Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Strategi Pemerintahan Islam Menghadapi Bencana.

Wednesday, December 10, 2025 | Wednesday, December 10, 2025 WIB Last Updated 2025-12-10T09:25:00Z


Oleh: Emy (aktivis muslimah)


Jakarta, CNN Indonesia - Data korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera per Senin (1/12) petang menjadi 604 orang. Kepala Pusat Data, informasi dan komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan jumlah korban yang ditampilkan merupakan data terbaru. "Data yang tampil data terupdate", ujar Abdul Muhari kepada wartawan, Senin. Berikut ini korban bencana Sumatera yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumber) per pukul 17.00 WIB, Senin (1/12): 

Adapun rincian korban jiwa di Aceh sebanyak 156 orang, korban hilang 181 dan korban luka 1.800 orang. Kemudian korban meninggal di Sumbar sebanyak 165 orang, korban hilang 144 jiwa, dan 112 orang terluka. Sementara di Sumut, jumlah korban meninggal 283 orang, 169 orang hilang, dan 613 terluka.


Banjir bandang dan longsor yang memporak porandakan pulau Sumatera dan Aceh, menambah catatan kelam betapa lemahnya tata kelola Negara ini. Hampir setiap tahun bencana banjir terjadi seakan sudah menjadi hal yang biasa. Sungguh miris menyaksikan bencana yang terjadi di Sumatra, tidak sedikit yang menjadi korban meninggal dunia bahkan korban hilang tidak ditemukan, kalau sudah terjadi seperti siapa yang akan bertanggung jawab?, dan seakan saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Dalam masalah ini, selalu saja faktor cuaca ekstrem dan alam dijadikan kambing hitamnya. Padahal bencana terjadi karena ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Hutan dan pepohonan telah dialihkan fungsi menjadi pohon sawit atau pohon sejenisnya yang tidak kuat menahan tanah dan mengakibatkan longsor. Bukan saja didaerah lain, fakta yang terjadi saat ini didaerah kita sendiri banjir seakan sudah menjadi langganan yang datang hampir setahun sekali. Para kapitalisme berlomba-lomba mengalihkan fungsi, merubah lahan pertanian dan perkebunan menjadi perumahan yang mewah dengan harga yang fantastis. Oleh sebab itu, masyarakat sekitar hanya kebagian imbas akibat keserakahan mereka. Daerah yang tadinya tidak pernah terkena banjir, kini harus rela merasakan luapan air yang tertahan oleh tembok yang kokoh dan tidak terserap oleh pepohonan, akibatnya air meluap dan mengakibatkan banjir.


Selama negeri ini bergandengan dengan para kapitalisme, yang hanya melihat bencana sebagai faktor alam saja, pasti bencana tidak akan berhenti dan akan terus terjadi. Para kapitalisme Aseng dan Aseng tahu betapa melimpahnya kekayaan alam yang terpendam dinegeri ini. Perizinan tambang dan perkebunan terus dibuka, dan pengelolaan tata ruang lebih tunduk kepada pemilik modal dan tidak memperdulikan keselamatan rakyat, dan akibatnya alam menjadi rusak karena perbuatan mereka. Seperti yang tercantum dalam Al Qur'an, Surat Ar-Rum Ayat 41. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian perbuatannya supaya mereka kembali ke jalan yang benar.


Negri yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi seakan hanya slogan saja, pada faktanya negeri ini rawan akan bencana yang ditimbulkan ulah mereka sendiri. Dalam sistem Islam, pemerintah akan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan lahan-lahan yang tidak boleh dialihfungsikan menjadi lahan pertanian, insfratruktur sehingga kelestarian alam akan terjaga dan rakyat akan terhindar dari bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Oleh karena itu, pemerintah dalam sistem Islam tidak akan membuat kebijakan yang dapat merusak lingkungan dan merugikan rakyat, karena pemerintah dalam Islam lebih peduli pada kesejahteraan dan keselamatan rakyatnya. Karena pemimpin adalah amanah yang akan diminta pertanggungjawaban atas yang di pimpinnya diakhirat kelak. Oleh karena itu, bencana banjir dan longsor bukan hanya disebabkan oleh faktor alam. Tidak bisa dipungkiri bencana ini ada campur tangan para kapitalisme yang diadopsi di negeri ini.

Solusi satu-satunya adalah sistem Islam, pemerintahan dalam sistem Islam mampu menjamin kesejahteraan lingkungan secara serius. Kepemimpinan dalam Islam akan memprioritaskan rakyat, diatas kepentingan yang lainnya termasuk para pemilik modal. Dan akan memanfaatkan sumber daya alam yang diberikan Allah SWT untuk kepentingan umat, dan akan benar-benar mengurusnya sebagai salah satu amanah. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah atau menyeluruh dalam segala aspek kehidupan.


Wallahu alam Bis'showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update