Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

*Aktivisme Pragmatis Sporadis Menuju Perubahan Ideologis Sistemis*

Saturday, December 27, 2025 | Saturday, December 27, 2025 WIB Last Updated 2025-12-27T14:20:43Z



Oleh Nani Sumarni 

Aktivis Muslimah


Maraknya aktivisme pragmatis sporadis di tengah masyarakat ini menunjukkan pola gerakan yang bersifat sesaat, reaktif, dan mengejar hasil cepat tanpa arah perubahan jangka panjang. Aktivisme semacam ini menyala ketika luka terasa, lalu padam ketika tekanan mereda.


Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, gerakan seperti ini adalah gerakan yang tidak dibangun di atas fikrah (ideologi) yang jelas, sehingga tidak memiliki istiqamah dalam arah perjuangan. Akibatnya, umat terlihat bergerak, tetapi sejatinya hanya berputar di tempat.


Aktivisme pragmatis sporadis  bergerak cepat, tetapi jarang bergerak jauh. lantang menuntut keadilan, namun sunyi ketika sistem yang melahirkan ketidakadilan itu tetap berdiri kokoh dan tak tersentuh. Pedahal sistem inilah yang menjadi sumber masalah utama.


*Masalah Berulang Karena Sistem yang Sama*


Saat ini mulai dari kemiskinan, kerusakan alam, ketimpangan sosial, dan krisis moral terus berulang dengan pola yang sama. Ini bukan kegagalan individu semata, tetapi ini adalah buah dari sistem rusak yang diterapkan negara, karena sistem itulah yang membentuk pemikiran, perilaku, dan arah hidup masyarakat. 


Karena itu, selama sistem yang diterapkan adalah sistem yang rusak, maka hasilnya pun akan terus rusak—meskipun individu-individunya tampak baik.

Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia…”

(QS. Ar-Rum: 41).

Namun ironisnya, sebagian besar gerakan umat hanya sibuk mengobati gejala—bukan mengganti sistem penyebabnya.


*Mengapa Perubahan Selalu Mandek?*


Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, perubahan hakiki harus dimulai dari perubahan cara berpikir (taghyîr al-afkâr), bukan dari luapan emosi atau aksi spontan. Beliau menjelaskan bahwa: “Perubahan tidak akan terjadi kecuali dengan mengubah pemikiran masyarakat, karena pemikiranlah yang melahirkan perbuatan.” Inilah sebabnya mengapa aktivisme yang tidak dibangun di atas kesadaran ideologis akan selalu bersifat reaktif dan temporer. Umat bergerak, tetapi tetap tunduk pada sistem yang sama—sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.


Allah SWT menegaskan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini, bukan seruan perubahan akhlak semata, melainkan perubahan pemikiran dan standar hidup yang dianut umat.


Langkah Menuju Perubahan Ideologis. 

1) Islam datang bukan hanya sekadar simbol  tetapi menjadikan Islam sebagai manhaj al-hayah. Islam adalah ideologi (mabda’), yakni akidah yang melahirkan sistem kehidupan: ekonomi, politik, hukum, dan sosial.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat, maka ikutilah syariat itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Karena itu, Islam tidak boleh direduksi menjadi doa, moral, atau identitas semata, tetapi harus menjadi kerangka berpikir dan bertindak.


2) Menggeser fokus perjuangan dari gejala ke perubahan sistem. Memperbaiki individu tanpa mengganti sistem adalah ilusi perubahan. Islam tidak mengajarkan tambal-sulam dalam sistem kufur.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 45)

Selama hukum Allah tidak dijadikan dasar, keadilan hanya akan menjadi slogan.


3) Membangun kesadaran umat (tatsqif jamā‘ī) sebagai fondasi perubahan. Pentingnya pembinaan pemikiran umat secara terorganisir, sebagaimana metode Rasulullah SAW di Makkah. Maka Perubahan tidak dilakukan oleh individu-individu yang tercerai, tetapi oleh jamaah yang memiliki fikrah dan thariqah yang jelas. Inilah yang akan melahirkan gerakan konsisten, bukan aksi musiman.


4) Mengintegrasikan dakwah dan perjuangan politik, dakwah Islam tidak berhenti pada nasihat moral, tetapi harus menantang sistem yang batil.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.”

(HR. Abu Dawud)

Ini menunjukkan bahwa Islam menuntut keberanian politik, bukan sekadar kesalehan pribadi.


5) Menyiapkan kepemimpinan ideologis.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa perubahan hanya akan sempurna dengan kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat secara kaffah.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”

(QS. Al-Baqarah: 208)

Tanpa kepemimpinan ideologis, perjuangan umat akan selalu dibajak oleh kepentingan pragmatis.


Penutup

Inilah fakta yang harus dihadapi dengan jujur: selama aktivisme umat hanya bersifat pragmatis dan sporadis, selama itu pula perubahan sejati akan terus tertunda. Umat terlihat bergerak, tetapi sistem tetap berjalan seperti semula. Tetapi ketika Islam dikembalikan sebagai ideologi kehidupan dan dasar perubahan, maka aktivisme tidak lagi reaktif, tetapi terarah; tidak lagi sesaat, tetapi konsisten.

Bukan sekadar melawan kezaliman, tetapi mengganti sistem kufur dengan sistem Islam yang akan membawa rahmat untuk seluruh alam.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update