Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bayang-Bayang Kemiskinan Menghantui, Generasi Enggan Menikah

Thursday, December 11, 2025 | Thursday, December 11, 2025 WIB Last Updated 2025-12-10T20:55:37Z

 


Oleh. Sartinah

(Pegiat Literasi)


Menikah dan hidup mapan merupakan impian banyak orang, termasuk generasi muda. Banyak di antara mereka yang akhirnya bermimpi untuk segera mendapatkan pasangan dalam hidupnya. Namun, pemikiran tersebut lambat laun berubah. Ketakutan akan kemiskinan telah mengubah paradigma generasi muda tentang pernikahan. 


Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini. Media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan tentang anak-anak muda yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Unggahan tersebut bahkan disukai lebih dari 12.500 kali dan diposting ulang oleh 207.000 pengguna lainnya. Hal ini dapat diartikan bahwa orang-orang yang menyukai unggahan tersebut sependapat dengan pemilik akun. (kompas.com, 22-11-2025)


Alasan Enggan Menikah


Munculnya pemikiran lebih takut miskin daripada takut tidak menikah tentu tidak datang begitu saja. Hal ini didasarkan pada fakta sulitnya kehidupan saat ini. Sebut saja harga kebutuhan pokok yang makin melonjak, biaya perumahan yang makin mahal, dan sulitnya akses terhadap lapangan pekerjaan hingga menjadikan persaingan makin ketat. 


Hal ini diperkuat dengan narasi "marriage is scary" (pernikahan itu menakutkan) yang makin menciutkan semangat orang-orang saat ini, terutama generasi Z untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ketakutan-ketakutan tersebut juga didorong oleh fakta buruk yang terjadi dalam pernikahan. 


Contohnya, tingginya angka perceraian, adanya hubungan yang tidak sehat, hilangnya kebebasan dan kemandirian setelah menikah, ketidaksetaraan antara suami dan istri, ketidakstabilan ekonomi, trauma masa lalu karena menyaksikan ketidakharmonisan kedua orang tuanya, dan lainnya. Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut pada akhirnya membuat orang-orang (generasi muda) ragu untuk menikah. 


Memang benar, masalah-masalah tersebut sering kali dijadikan alasan oleh sebagian orang, khususnya Gen Z untuk tidak menikah. Apalagi jika melihat tingkat kemiskinan di Indonesia yang masih cukup tinggi. Kemiskinan menjadi salah satu alasan terbesar bagi sebagian orang untuk tidak segera menikah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin sebesar 23, 85 juta orang atau 8,47 persen. 


Buah Penerapan Sistem Rusak


Berbagai problem yang menghantui masyarakat, termasuk ketakutan menjadi miskin, sejatinya adalah dampak penerapan sistem sekuler kapitalisme. Sistem ini telah membuat kehidupan rakyat makin sulit karena biaya hidup yang tinggi, pekerjaan sulit didapat, dan upah yang tergolong sangat rendah. 


Mirisnya, negara yang seharusnya bertanggung jawab menyejahterakan rakyat, justru terkesan lepas tangan. Negara hanya mengukuhkan kedudukannya sebagai regulator dan tidak turun langsung mengurusi rakyatnya. Akibatnya, beban hidup yang harus ditanggung individu masyarakat makin berat. Masyarakat terpaksa terseok-seok memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.


Selain itu, penerapan sistem pendidikan sekuler telah melahirkan gaya hidup materialistis dan hedonis. Hal ini karena pendidikan sekuler hanya terfokus pada pencapaian materi, tetapi mengabaikan nilai-nilai agama. Alhasil, banyak orang yang menganggap bahwa keberhasilan pendidikan adalah ketika memiliki banyak materi. 


Hal ini diperparah oleh media-media liberal yang terus memberi gambaran kehidupan hedon dan materialis sehingga menimbulkan ketakutan akan pernikahan. Pernikahan dianggap sebagai beban yang harus dihindari, bukan dianggap ladang kebaikan dan sebagai jalan melanjutkan keturunan. Inilah bukti nyata kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kenyamanan dan kesejahteraan bagi rakyat.


Jaminan Negara dalam Islam


Kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan, bertolak belakang dengan Islam. Hal ini karena Islam adalah agama dan ideologi paripurna yang mampu menyelesaikan semua persoalan kehidupan. Syariat Islam mengatur berbagai hal, termasuk menjamin terwujudnya kesejahteraan rakyat. 


Dalam Islam, negara (Khilafah) adalah pengurus rakyat. Karena itu, negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan seluruh rakyatnya. Tanggung jawab tersebut berupa pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan). 


Negara juga wajib membuka lapangan kerja yang luas. Dengan begitu, orang-orang yang memiliki kewajiban menanggung nafkah dapat bekerja untuk memenuhi nafkah bagi keluarganya. Tanggung jawab negara sebagai pengurus rakyat tertuang dalam hadis riwayat Bukhari, "Pemimpin adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab penuh atasnya."


Selain itu, negara juga akan mengelola kepemilikan umum secara mandiri. Ini artinya, pengelolaan harta-harta milik umum tidak boleh diserahkan kepada individu, swasta atau asing. Hal ini karena pengelolaan SDA oleh asing mengakibatkan harta-harta atau keuntungan hanya beredar pada segelintir orang saja. 


Dengan pengelolaan SDA milik umum oleh negara, hasilnya bisa dirasakan oleh seluruh rakyat secara maksimal. Jika rakyat bisa menikmati hasil-hasil pengelolaan SDA secara maksimal, biaya hidup bisa ditekan. Hal ini pun akan memberi kemudahan bagi rakyat memenuhi berbagai kebutuhannya, termasuk saat sudah menikah.


Selain mengelola aset umat secara mandiri, negara juga menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah. Dengan dasar tersebut, akan lahir generasi berkarakter mulia yang tidak terjebak dalam arus kehidupan hedonis dan materialistis. Generasi muda Islam adalah penerus peradaban cemerlang di masa mendatang. Karena itu, mereka adalah generasi penyelamat umat, bukan perusak umat.


Di sisi lain, Islam juga melakukan penguatan terhadap institusi keluarga. Hal ini dilakukan dengan mendorong pernikahan. Pernikahan adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah terpanjang yang akan dijalani manusia. Melalui pernikahan pula, keturunan akan terjaga. Dengan berbagai kebijakan negara dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat, tak ada yang khawatir dengan kebutuhan hidupnya. Dengan begitu, tidak akan ada ketakutan akan pernikahan dan kemiskinan.


Khatimah


Ketakutan untuk menikah di kalangan generasi muda adalah wujud nyata gagalnya kapitalisme dalam memberi jaminan hidup terhadap rakyat. Bayang-bayang kemiskinan setelah menikah membuat sebagian generasi lebih memilih memprioritaskan kemapanan diri daripada menikah. Karena itu, sistem rusak ini seharusnya tak dipertahankan. Umat harus kembali pada Islam dan seluruh syariatnya agar terwujud kesejahteraan hakiki dan memupus ketakutan akan pernikahan.

Wallahualam bissawab.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update