Oleh Layli Hawa
Aktivis Muslimah
Penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan musiman, melainkan tragedi tak berkesudahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Waktu yang terus bergulir tak kunjung menemukan titik terang. Fakta menghawatirkan, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza kembali bertambah menjadi 71.441 orang, meskipun perjanjian gencatan senjata terus dilakukan.
Sebanyak apapun gencata senjata yang disepakati, sebanyak itu pula Israel mengkhianatinya. Pun sama dengan gencatan senjata 10 Oktober 2025 lalu, Dalam pernyataan yang dirilis Kantor Media Pemerintah Gaza, Kamis (15/1), disebutkan bahwa selama 95 hari fase pertama gencatan senjata, serangan Israel menewaskan 449 warga Palestina, melukai 1.246 orang, serta mengakibatkan 50 orang ditangkap.
Pelanggaran yang dicatat meliputi 402 kali penembakan langsung ke arah warga sipil, 66 kali masuknya kendaraan militer Israel ke kawasan permukiman, 581 serangan bom terhadap rumah warga dan penduduk, serta penghancuran 195 rumah dan bangunan publik.
Pemerintah Gaza juga menyoroti kegagalan pelaksanaan komitmen kemanusiaan dalam kesepakatan gencatan senjata. Dari 57.000 truk bantuan yang seharusnya masuk selama fase pertama, hanya 24.611 truk yang benar-benar diizinkan masuk ke Gaza. (Aa.com, 15-01-2026)
Menyakitkan. Perasaan pilu setiap jiwa kaum muslim membaca kabar Palestina yang tidak ada habisnya. Menyadari ini, agresi militer disana tak akan cukup dihentikan dengan hanya melalui gencatan senjata.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa setiap upaya gencatan senjata sering kali hanyalah "ilusi" yang memberi waktu bagi rezim untuk mengatur ulang strategi. Karena pada hakikatnya, Palestina butuh kemerdekaan hakiki yang dapat menyelesaikan konflik disana.
Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat dunia untuk menghentikan genosida. Tetapi semua bak angin lalu yang tidak berbekas. Kecaman, aksi turun ke jalan, hingga pesan perdamaian terus digaungkan. Masih saja pendudukan Israel Yahudi terus menguat, rakyat hanya bisa pasrah dengan berbagai serangan.
Upaya pragmatis yang terus ditawarkan PBB juga hanya akan terus memperkuat pertahanan penjajahan Israel atas tanah kaum Muslimin. Solusi dua negara bukan solusi tepat berakhirnya konflik, ini harus diselesaikan dengan solusi sistemik.
Palestina bukan sekadar tanah air bagi warga disana, melainkan tanah milik seluruh umat Islam yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsa, kiblat pertama umat Islam. Maka sudah sepantasnya kita terus mengingat bahwa penderitaan mereka adalah penderitaan seluruh kaum Muslim. Rasulullah mengingatkan bahwa:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
Seharusnya keberadaan pemimpin-pemimpin muslim dunia menjadi pelopor untuk segera menuntaskan masalah ini dengan solusi Islam. Solusi yang bersumber dari akidah Islam tidak akan pernah cacat dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan manusia, individu hingga dunia. Karena sesungguhnya pemimpin adalah benteng umat, dimana rakyat bergantung kepadanya.
"Sesungguhnya Al-Imam (pemimpin/khalifah) itu laksana perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)
Namun dalam kapitalisme, pemimpin bukanlah junnah/perisai umat. Pemimpin hari ini hanyalah boneka Barat yang turut memuluskan rencana jahat penjajah. Mereka tidak lagi peduli pada urusan rakyat. Sekat nasionalisme juga menambah ketidakberdayaan penguasa terhadap urusan negeri lain.
Untuk mewujudkan solusi hakiki di Palestina, maka dibutuhkan penyatuan kekuatan dalam rangka menyadarkan umat. Pertama, membeberkan fakta yang terjadi sebenarnya bahwa ini bukan hanya konflik lahan tetapi penjajahan Israel Yahudi atas tanah kaum muslim. Kedua, bukan two-state solution tetapi Palestina harus mendapatkan kembali hak kepemilikan seutuhnya dan mengusir penjajah Israel. Ketiga, mendorong pemimpin muslim dunia untuk mengirim tentara militer membebaskan rakyat Palestina.
Mengingat umat telah dibutakan dengan pemahaman kompleks dalam memandang suatu urusan dan kehidupan, ketiga upaya ini harus dijalankan oleh para pengemban dakwah. Seorang pengemban dakwah yang memiliki kemurnian berpikir, pasti menginginkan kebangkitan dan berusaha mewujudkan gelar khoiru ummah (ummat terbaik).
Allah berfirman: "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (Ali Imron:110)
Namun semua itu tidak akan terwujud dalam sistem kapitalisme. Tetapi dalam sistem terbaik daulah khilafah Islamiyah yang telah berhasil mengubah tatanan dunia menjadi naungan paling aman dan nyaman bagi seluruh umat manusia. Daulah khilafah berhasil menyatukan perbedaan ras, agama, suku, bangsa hingga etnis tanpa kedengkian. Sebab khilafah dibangun atas dasar akidah Islam dan syariah Allah SWT.
Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa sistem kapitalisme global dan tatanan internasional saat ini tidak akan pernah memberikan keadilan dan kedamaian bagi Palestina. Hanya dengan tegaknya Khilafah Islamiyyah ‘ala minhaj nubuwwah, umat akan kembali memiliki benteng yang menjaga darah dan kehormatan mereka. []
No comments:
Post a Comment