh memastikan kurikulum pendidikan berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar mencetak tenaga kerja yang kompetitif secara ekonomi.


Oleh karena itu, selama pendidikan masih disandarkan pada sistem yang kering nilai, kasus kekerasan di sekolah akan terus berulang, dengan pelaku dan korban yang bisa saling bertukar peran. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada ruhnya yaitu membentuk seseorang berkepribadian Islam, pola pikir dan pola sikapnya senantiasa merujuk kepada Islam sebagai aturan hidupnya. Hanya dalam bingkai khilafah, hal tersebut akan terwujud.


Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update