Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gen Z dan Teknologi dalam Pengaruh Hegemoni Kapitalis

Friday, December 19, 2025 | Friday, December 19, 2025 WIB Last Updated 2025-12-19T00:30:00Z




Oleh Rosita

Pegiat Literasi


Generasi Z dan teknologi bagaikan sahabat yang sulit dipisahkan dari identitas dan kehidupan sehari-hari, di mana mereka menggunakan teknologi untuk berbagai aktivitas seperti belajar, bersosialisasi, dan bekerja. Dalam era digital saat ini tidak bisa dielakkan lagi banyak sekali kemudahan yang didapat akan tetapi tidak sedikit pula pengaruh buruknya, mereka tumbuh dalam era digital yang memberikan kebebasan berekspresi tanpa batas melalui berbagai platform seperti Instagram, Tik-tok, dan Twitter.


Kebebasan berekspresi tersebut realitasnya sering berbeda. Bagi Gen Z,  media sosial bukan hanya tempat untuk berekspresi tetapi juga arena persaingan yang tak terlihat, seperti standar kecantikan yang nyaris sempurna, gaya hidup mewah yang dipertontonkan, serta tuntutan untuk selalu tampil menarik, hal ini menciptakan tekanan yang luar biasa bagi Gen Z, artinya gaya hidup mereka saat ini dipengaruhi oleh algoritma dan ekspresi sosial yang tidak selalu realistis karena Gen Z dipandang sebagai generasi lemah.


Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 5,5% remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental, dengan rincian 1% mengalami depresi, 3,7% cemas, 0,9% mengalami post-traumatic syndrome disorder (PTSD), dan 0,5% mengalami attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Selain itu, sebuah laporan hasil survei di 26 negara termasuk Indonesia menemukan penggunaan medsos membawa rasa khawatir dan cemas lebih besar pada Gen Z dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. (detikNews.com, 21/04/2025)


Di sisi lain Gen Z juga memiliki kelebihan yang cukup membanggakan yakni kepekaan dan potensi kritis terhadap kondisi di sekitar mereka, aktif memimpin perubahan atas kesadaran isu, membangun komunikasi dan menginisiasi gerakan yang ramah lingkungan. Itu artinya Gen Z menjadi generasi berani berekspresi, berani melawan ketidakadilan, dan memiliki potensi sebagai agen perubahan untuk masa depan yang lebih baik, hal ini mereka lakukan bukan hanya di media sosial saja tetapi sering berlanjut ke aksi nyata seperti demonstrasi atau kampanye sosial.


Terlepas dari itu semua, yang patut diwaspadai bahwa ruang digital saat ini tidak sepenuhnya netral karena konten-konten yang dilihat pengguna atau disebut dengan FYP diatur oleh algoritma, sedangkan algoritma ini dirancang oleh perusahaan teknologi dengan tujuan tertentu, misal ingin menampilkan tayangan iklan. Ketika remaja melihat konten-konten kekerasan algoritma akan terus membanjiri konten serupa, begitu pula ketika para Gen Z dengan bebas mempertontonkan konten yang mengandung kekerasan, sara, algoritma akan terus menyajikan konten serupa. Karena ruang digital didominasi oleh nilai sekuler kapitalis.


Positifnya dari era digital yakni mudahnya belajar untuk mendapatkan ilmu dan juga gerakan perubahan sosial, politik, ekonomi, lingkungan hidup di tingkat dunia. Begitu juga dalam memahami dan praktik keagamaan mereka sangat mendalam, tulus, dan sesuai dengan ajaran yang benar bukan hanya sekedar ikut-ikutan trend, melainkan dijalankan secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. Gen Z dengan teknologi digitalnya mampu mengakses apapun sehingga mereka memiliki pendirian yang kuat yang berbeda dengan generasi sebelumnya.


Generasi yang lahir di era digital sejatinya berpotensi besar membawa kemajuan peradaban. Kaum milenial, Gen Z atau Alpha adalah generasi yang dapat mengubah peradaban, oleh karena itu sangat penting untuk menyelamatkan generasi yang saat ini dipengaruhi hegemoni kapital dan algoritmanya. Digital Native menjadi objek pembajakan kapitalis untuk meraup untung sebesar-besarnya tanpa peduli berdampak negatif ataukah tidak. Pun negara yang menerapkan paham kapitalisme ini turut andil mengeksploitasi potensi generasi muda. Bahkan saat maraknya kasus pinjol dan judol yang menimpa pelajar dan mahasiswa, negara tak bertindak tegas dengan membubarkan atau menutup aplikasi serta platformnya. 


Hal itulah yang semakin memperburuk Gen Z dan juga Gen Alpha, dan seharusnya negara hadir untuk melindungi para remaja dari pengaruh buruk dari dunia digital bukan malah andil membiarkan adanya situs merusak. Perlindungan generasi membutuhkan negara yang tidak hanya menetapkan aturan. Negara juga harus membangun kedaulatan digital melalui kemampuan mengawasi sistem, menuntut transparansi algoritma, dan melakukan intervensi terhadap kerja platform secara struktural.


Pendekatan terpadu yang meliputi rekayasa algoritma yang aman, moderasi otomatis yang lebih andal, desain antarmuka ramah anak atau remaja, serta regulasi berbasis pemahaman teknis yang mendalam hanya dapat berjalan jika negara memiliki otoritas yang kuat berhadapan dengan big tech. Dengan kedaulatan digital yang kukuh, perlindungan generasi tidak lagi bergantung pada itikad perusahaan global, tetapi berdiri di atas kemampuan negara dalam menjaga keselamatan generasi sebagai arah perubahan. 


Upaya di atas akan sangat mustahil dilakukan oleh negara yang menempatkan manusia melalui mekanisme demokrasi dan pasar, sebagai pemilik kedaulatan. Dimana setiap yang memiliki modal besar mereka memiliki hak untuk mengendalikan pasar termasuk algoritma.   Sebaliknya, sistem yang mampu menyelamatkan generasi adalah sistem yang memandang bahwa manusia termasuk digital native adalah pelopor perubahan untuk meninggikan Islam di kancah internasional. Sehingga, negara yang menerapkan sistem ini akan ada sebagai pelindung sekaligus penopang lahirnya agen-agen perubahan tersebut dengan arahan syariat. Tanggung jawab negara ini selaras dengan sabda Rasulullah saw: "Imam itu adalah raa'in (pengembala). Ia akan diminta pertanggungjawabannya kelak atas apa yang diurusnya." (HR. Bukhari)


Dengan demikian, seluruh aturan kehidupan, termasuk pengelolaan data, teknologi, dan ruang digital harus tunduk pada syariat Allah. Hal ini menjadi fondasi bahwa pengaturan ruang digital tidak boleh bergantung pada kepentingan korporasi maupun kompromi politik, tetapi pada hukum Allah yang membawa kemaslahatan bagi manusia. Negara akan berinvestasi besar untuk membangun teknologi tinggi demi kemaslahatan umat, dan juga akan melibatkan para ahli di bidang digital yang memiliki tanggung jawab besar terhadap keberlangsungan syariat Islam tegak di muka bumi ini.


Wallahu 'alam bissawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update