Oleh: Kursiyah Azis (Aktivis Muslimah)
Tantangan yang dihadapi generasi hari ini sungguh semakin kompleks. Mulai dari hadirnya arus informasi yang tak terbendung, penetrasi budaya global, krisis keteladanan, hingga tekanan ekonomi dan sosial telah sukses membentuk lingkungan yang tidak selalu ramah bagi tumbuh kembang iman dan kepribadian para generasi muda. Di tengah situasi ini, melahirkan generasi yang bertakwa sekaligus tangguh bukan lagi tugas satu pihak semata, melainkan ia adalah suatu amanah kolektif bagi seluruh elemen umat.
Selama ini, upaya pembinaan generasi kerap berjalan parsial. Seluruh keluarga diserahi beban utama pendidikan akhlak bagi anak-anaknya, sementara itu sekolah fokus pada capaian akademik semata, sedangkan masjid terbatas pada ritual, sementara itu masyarakat dan negara sering kali berjalan sendiri-sendiri. Padahal, Islam memandang umat sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Tanpa sinergi, celah pembinaan akan selalu ada, dan celah itulah yang kerap dimanfaatkan oleh nilai-nilai yang merusak iman dan karakter generasi penerus.
Padahal keluarga merupakan fondasi utama pembentukan generasi bertakwa. Di rumah, nilai iman, adab, dan tanggung jawab pertama kali ditanamkan. Orang tua bukan sekadar penyedia kebutuhan materi, tetapi pendidik utama yang menanamkan tauhid dan keteladanan akhlak. Namun, keluarga tidak bisa berjalan sendiri menghadapi derasnya pengaruh eksternal. Ketika peran penghuni rumah melemah, lingkungan dan media akan mengambil alih peran pendidikan yang isinya sering kali disuguhi nilai yang bertentangan dengan Islam.
Di sinilah peran lembaga pendidikan dan ulama menjadi krusial. Sekolah dan institusi pendidikan Islam semestinya tidak terjebak pada orientasi nilai semata, tetapi membentuk kepribadian utuh yakni berilmu, beriman, dan berani menghadapi tantangan zaman. Ulama dan dai memiliki peran strategis sebagai penuntun umat, bukan hanya menyampaikan nasihat moral, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang arah hidup dan tanggung jawab peradaban.
Masjid pun harus dikembalikan fungsinya sebagai pusat pembinaan umat. Sebagaimana yang telah dicontohkan dalam sejarah Islam, masjid adalah pusat pendidikan, pengkaderan, dan penguatan solidaritas sosial. Karena sejatinya para generasi tangguh lahir dari ruang-ruang yang hidup dengan ilmu, diskusi, dan aktivitas yang membangun kepekaan sosial. Oleh karena itu ketika masjid hanya menjadi tempat ritual yang sepi dari peran sosial dan intelektual, maka umat akan kehilangan salah satu pilar penting bagi pembinaan generasi.
Selain itu, masyarakat dan lingkungan sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter generasi. Budaya permisif terhadap kemaksiatan, kekerasan, dan individualisme hanya akan melahirkan generasi rapuh. Sinergi umat menuntut keberanian untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kebaikan, di mana amar ma’ruf nahi munkar berjalan dengan hikmah dan kepedulian, bukan justru dengan sikap saling menyalahkan.
Tak kalah penting, sinergi umat juga meniscayakan arah yang jelas. Generasi bertakwa dan tangguh tidak lahir dari sistem yang kontradiktif, yang mana di satu sisi menyerukan nilai moral, tetapi di sisi lain justru membiarkan sistem ekonomi, media, dan kebijakan publik merusak akhlak. Islam mengajarkan bahwa ketakwaan harus ditopang oleh sistem kehidupan yang adil dan mendidik. Tanpa perubahan yang menyentuh akar persoalan, upaya pembinaan generasi akan terus berhadapan dengan arus besar yang melemahkan niat dan tujuan mulia.
Sinergi umat bukan sekadar kerja sama teknis, melainkan kesadaran ideologis bahwa masa depan umat ditentukan oleh kualitas generasinya. Karena generasi bertakwa akan melahirkan ketangguhan moral, sementara ketangguhan iman akan melahirkan keberanian menghadapi tantangan zaman. Olehnya itu ketika keluarga, ulama, pendidik, masjid, masyarakat, dan sistem berjalan seiring dalam satu visi, maka akan lahir generasi yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga siap memimpin perubahan.
Dengan demikan maka, Inilah sejatinya pekerjaan besar umat hari ini. Dimulai dari bergerak bersama, sambil menyingkirkan ego sektoral dan menata ulang peran masing-masing demi melahirkan generasi bertakwa dan tangguh. Sebab, masa depan umat tidak ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang dimiliki, akan tetapi ditentukan oleh seberapa kuat iman dan karakter generasi yang mewarisinya.
Namun semua upaya tersebut akan sulit terwujud tanpa dukungan dari negara, karena dalam sistem sekuler yang diterapkan hari ini, peran sinergi umat senantiasa menemui kegagalan akibat maraknya kebebasan yang di normalisasikan oleh negara.
Olehnya itu maka, sudah saatnya kita mengganti sistem yang mengatur kehidupan kita dengan sistem islam, karena hanya dengan sistem Islam, peran sinergi umat untuk mewujudkan generasi yang bertakwa dan tangguh dapat tercapai. Wallahu'alam.

No comments:
Post a Comment