Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ibu Pertiwi Berduka, Dapatkah Kita Mengambil Pelajaran?

Tuesday, December 09, 2025 | Tuesday, December 09, 2025 WIB Last Updated 2025-12-09T06:45:31Z


 



Pusparini 

Ibu Rumah Tangga 


Indonesia terguncang, kabar duka melanda negeri memenuhi setiap kolom berita, televisi dan media sosial. Musibah yang bukan sekedar bencana alam, tapi lebih pada efek keserakahan dan memerlukan penanganan serius. Banjir bandang dan longsor yang terjadi disejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat memerlukan penanganan kondisi darurat yang cepat dari negara akibat bencana Hidro Meteorologi (CNNIndonesia/23/10/2025). Penyebab bencana ini bukan hanya perubahan iklim, banjir bandang, longsor dan tingginya curah hujan semata, akan tetapi kerusakan hutan yang parah akibat pembalakan liar yang terus berlangsung tanpa kendali dan lemahnya pengawasan aparat dan negara (Inilah.com 30/11/2025). Para penggiat lingkungan yang menyerukan perbaikan ekosistem hutan, malah dicap sebagai Wahabi lingkungan.


Parahnya bencana yang terjadi jelas menunjukan kerusakan ekologi yang sudah lama di biarkan, hutan-hutan yang digunduli, sungai dipaksa menampung air diluar kemampuannya. Setiap batang pohon kayu yang hanyut merupakan bukti keserakahan dan kerusakan yang sekian lama diabaikan. Masyarakat menjadi korban yang paling menderita dan memprihatinkan, mereka harus kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, harta benda, mata pencaharian dan sebagainya. Sementara pelaku utamanya mungkin tengah menikmati berita duka ini dengan segala kemewahannya, sungguh ironis.


Peristiwa ini sudah terjadi berulang kali, namun semua bungkam, seolah musibah datang begitu saja dari langit tanpa bercermin atas kesalahan yang telah diperbuat, yakni keserahan merusak alam secara nyata, memudahkan jalan Investor, sampai pohon penjaga habis karena akarnya telah ditukar dengan keuntungan semata. Demikian fakta yang terjadi dalam sistem kapitalis sekuler. Entah sampai kapan hal ini akan terus terjadi, dimana fungsi negara selama ini.


Upaya pemerintah dalam melakukan mitigasi bencana, langkah-langkah antisipasi, serta pembiayaan sarana dan prasarana penanganan bencana sangat lemah. Evaluasi kondisi alam dalam kaitannya dengan pembukaan dan alih fungsi lahan diabaikan. Pemerintah terkesan lamban dalam penanganan bencana, mitigasi dilakukan seadanya, bahkan menaikan level menjadi bencana nasional pun tak juga dilakukan, padahal kondisi sudah sedemikian parahnya, ada apakah gerangan?.


Musibah ini adalah alarm agar manusia berhenti berbuat kerusakan, mengeksploitasi sumber daya alam karena keserakahan dan keuntungan semata, sesuatu yang khas dari sistem kapitalis sekuler. Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa  "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar-Rum : 20).


Dalam Islam, pemimpin wajib melindungi rakyat dari semua hal yang membinasakan. Diantara kewajibannya memberikan edukasi kepada masyarakat dalam menjaga dan melestarikan alam. Pemimpin akan menetapkan berbagai kebijakan seputar penataan lingkungan dan pemetaan lahan dalam menjaga ekosistem. Negara memiliki  managemen dalam penanggulangan bencana yang sistematis dan terpadu, mulai dari sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur yang memadai, sistem kesehatan dan sistem logistik yang dipastikan menjamin kebutuhan primer korban bencana alam.


Penanganan dan penanggulangan bencana dalam sistem Islam sangat diperhatikan. Pemerintah memiliki pos keuangan khusus untuk rehabilitasi bencana melalui Baitulmal dan memiliki sejumlah mekanisme pendanaan untuk mengantisipasi terjadinya bencana yang menimpa masyarakat. Membiayai tata kelola lingkungan untuk mencegah kerusakan,  edukasi terhadap masyarakat perihal mitigasi bencana, studi kelayakan tata ruang dan pemukiman. Pendanaan tidak menjadi masalah ketika bersinggungan dengan kebutuhan primer rakyat, terlebih dalam kondisi darurat karena bencana. Tidak ada alasan untuk pihak asing memberikan bantuan melalui hutang, apalagi riba. 


Belajar dari Amirul Mukminin Umar Bin Khotob, yang menyerukan kepada rakyat untuk bertaubat ketika negeri kaum muslimin dilanda wabah, karena beliau yakin bahwa bencana yang menimpa diantaranya karena dosa yang dilakukan, selain sigap menyusun langkah-langkah penyelamatan. Begitu juga pada masa kekhilafahan Usmaniyah, ketika korban sudah mencapai 200 jiwa maka Khalifah segera menetapkannya sebagai bencana nasional dan serius melaksanakan penanggulangan. Sudah saatnya solusi tambal sulam khas kapitalis kita tinggalkan, dan beralih pada Islam yang memiliki solusi menyeluruh dalam setiap persoalan manusia.


Wallahua'lam Bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update