Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)
Memilukan. Hampir dua juta orang penduduk Gaza terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka sejak Oktober 2023. Ribuan orang kehilangan nyawa dan ribuan lainnya hilang. Berbagai sarana prasarana pemenuh kebutuhan rakyat hancur.
Demikian juga Sudan. Sejak 15 April 2023 terjadi bentrokan sengit di ibu kota Sudan, Khartoum, antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter. Puluhan ribu warga meninggalkan kawasan Khartoum Utara dan Barat. Tiga ratus ribu pengungsi terpaksa menetap di lokasi-lokasi penampungan padat minim logistik.
Kelangkaan pangan, air bersih, dan obat-obatan diperparah dengan blokade di sejumlah kota dan daerah telah melumpuhkan pemenuhan kebutuhan pokok. Kelaparan melanda. Runtuhnya layanan publik dan terputusnya akses komunikasi, pasokan listrik, dan air bersih di berbagai wilayah melengkapi luka derita rakyat.
Nihilnya kesadaran umat Islam, terutama para pemimpinnya telah meminimalisasi upaya pembebasan Palestina dan Sudan. Penjajahan pemikiran melalui dominasi pemikiran sekuler, telah menjadikan kaum kafir penjajah berhasil membatasi upaya penyatuan umat Islam.
Nasionalisme Hancurkan Ketinggian Umat
Sejak keruntuhan Khilafah Islam, sekat negara membuat negara-negara seolah memiliki kedaulatan dan kemerdekaannya sendiri. Urusan dalam negeri dan luar negeri terpisahkan oleh ide kebangsaan (nasionalisme). Kepedulian terhadap penderitaan sesama hanya sebatas nilai kemanusiaan, bukan karena kesamaan akidah. Bagai satu tubuh telah luruh.
Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Penjajahan pemikiran telah melemahkan pemikiran umat. Melalui berbagai perjanjian dan kerja sama bersyarat, kaum kafir penjajah membungkam umat untuk kritis dengan penjajajahan yang dialami. Pembatasi langkah dalam memperjuangkan kepentingan umat secara menyeluruh pun terdistruksi nasionalisme demokrasi.
Demikianlah, ketinggian umat telah jatuh pada titik terendah. Pemikiran Islam diabaikan, kepemimpinan Islam ditanggalkan. Alhasil sistem sekuler dengan semena-mena kian leluasa menghinakan ajaran Islam berikut penerapannya.
Menjejakkan Solusi Tuntas dengan Tegaknya Khilafah
Sungguh, Barat selalu saja bertubi-tubi melancarkan konfrontasi menyeluruh terhadap Islam. Klaim AS tentang mengutamakan perdamaian dalam menyelesaikan konflik di negeri-negeri muslim, ambigu dengan ambisinya mempertahankan eksistensi globalnya. Hegemoni AS terus saja melaju. Namun kaum muslim seakan tidak berdaya menghadapinya. Alhasil, umat dan pemimpinnya hanya sibuk dengan kecaman verbal dan diplomasi tanpa hasil, sekalipun agresi dan pengkhianatan terus saja berulang.
Oleh karena itu sudah seharusnya umat menyadari solusi mendasar untuk membebaskan negeri-negeri muslim, yakni dengan memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah. Dengannya rancangan strategis dan ideologis dapat diniscaayakan. Hegemoni global pun bisa diakhiri. In syaa Allaah.
Perlu difahami, khilafah adalah kepemimpinan umum umat Islam yang menerapkan hukum-hukum syariat serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Seluruh ulama ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) telah sepakat (ijmak mu’tabar) bahwa hukum menegakkan Khilafah adalah wajib.
Ayat-ayat al-Quran yang merupakan dalil atas kewajiban menegakkan Khilafah adalah ayat mengenai pelaksanaan hukum syariat yang membutuhkan keberadaan seorang khalifah. Selain itu, makna politis adanya institusi pemerintahan Islam adalah menyatukan dan melindungi kaum muslimin. Khilafah akan membebaskan negeri-negeri muslim yang saat ini berada dalam cengkeraman kaum kafir penjajah. Tiadanya khilafah di tengah-tengah umat telah membuat musuh-musuh Islam bebas memangsa, mengadu-domba, melakukan stigmatisasi syariat melalui perang opini, memutarbalikkan fakta, bahkan mencaplok tanah dan kekayaan umat.
Perlu diketahui, khilafah adalah negara superpower yang disegani di kancah internasional pada masa kejayaannya. Setiap jengkal tanah kaum muslim dan seluruh kekayaan alam umat sangat dilindungi, dijaga dengan sebaik-baiknya penjgagaan. Sebagaimana Sultan Abdul Hamid II, khalifah kaum muslim yang mengusir Theodor Herzl tatkala meminta tanah bagi Yahudi di Palestina. Sultan Abdul Hamid II berkata, “Nasihati Tuan Herzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan harta mereka. Jika suatu saat Kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiah.”
Demikianlah dengan kebutuhan umat atas Khilafah, maka keberadaannya tidak dapat ditunda. Adanya komando seorang khalifah melalui amal jihad fisbilillah, umat akan membela setiap jengkal tanah kaum muslim. Tentunya Sudan dan Palestina akan terbebas dengan sempurna.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment