Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Dugaan praktik pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) kembali mencoreng dunia pendidikan. Di Kota Bekasi, sekitar 1.500 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) diduga menjadi korban pemotongan dana bantuan pendidikan yang seharusnya diterima utuh (bekasipedia.com, 05_01-2026).
Ketua DPRD Kota Bekasemerintahkan audit menyeluruh setelah muncul dugaan pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp100 ribu per siswa saat penyaluran bantuan pendidikan, yang dinilai merugikan siswa penerima. Pemerintah daerah tengah diminta menelusuri alur pengelolaan dana tersebut untuk memastikan dana PIP benar-benar diberikan secara utuh kepada siswa sesuai ketentuan dan tidak terjadi penyalahgunaan anggaran.
Tata Kelola Ladang Tipu Daya Kapitalistik
Miris. Ranah pendidikan yang seharusnya menjadi tempat pemenuhan kebutuhan terdidiknya geneirasi terdistruksi dengan bocornya dana pendidikan.
Tata kelola anggaran pendidikan dimainkan penuh ajang curi cuan. Ladang kapitalis memberi peluang asyik walau melalui curahan anggaran untuk pendidikan.
Fasilitas sekolah yang timpang menguatkan dugaan pemotongan dana siswa. Skema bantuan seperti PIP dan BOS dengan distribusi panjang begitu rawan dikorupsi karena minim pengawasan substansial.
Menjadi lumrah. Saat kapitalisme menggeser pendidikan dari hak publik menjadi komoditas, anggaran pendidikan diperlakukan sebagai ladang proyek, ajang cari cuan, bukan ajang mewujudkan generasi berkualitas. Alhasil, walaupun banyak program dirancang, kualitas pendidikan dan prestasi siswa tak kunjung gemilang.
Seiring dengan ini, respons Dinas Pendidikan yang seharusnya cepat, tegas dan kuat pengawasan tidak demikian adanya. Praktik penyimpangan pun kian panjang, krisis sistemik pendidikan semakin pelik. Jika dibiarkan, kisah berlanjut tanpa kesudahan yang diharapkan. Tipu daya kapitalistik akan terus mencekik.
Butuh Sistem Ideal
Terkait anggaran pendidikan, agar bisa terlepas dari pencari cuan haram( korup), butuh sistem ideal yang bisa membebaskan manusia dari mental korupsi sehingga anggaran yang ada bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Sistem yang sesuai dengan fitrah manusia yang senantiasa berada di jalan takwa sangat dibutuhkan untuk menjaga. Di dalamnya spirit iman dan takwa akan menjadi self control para pejabat termasuk pejabat pendidikan agar tidak keluar dari rel syariat, termasuk korupsi, dan penyelewengan anggaran, serta pelanggaran syarak lainnya. Dan Islam memiliki kekuatan penjagaan terbaik.
Sistem Islam menjamin kebutuhan rakyat, termasuk kebutuhan kolektif berupa pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Anggaran ini berasal dari baitulmal yang memiliki pos pemasukan dan pengeluaran yang sudah dirancang dengan baik dan rapi. Termasuk anggaran untuk pendidikan sudah dipersiapkan agar rakyat mendapatkan hak pendidikan dengan sebaik-baiknya.
Islam menjamin kesejahteraan para guru dan semua yang terlibat dalam pendidikan, menjamin para murid agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Semua bisa terealisasi karena adanya kebijakan negara yang bertanggung jawab secara penuh terhadap semua urusan rakyatnya, sebagaimana hadis Rasulullah saw. bahwa seorang pemimpin itu adalah penanggung jawab, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Islam telah menjejakkan contoh terbaik. Salah satunya pendidikan di masa Kekhalifahan Abbasiyah yang berkembang pesat karena adanya dukungan sarana dan prasarana serta banyaknya lembaga pendidikan. Perkembangan ini membawa kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya Islam yang menggema ke seluruh dunia.
Kemajuan ini tentunya tidak terjadi dengan begitu saja. Diterapkannya sistem yang ideal yaitu sistem Islam telah merajut kegemilangan yang luar biasa.
Kemajuan ini tidak luput dari ilmu agama yang banyak berperan, yakni para ulama dan pemerintah memberi dukungan kuat, berupa moral, finansial, dan material. Oleh karena itu jika memang berharap anggaran pendidikan sesuai dengan penggunaan yang diharapkan, sesuai dengan kualitas yang dibangunkan, maka sistem sekuler kapitalis harus dicampakkan dari tata kelola pendidikan. Menggantikannya dengan sistem Islam Kaffah yang ideal harusnya menjadi deal yang tak lagi ada tandingannya.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment