Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perangkap Digital ala Kapitalisme: Generasi Muda Dibidik, Judol dan Pinjol Melejit

Monday, December 15, 2025 | Monday, December 15, 2025 WIB Last Updated 2025-12-15T10:36:56Z

 


Oleh: Kursiyah Azis (Aktivis Muslimah)


Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda hidup dalam realitas baru yang berbeda jauh dari generasi sebelumnya. Ruang digital yang seharusnya menjadi wahana belajar, berkreasi, dan membangun masa depan, justru berubah menjadi arena perburuan. Bukan predator fisik yang mengejar, melainkan algoritma kapitalis yang diam-diam membidik mereka sebagai target pasar paling empuk. Dua di antara produk kapitalisme digital paling berbahaya yang kini melejit di kalangan anak muda adalah judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).


Melansir dari Kompas.com, (05/12/2025) Berbagai studi menunjukkan bahwa kaum muda dengan sumber daya finansial terbatas, terutama kaum laki-laki adalah paling sering menjadi target iklan berisiko, seperti pinjaman cepat, investasi kripto, hingga judi daring di platform tertentu.


*Algoritma: Pemburu Senyap yang Membentuk Pilihan Kita*


Jika dahulu manusia memilih apa yang ingin ia lihat. Sekarang justru algoritma yang memilihkan apa yang harus kita lihat. Terutama yang membuat kita betah, dan kecanduan hingga akhirnya kita dengan mudah mengeluarkan uang berapapun jumlahnya agar aktivitas tersebut terus berjalan lancar.


Disamping itu generasi muda, dengan karakter yang dinamis, emosional, dan sering mencari validasi sosial, kerapkali menjadi kelompok paling rawan untuk dijadikan target sasaran. Algoritma memetakan mereka dalam jutaan data, sehingga dalam waktu bersamaan pula sistem tersebut bisa tahu kapan mereka online, apa yang mereka klik, apa yang membuat mereka berhenti scrolling, bahkan apa yang membuat mereka gelisah. Pada akhirnya dari data itulah, sistem ini terus mendorong mereka ke konten yang paling menguntungkan suatu platform tertentu.

Meskipun susungguhnya tidak semua konten hanya berisi sesuatu yang negatif, namun hampir semua hal yang membuat generasi betah bermedia sosial rata-rata terpaku pada tontonan unfaedah, padahal jika bisa kita memilih, tentu kita akan memilah tontonan apa saja yang bermanfaat, namun masalahnya algoritma telah memilihkan kita konten yang paling menguntungkan bagi pembuatnya, bukan konten edukatif, bukan pula konten moral, apalagi konten yang bertujuan untuk membangun karakter, karena bagi mereka yang paling menguntungkan adalah konten sensasional, emosional, impulsif, termasuk tawaran judi online dan pinjol.


*Judol dan Pinjol Melejit: Hiburan Semu yang Memalak asa*


Seiring kecanggihan teknologi digital hari ini, judol (judi online) tumbuh dengan begitu cepat, hal ini di pengaruhi oleh beberapa faktor; Pertama. Algoritma mempromosikannya secara masif di setiap waktu, sehingga begitu seseorang klik video terkait hiburan berbau sensasi, tak lama kemudian iklan atau konten terselubung judol akan muncul. Dengan desain visual memikat, influencer yang memancing rasa penasaran, dan narasi “cair cepat”, anak muda pun tergiring ke arah sana.


Kedua. Judol memberikan dopamin instan. Sistemnya sengaja dibuat seperti gacha game, sekali menang memberi euforia, sekali kalah memancing ambisi untuk “balik modal”. Inilah jebakan psikologis yang menjadikan judol adiktif.


Ketiga. Dikemas sebagai hiburan modern. Judol tak lagi tampak kriminal. Ia membungkus diri dengan warna-warni, selebriti, dan promosi “hadiah besar” , sehingga secara otomatis tampak normal di mata orang awam maupun generasi terpelajar sekalipun.


Padahal di balik layar, judol merupakan mesin penghancur finansial. Ratusan ribu anak muda kehilangan uang, kepercayaan diri, bahkan hubungan keluarga, karena kecanduan yang awalnya hanya dianggap “coba-coba”, dan saat aktivitas judol kehabisan modal, maka muncullah solusi yang bernama pinjol ( Pinjaman Online). Dalam hitungan menit, uang cair. Tidak perlu agunan. Tidak perlu repot. Padahal kemudahan itu laksana umpan yang mematikan.


Bagaimana tidak, usai melakukan pinjol maka ada bunga yang mencekik, denda bergulung, sebar data, hingga teror penagih menjadikan banyak anak muda jatuh dalam jerat yang jauh lebih berat daripada masalah awal. Tidak sedikit kasus yang berujung depresi, kehilangan pekerjaan, bahkan percobaan bunuh diri. Sejatinya pinjol tumbuh bukan karena masyarakat malas bekerja, tetapi karena sistem kapitalis menciptakan kesenjangan ekonomi, lalu menawarkan solusi palsu yang lagi-lagi hanya menguntungkan para pemilik modal.


*Solusi Islam: Mengubah Akar Sistem, Bukan Sekadar Menutup Lubang*


Islam tidak hanya datang sebagai agama personal, tetapi sebagai sistem hidup yang mengatur hubungan individu, masyarakat, hingga negara. Solusi Islam terhadap fenomena judol dan pinjol tidak berhenti pada nasihat moral, tetapi menyentuh hingga ke akar-akar penyebabnya. Beberapa prinsip-prinsip solusi Islam antara lain;


Pertama. Negara Berperan sebagai Pelindung, Bukan Sekadar Regulator.Dalam sistem Islam, negara wajib menjaga masyarakat dari hal-hal yang merusak akal, harta, dan kehormatan. Dan Judi termasuk bentuk digitalnya yang dilarang total. Bukan sekadar diblokir, tetapi diberantas akar industrinya. Negara tidak membiarkan ruang digital terisi hal-hal yang merusak apalagi hanya demi pendapatan iklan.


Kedua. Sistem Ekonomi Tanpa Riba dan Tidak Menjerat. Pinjol tidak akan ada dalam sistem ekonomi Islam karena selain riba haram, utang juga tidak boleh menjadi alat untuk menindas. Karena itulah negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, dan memastikan keadilan distribusi kekayaan ditegakkan, sehingga dengan ekonomi yang stabil, anak muda tidak terdorong pada solusi instan seperti pinjol.


Ketiga. Mengontrol Teknologi dan Algoritma. Islam tidak anti teknologi, tetapi mengatur penggunaannya, sebab algoritma yang membahayakan masyarakat tidak boleh digunakan. Dengan demikian maka peran negara adalah wajib mengatur platform digital agar tidak memancing kecanduan dan tidak ada eksploitasi data pengguna, selain itu konten merusak diblokir secara sistemik agar tercipta ruang digital mendidik dan menyehatkan.


Ke empat. Mewujudkan Lingkungan Sosial yang Kuat. Islam membangun masyarakat yang peduli, bukan individualistis, karena itulah dalam lingkungan sosial Islam, anak muda tidak dibiarkan menghadapi masalah sendiri, selalu ada kontrol sosial positif, ada juga pendidikan karakter kuat, serta ada dukungan keluarga dan komunitas.


Kelima. Menjamin Kesejahteraan Agar Generasi Muda Tidak Rentan.Dalam sistem Islam, negara menjamin terwujudnya lapangan kerja yang terbuka luas sehingga setiap kebutuhan dasar bisa terpenuhi selain itu akses pendidikan dan kesehatan digratiskan, sedangkan industri halal menjadi prioritas utama, dengan demikian maka kesejahteraan stabil, dan generasi muda tidak menjadi sasaran empuk kapitalisme digital seperti saat ini.


Olehnya itu, maka sudah saatnya kita beralih pada sistem yang melindungi, bukan malah mengeksploitasi generasi. Karena sejatinya judol dan pinjol hanyalah gejala. Akar masalahnya adalah kapitalisme digital yang memandang manusia sebagai komoditas. Selama sistem ini tetap menjadi poros kehidupan, generasi muda akan terus dibidik, algoritma akan terus menjadi predator, dan masa depan generasi akan terus dipertaruhkan. Wallahu'a'lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update