Oleh : Herra (aktivis muslimah)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, Jawa Barat, menyatakan akan segera mengirimkan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengikuti program pesantren kilat dalam waktu dekat. Langkah ini merupakan upaya penguatan pembinaan karakter dan spiritualitas aparatur.
Bupati Bandung Dadang Supriatna menjelaskan, program tersebut akan menyasar ASN pada jenjang Eselon II dan III. Tujuannya adalah meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan mereka dalam menjalankan tugas pemerintahan. Ia menyebutkan, program pesantren kilat akan diisi dengan beragam materi keagamaan, pembinaan mental, serta penguatan nilai-nilai integritas yang relevan dengan tugas dan fungsi seorang ASN. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun budaya kerja yang berlandaskan moral, etika, dan kejujuran di lingkungan birokrasi. Bupati Dadang menegaskan, penguatan karakter ASN merupakan fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Ia menyebut ASN tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis dan administratif, tetapi juga harus memiliki akhlak serta sikap yang mencerminkan pelayanan publik yang humanis. Program pesantren kilat ini diharapkan dapat memberikan pendidikan karakter secara bertahap agar seluruh ASN Eselon II dan III mampu memberikan pelayanan secara optimal kepada masyarakat (Metrotv 6januari 2026).
Program ini muncul karena yang dirasakan masyarakat terhadap pelayanan publik yang kurang memuaskan. Bahkan adanya oknum - oknum ASN yang melakukan pelanggaran membuat masyarakat geram karena selama ini ASN dianggap menggunakan gaji dari masyarakat lewat pajak. Tentu ini menjadi perhatian khusus bagi masyarakat. Pesantren kilat boleh saja namun ini bukan solusi apalagi dilakukan hanya sesekali yaitu ketika muncul masalah-masalah kedisiplinan,tanggung jawab, keteladanan dan moral. Ibarat menabur garam dilautan tidak akan berpengaruh secara signifikan, semua hanya solusi pragmatis tambal sulam.
Selama lembaga dimana tempat bekerja dasarnya adalah sekuler kapitalis maka akan sulit membentuk karakter religius.
Islam memiliki konsep dan dasar- dasar pembinaan karakter/kepribadian individu muslim agar memiliki kepribadian Islam (syakshsiyah islamiyah) yaitu pola pikir (aqliyah islamiyah) dan pola jiwa Islam (nafsiyah islamiyah). Mengarahkan dan membentuk pola pikir dilakukan dengan cara menempatkan Islam sebagai pemimpin dalam berfikir dan menentukan standar baik dan buruk suatu perbuatan. Adapun bentuk pola jiwa dimaksudkan agar rasa cinta dan bencinya terhadap segala sesuatu disandarkan pada ahukum syariat Islam. Sehingga menerima syariat Allah Swt dengan kerelaan hati.
Islam menuntun manusia untuk menempatkan halal haram dalam setiap perbuatannya, keimanan harus ditingkatkan dan kedekatannya dengan Allah SWT (muraqabattullah) harus dibentuk. Ditunjang dengan aturan dari negara yang mengikat masyarakat agar taat terhadap syariat. Dengan demikian kepribadian akan menjadi baik.
Dan itu semua hanya bisa dilakukan dalam suasana kehidupan islami yaitu dalam sistem khilafah Islam.
Untuk itu sudah seharusnya kita kembali pada aturan sang pencipta seperti yang sudah dilakukan oleh suri tauladan kita nabi Muhammad Saw.
Wallahualam bishowab.

No comments:
Post a Comment