Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menelisik Gen Z dalam Ruang Digital

Wednesday, December 17, 2025 | Wednesday, December 17, 2025 WIB Last Updated 2025-12-17T03:34:23Z

 


Oleh : Fatinah Rusydayanti (Aktivis Muslimah)


Beberapa tahun belakangan ini, kita sering mendengar istilah GenZ, tapi apa sebenarnya Gen Z itu? Gen Z (Generasi Z) sendiri adalah kelompok yang lahir antara pertengahan 1990-an (sekitar 1997) hingga awal 2010-an (sekitar 2012), walaupun ada beberapa sumber yang mungkin agak berbeda terkait penempatan tahun lahir Gen Z, tapi kurang lebih sekitar tahun ini.  GenZ sering disebut sebagai "digital natives" karena hidup pada era digital.


Di Indonesia sendiri gelombang digitalisasi juga melaju lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk beradaptasi. Pada tahun 2025, jumlah pengguna internet Indonesia diproyeksikan mencapai 229,4 juta jiwa. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat pengguna internet tertinggi di dunia. Dari tingginya pengguna internet ini, ternyata pengguna terbesar didominasi oleh Gen Z. 


Media Kompas (6/12/2025) merilis menguraikan bagaimana Gen Z menjadikan media sosial sebagai arena baru untuk aktivisme, mulai dari isu lingkungan, keadilan sosial, hingga kampanye kesadaran mental. Disisi lain, terjadi tekanan yang muncul dari dunia digital terhadap psikologi Gen Z, di mana mayoritas dari mereka mengaku merasa cemas, tertekan, dan terjebak dalam budaya perbandingan sosial yang tak pernah usai.


Fenomena ini mencerminkan paradoks besar. Mengapa? Karena di satu sisi, generasi muda hari ini tampak lebih kritis, ekspresif, dan memiliki kesadaran terhadap isu publik. Namun di sisi lain, mereka juga terlihat rapuh, mudah putus asa, dan sulit menemukan jati diri yang stabil. Krisis ini bukanlah kondisi yang muncul tiba-tiba, tetapi hasil dari lingkungan digital yang tidak netral. 


 *Dunia Maya yang Sekuler-Kapitalistik* 


Tantangan Gen Z di era digitalisasi ini, sangatlah berkaitan dengan bagaimana ideologi yang diemban dunia saat ini, yakni sekuler - kapitalisme. Pemahaman yang membedakan posisi agama dengan kehidupan sehari hari, serta kapitalis yang hanya mengejar materi. Dunia maya dibangun atas nilai-nilai yang menjunjung kebebasan absolut, kompetisi egoistik, dan budaya konsumtif.


Sehingga tanpa sadar, algoritma yang terbangun dalam jaringan bukan untuk mendidik manusia, tetapi untuk memaksimalkan atensi dan keuntungan semata. Di sinilah Gen Z tumbuh, di antara arus informasi tanpa batas tetapi tanpa arah moral, di tengah peluang besar untuk belajar tetapi juga jurang besar untuk kehilangan pegangan identitas.


Kondisi inilah yang menjelaskan mengapa banyak aktivisme Gen Z tampak berapi-api namun mudah padam. Mereka bergerak cepat merespons isu, namun sering kali hanya sampai pada level simbolik. Aksi mereka lebih didorong sensitivitas moral spontan dari pada pijakan ideologi yang matang. Mereka memiliki energi besar untuk perubahan, tetapi kurang kerangka berpikir untuk memandu perubahan itu. 


Tidak heran bila sebagian dari mereka merasa kosong setelah badai tren digital berlalu, seakan mereka hanya mengikuti arus tanpa benar-benar tahu ke mana hendak menuju. Ikut marah atas ketidakadilan, tapi tak tahu dasar pengetahuan tentang apa sebenarnya ketidakadilan itu, dan bagaimana menyolusikan kemarahan mereka.


 *Pemuda dan Peradaban Islam* 


Saat kita membaca bagaimana suatu peradaban terbangun, selalu ada peran pemuda di dalamnya. Termasuk dengan bagaimana kegemilangan peradaban Islam, juga terdapat peran pemuda di dalamnya. Sejarah Islam memberi banyak contoh bagaimana anak muda menjadi agen perubahan, bahkan pada masa-masa paling kritis. Ali bin Abi Thalib, misalnya, masih sangat muda ketika ia menanggung resiko besar demi melindungi Rasulullah pada malam hijrah. 


Mus’ab bin Umair, pemuda yang dahulu hidup dalam kemewahan, menjadi sosok yang mengubah Yatsrib (Madinah) melalui pendekatan dakwah yang intelektual, sabar, dan strategis. Terdapat pula, Usamah bin Zaid ditunjuk sebagai komandan pasukan besar pada usia delapan belas tahun, sebuah bukti bahwa kedewasaan seorang pemuda dalam Islam tidak diukur dari usia biologis, melainkan dari kualitas visi dan integritasnya. Dan masih banyak contoh pemuda lainnya yang sama luar biasanya.


Tokoh-tokoh muda ini tidak dibesarkan oleh media sosial seperti saat ini yang pemikirannya  disetir oleh tren. Tetapi sudah tertanam dalam diri mereka sistem nilai yang kuat, yakni Islam sebagai paradigma hidupnya. Karena itulah mereka tidak hanya menjadi pemuda yang bersemangat, tetapi pemuda yang mampu mengubah masyarakat secara ideologis. Mereka tidak bergerak karena tren, tetapi karena keyakinan. Mereka tidak sekadar bereaksi terhadap keadaan, tetapi membentuk arah sejarah. Sejatinya, perubahan hanya dapat terjadi jika pola pikir masyarakat berubah berdasarkan pemahamannya, bukan sekadar emosional.


Namun, bukan berarti harus anti pada teknologi. Tetapi teknologi hanyalah alat, dan manusia yang memegang kendalinya. Apa yang menjadi tren di sosial media, berarti itulah pemahaman umum yang ada di masyarakat dan Genz pada khususnya. Oleh karena itu, GenZ perlu diarahkan bukan hanya menjadi sekedar religius, tetapi agar mampu berpikir dalam kerangka Islam. 


Tanpa paradigma, aktivitas mereka akan terus terjebak dalam pragmatisme. Tanpa ideologi yang benar, keresahan mereka tidak akan pernah berubah menjadi gerakan yang bermakna. Tanpa visi Islam, energi digital mereka hanya akan menjadi konsumsi algoritma, bukan pendorong perubahan masyarakat.


Namun tentu saja, membentuk generasi muda bukan hanya tanggung jawab individu. Islam melihat bahwa keluarga, masyarakat, dan negara harus bekerja dalam satu visi untuk membangun karakter pemuda. Keluarga menjadi penjaga awal akidah dan kebiasaan moral. Masyarakat menjadi lingkungan saling mengingatkan dalam kebaikan. Sementara negara memiliki peran strategis dalam memastikan pendidikan, media, dan regulasi publik berjalan sesuai nilai-nilai yang mendukung pembentukan generasi yang kuat.


Sinergi ini telah terbukti efektif dalam sejarah. Generasi muda dalam peradaban Islam dulu tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual, moral, dan kepemimpinan karena mereka tumbuh dalam ekosistem yang sehat secara ideologi. Mereka memiliki arah, tujuan, dan pemaknaan hidup yang jelas.


Di tengah era digital yang penuh distraksi, Gen Z Indonesia sesungguhnya memiliki potensi luar biasa, mengingat mereka kreatif, cepat belajar, dan peka terhadap isu keadilan. Tetapi potensi itu hanya akan menghasilkan peradaban jika diarahkan oleh cara berpikir yang benar. 


Islam menawarkan kerangka itu, bukan dalam bentuk motivasi sesaat, tetapi sebagai sistem nilai yang membentuk identitas dan visi. Pemuda tidak lagi menjadi generasi yang mudah goyah oleh tekanan media sosial, tetapi menjadi generasi yang mampu memimpin, mengarahkan, dan menegakkan nilai-nilai kebenaran di tengah kekacauan zaman.


Jika sejarah telah menunjukkan bahwa perubahan besar di dunia Islam selalu dimulai dari pemuda, maka sangat mungkin bahwa generasi muda hari ini, dengan teknologi yang mereka kuasai dapat kembali memainkan peran itu. Namun syaratnya tetap sama seperti masa lalu yaitu mereka harus memiliki ideologi, keyakinan, dan keteguhan yang memandu energi mereka. Tanpa itu, mereka hanya akan menjadi korban arus digital.  Wallahu’alam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update