Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Kaffah, Solusi Bagi Generasi Takut Menikah

Sunday, December 14, 2025 | Sunday, December 14, 2025 WIB Last Updated 2025-12-13T20:12:53Z

 


Oleh : Nia Umma Zhafran (Aktivis Muslimah)


Belakangan ini sedang hangat diperbincangkan di media sosial, yakni mengenai generasi muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Fenomena ini sebenarnya berkaitan erat dengan narasi "marriage is scarry" atau ketakutan seseorang untuk menikah. 


Ketakutan ini muncul karena tuntutan ekonomi yang semakin besar setelah menikah. Fenomena ini dimaknai oleh generasi muda, terutama generasi Z dengan mmenempatkan pernikahan bukan lagi prioritas utama yang harus segera dicapai. Perubahan orientasi ini bukan sekadar tren yang mewarnai ruang narasi di media sosial, melainkan refleksi dari adaptasi mendalam terhadap realitas ekonomi dan sosial yang semakin kompleks. Kompas.id(27/11)


Ketakutan akan hidup miskin daripada tidak menikah ini tidak hadir tiba-tiba. Ketakutan tersebut berjalan seiring dengan realitas kondisi perekonomian yang semakin sulit. Dimana generasi sekarang memasuki dunia kerja dalam kondisi ekonomi yang penuh dengan ketidakpastian. Selain itu, masalah ekonomi seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan, upah yang relatif stagnan, hingga biaya hidup yang terus melonjak memberikan kecemasan akan kemiskinan  semakin nyata.


Data dari BPS pun menunjukkan sepanjang tahun 2024 kasus perceraian di Indonesia hampir mencapai 400.000 kasus. Faktor ekonomi berupa masalah keuangan menyumbang seperempat atau sekitar 100.198 kasus perceraian.


Hal ini tidak terlepas dari economic scarring (luka ekonomi), bawaan dari sistem Kapitalisme. Sistem ini menciptakan struktur ekonomi yang timpang,  lapangan kerja sulit, upah yang rendah, dan biaya hidup yang terus meningkat. Negara sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat sehingga beban hidup dipikul per individu.


Sekulerisme pun semakin memperparah keadaan dengan mendorong generasi muda mengejar standar kebahagiaan itu materi. Pendidikan sekuler  dan pengaruh media liberal ini menumbuhkan gaya hidup materialis dan hedonis. Pernikahan dipandang beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan.   


Hal ini sangat kontras dengan sistem Islam kaffah. Didukung oleh sistem hidup yang kondusif yang bernafaskan syariat Islam. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat individu per individu. Negara Ialam bertanggung jawab  membuka lapangan kerja yang luas melalui penerapan sistem ekonomi Islam. Sumber daya alam (SDA) dikelola oleh negara, bukan swasta atau asing, sehingga hasilnya kembali penuh untuk kesejahteraan masyarakat sehingga mampu menekan biaya hidup.


Pendidikan negara Islam berbasis aqidah yang membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Mereka justru menjadi penyelamat umat. Karena dorongan keimanannya, segala aktivitasnya hanya mencari Ridha Allah semata. Dalam sistem Islam, pondasi keimanan individu menjadi hal utama. Termasuk dalam pernikahan. Pernikahan dipandang sebagai bagian dari ibadah yakni amalan sunnah Rasul dimana ada kebaikan di dalamnya dan bentuk penjagaan keturunan. Setiap muslim berhak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga paham visi misi hidup dan kaitannya dengan pernikahan. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai syariat yang menakutkan karena banyak kebaikan di dalamnya. 


WalLaahu a'lam bish showwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update