Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Agar Banjir Tidak Berulang, Butuh Solusi Ideologis Bukan Hanya Teknis

Sunday, January 04, 2026 | Sunday, January 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T05:17:58Z



Oleh : Ummi Munib 


Musibah banjir terjadi dimana-mana. Lumrahnya ketika berada pada musim penghujan maka intensitas curah hujan meninggi. Hal ini bisa menyebabkan banjir langganan di wilayah Kabupaten Bandung. Kecamatan Baleendah, Bojongsoang dan Dayeuhkolot merupakan tiga kecamatan yang terendam banjir sebagaimana dicatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung.                       .


Menyikapi pasca banjir yang terjadi diwilayahnya, Pemerintah Kabupaten Bandung dengan dukungan Gunernur Jawa Barat terus berupaya melakukan penanggulangan banjir secara bersama-sama di berbagai daerah.  Diantaranya di daerah Tegalluar, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot berupa  pelebaran sisi kanan dan kiri sungai sekitar 2-3 meter, dan normalisasi Sungai Cipamokolan Lama sepanjang 2,7 kilometer. Dadang juga mengungkapkan upaya lainnya yaitu meninggikan sungai Sukabirus, Dayeuhkolot dengan anggaran Rp 4 miliar dan untuk jembatan Pasigaran Rp 1 miliar.  Pekerjaan ini akan segera ditenderkan secepatnya  selepas evaluasi Gubernur atas APBD 2026 Kabupaten Bandung. Bahkan Dadang  pun akan mengambil langkah ke depan dalam hal regulasi perumahan, dimana  perumahan harus  memiliki tempat parkir air, seperti embung.


Senada dengan Bupati Bandung, Ono Surono selaku Wakil Ketua DPRD Jawa Barat menyoroti peran penting pemerintah.  Mulai dari tingkat provinsi hingga desa, baik dari sisi anggaran, maupun langkah antisipasi berupa peningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Pemerintah tidak hanya sibuk saat tanggap darurat, tapi serius dalam mitigasi bencana secara tuntas untuk pencegahan sekaligus mengurangi dampak. (Pikiran Rakyat Koran 19/12/2025)


Problema banjir seakan tak menemukan jalan keluar, pasti terus berulang setiap tahunnya.  Faktor  terjadinya banjir yang di klaim karena curah hujan yang tinggi bukanlah alasan, andai dipersiapkan maksimal, baik dari hutan, daerah resapan, sungai yang memadai, drainase yang mencukupi, dan yang lainnya. Banyak para ahli yang mampu mendesain wilayah, agar   ketika tiba di musim penghujan tidak banyak wilayah yang menderita karena banjir. 


Hujan jangan dipandang sebagai musibah atau bencana, melainkan  rahmat dari Allah SWT,  bagi mahluk hidup  dan kehidupan. Sebagian besar aktivitas kehidupan tergantung pada tersedianya air. Manusia diberi akal oleh Allah Swt. untuk mampu memanfaatkan air hujan ini ketika tiba di musim kemarau. Hutan yang lebat bisa menyimpan cadangan air, begitupun wilayah resapan air.Selama ini kita akui pemerintah tidak tinggal diam, bersama jajarannya bergerak bak pemadam kebakaran.  Akan tetapi banjir bukanlah masalah teknis semata namun bersifat ideologis. Tata kelola kota dan alih fungsi lahan,  memaksa daerah yang semestinya menjadi kawasan resapan air, berubah menjadi  bangunan dan gedung.  Menjadikan sungai tak mampu menampung debit air yang berlebih. Selain itu sungai-sungai yang  dibiarkan mengalami sedimentasi, Daerah aliran sungai (DAS)  yang  didirikan bangunan, hutan tutupan yang digunduli, tata ruang yang tidak dipatuhi, dan kebiasaan membuang sampah di sungai,  serta banyak hal lainnya.


Semua ini akibat dari  pengembangan wilayah  dan tata kelola  yang kapitalistik, yaitu mengedepankan keuntungan, sehingga tidak memperhatikan kepada dampak lingkungan yang diakibatkannya. Pemisahan aspek  agama  dari pembangunan telah menimbulkan keserakahan manusia  dan kerusakan terhadap alam semesta. Akibatnya banjir melanda dimana mana.


Sudah saatnya penyelesaian banjir bukan hanya teknis, tetapi ideologis atau sistemik. Islam adalah agama sekaligus ideologi yang mampu mengatur berbagai aspek kehidupan termasuk mengantisipasi banjir. 


Penguasa dalam sistem Islam dibaiat untuk menerapkan hukum Allah Swt. Sehingga seluruh kebijakan khalifah tidak condong kepada kepentingan golongan tertentu sebagaimana dalam sistem kapitalisme. Seluruh rakyat harus dijamin keselamatannya termasuk dari banjir. Maka sebab-sebab yang Penguasa dalam Islam tidak boleh mengeluarkan izin penggundulan hutan, terlebih hutan merupakan milik umum yang manfaatnya harus dirasakan seluruh warga negara. Mengatur berbagai pembangunan, drainase, sungai, dan lainnya semata dalam rangka mengurus rakyatnya sebagai amanah kepemimpinan. 


Selain itu penguasa dalam lslam memastikan agar warga negara nya tidak banyak melakukan berbagai kemaksiatan yang bisa mengundang azab Allah. Mereka diseru untuk melakukan ketaatan dan bertaubat. 


Demikianlah sistem Islam menyelesaikan banjir. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Allah Swt. yang melindungi. Allah Swt. berfirman dalam surat Ar-rum ayat 41: _Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar)._


Wallahu a'lam bi Ash shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update