Oleh Wulandari
Ibu & Penggiat Literasi
Sebentar lagi di tanggal 22 Desember di negeri kita akan memperingati Hari Ibu. Tapi dari tahun ke tahun peringatan ini seolah hanya menjadi seremonial belaka. Nasib mayoritas ibu di negeri kita justru makin mengenaskan. Para ibu harus tetap bergelut dengan berbagai masalah pelik yang harus mereka hadapi. Mulai dari permasalahan ekonomi, rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan dan lain sebagainya. Tak jarang mereka justru menyerah dengan keadaan dan memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidup mereka. Rumitnya permasalahan yang terjadi tak lepas dari penerapan sistem kapitalisme di negeri ini. Para ibu dipaksa untuk menghadapi sendiri berbagai permasalahan yang muncul.
Hal inilah yang menyebabkan tingkat stres pada ibu menjadi tinggi. Padahal ini bisa berpengaruh terhadap pola asuh anak yang bisa berdampak pada tumbuh kembang anak. Munculnya permasalahan pada anak salah satunya juga disebabkan adanya pola asuh orang tua dengan tingkat stres tinggi.
Katadata Insight Center (KIC) merilis data periode April-Mei 2025 yang menyebutkan bahwa 54,28% perempuan pekerja di Jawa Timur mengaku mengalami kelelahan dan stres akibat beba ganda, yakni pekerjaan dan rumah tangga. Hal ini semakin membuktikan bahwa tidak ada ketentraman bagi perempuan yang hidup di sistem kapitalisme.
Pandangan Kapitalisme Terhadap Perempuan
Dalam sistem kapitalis perempuan dianggal sebagai salah satu instrumen yang memiliki kekuatan dalam pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan perekonomian dan juga mempromosikan ide kesetaraan gender. Kapitalisme mendorong perempuan berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan dan juga memotivasi mereka berperan aktif dalam memajukan negara.
Dari sini maka perempuan akan dipandang sebelah mata ketika hanya berkiprah di sektor domestik rumah tangga. Kapitalisme mendorong perempuan berlomba-lomba terjun ke dunia kerja dan bisnis. Karena dalam sistem ini perempuan akan dianggap sukses ketika sukses dalam karir. Sehingga tidak lagi tergantung kepada laki-laki/suaminya karena ini dianggap sebagai bentuk perbudakan yang membelenggu perempuan.
Islam Memuliakan Perempuan
Dalam Islam perempuan mempunyai kedudukan yang mulia. Perempuan adalah pencetak generasi, sehingga kehormatan mereka sangat dijaga. Peran utama perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga dan pengasuh anak, dan peran laki-laki sebagai penjaga dan pencari nafkah bagi keluarga. Bekerja adalah sesuatu yang mubah bagi perempuan. Selama tidak mengganggu peran utamanya sebagai ibu rumah tangga maka dibolehkan bekerja dengan tetap menjaga batas-batas yang dibolehkan oleh syari'at. Sedangkan kewajiban nafkah tetap berada di tangan laki-laki. Jika seorang perempuan tidak memiliki suami dan saudara laki-laki maka kewajiban nafkah akan dipenuhi oleh negara. Sehingga perempuan bisa fokus menjalani perannya sebagai pendidik dan pengasuh anak-anak tanpa harus berpikir mencari nafkah.
Begitu terhormatnya posisi wanita dalam sistem Islam. Tapi semua itu tidak hanya akan terwujud ketika Islam benar-benar diterapkan secara menyeluruh dalam tataran sebuah negara.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment