Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bencana Sepanjang 2025, Bukti Negara Butuh Perubahan

Friday, January 09, 2026 | Friday, January 09, 2026 WIB Last Updated 2026-01-09T02:56:20Z

 


Oleh. Putri Ayu Wulandari (Pemerhati Umat)


Banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung api hingga kebakaran hutan mewarnai perjalanan Indonesia sepanjang tahun 2025. Hampir seluruh wilayah terdampak, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku.

Sepanjang 13 hari pertama tahun 2025 saja, Indonesia telah mengalami 74 kejadian bencana, mayoritas berupa banjir. Kemudian di penghujung tahun, bencana besar kembali terjadi. Banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatera dan menewaskan ribuan orang.


Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan terkena bencana alam dan dia menduduki urutan kedua di dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, faktor geologis yakni letak jalur lempeng tektonik sebagai penyebab gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus. Selanjutnya, bencana juga disebabkan faktor hidrometeorologis (curah hujan tinggi), dan diperparah dengan ulah tangan manusia seperti deforestasi, alih fungsi lahan, pembuangan sampah sembarangan, dan pembangunan tidak terencana. Hal inilah yang menjadi penyumbang terbesar terjadinya banjir dan tanah longsor di beberapa daerah di Indonesia pada beberapa waktu belakangan ini. 


Pengalihan fungsi hutan menjadi lahan sawit dan perumahan menjadi bagian terburuk dalam masalah ini, kerja sama antara penguasa dan pengusaha yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, perlahan mampu menghanyutkan negeri ini. Penebangan ratusan hektar kawasan hutan membuat alam kehilangan kekuatan untuk menopang derasnya hujan. Alam tidak lagi mampu menjaga dirinya, alam juga tidak lagi mampu menjadi pelindung bagi hewan-hewan, bahkan manusia yang ada di sekitarnya. Air hujan kini tak lagi menjadi penyejuk dikala kering, tetapi justru sebaliknya. Derasnya hujan kini berubah menjadi bencana yang menyeret puing-puing keserakahan manusia, menghancurkan keindahan alam, dan harapan hidup para penghuninya. 


Keindahan alam Indonesia kini tak lagi bisa banggakan. Kutipan lagu dari Koes Plus dengan penggalan lagunya, "Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai, tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu" kini tak berarti apa-apa. Hutan yang luas, alam yang indah, dan tanah yang subur kini tinggal kenangan yang tidak bisa lagi dinikmati anak cucu kita, sebab semua telah dirampas oleh mereka yang menamai dirinya sebagai wakil rakyat. "Ya wakil rakyat.


Hanya saja, wakil rakyat ini justru menikmati kekayaan alam sendiri tanpa memperdulikan dampak dari kerusakan yang mereka buat. 

Penguasa yang seharusnya melindungi dan menyejahterakan rakyat, justru berbalik arah dan membuat rakyat menderita. Bukan hanya dengan segala kebijaksanaan nyeleneh yang justru menyengsarakan rakyat, tetapi juga dengan perampasan hasil bumi dan memberikannya kepada pihak asing. 


Kegagalan dalam mengadopsi sistemlah yang menjadikan penguasa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pelindung umat. Sebuah sistem yang memaksa manusia mengabaikan perintah dan larangan Allah SWT dan lebih mementingkan urusan dunia, menganggap dunia sebagai ladang untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki. Sebuah sistem yang rusak (kapitalisme) sudah pasti akan melahirkan kerusakan pula. 


Satu-satunya jalan untuk dapat mengembalikan kesejahteraan umat adalah dengan menerapkan aturan yang benar yang berasal dari Allah SWT . Sebuah sistem yang mampu mengembalikan peran negara sebagai raa'in dan junnah bagi umatNya. Yakni dengan mengembalikan kehidupan Islam dan menerapkan aturan Islam. 

Ketika sebuah negara menerapkan aturan Islam, maka seorang pemimpin wajib melindungi rakyatnya dari segala mara bahaya, termasuk datangnya bencana alam. 


Di dalam sistem pemerintahan Islam, negara wajib mengambil langkah-langkah penting guna mencegah datangnya bencana seperti, Mitigasi Struktural (Fisik) yakni pembangunan infrastruktur untuk mengurangi dampak bencana, seperti membuat tanggul untuk mengurangi banjir, bangun tahan gempa, juga membuat sistem peringatan dini (EWS)tsunami. Juga Mitigasi Non-Struktural (Non-Fisik) yakni peningkatan kesadaran akan bahaya banjir, dengan mengkampanyekan penghijauan hutan, sinitasi, dan larangan pembangunan dikawasan rawan bencana. Termasuk perusakan lingkungan seperti penggundulan hutan, alih fungsi lahan, dan pertambangan. Juga memberi pelatih kepada masyarakat untuk dapat mengevakuasi mandiri saat terjadi bencana.


 Saat terjadi bencana, negara akan dengan cepat melakukan penanganan darurat dengan mengevakuasi korban juga memberikan bantuan seperti tempat pengungsian,makanan, obat-obatan, air bersih, medis, juga membuka akses jalan dan mengkoordinir semua pihak berwajib untuk turut serta membantu korban bencana alam. Semua ini dilakukan atas perintah kepala negara beserta jajarannya sebagai kewajiban dalam pengurusan umat. Dalam negara Islam, seorang pemimpin tidak akan pernah membiarkan rakyatnya memikul beban sendiri, bahkan dikala bencana alam melanda. Semua bantuan yang diberikan kepada para korban bencana diperoleh dari Baitulmal sebagai lembaga yang mengatur keuangan negara. 


Selain itu, negara juga wajib merehabilitasi daerah-daerah pascabencana seperti pemulihan sosial dan ekonomi, perbaikan infrastruktur, pemulihan lingkungan, dan Peningkatan Ketahanan (Build Back Better), agar masyarakat bisa kembali menempati tempat tinggal mereka seperti sedia kala. 

Semua ini adalah bagian dari tugas seorang pemimpin negara, yang mana kepedulian dan tanggungjawab dalam membantu serta melindungi masyarakat menjadi prioritas utamanya. Seperti yang dijelaskan dalam hadist.. 

"أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ..." 

Terjemahan:

"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin bagi manusia, dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya..." (HR.Bukhari dan Muslim)

Dalam kapitalisme seorang pemimpin negara melalaikan tanggungjawabnya dalam pengurusan umat, maka rakyat berhak untuk mengganti kepala negara dengan seorang pemimpin baru yang dipilih oleh rakyat itu sendiri. Sebab menjadi sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. 

Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik pemimpinmu adalah mereka yang kamu cintai dan mencintaimu... Seburuk-buruk pemimpinmu adalah mereka yang kamu benci dan membencimu..." (HR. Muslim). Wallahu alam Bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update