Oleh: Mila Ummu Muthiah
(Aktivis Muslimah)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memainkan kartu lamanya, tuduhan genosida. Kali ini, Nigeria jadi sasaran. Pentagon bahkan diperintahkan untuk menyiapkan opsi militer. Alasannya, pemerintah Nigeria disebut gagal menghentikan penganiayaan terhadap umat Kristen. Senator Partai Republik Ted Cruz menuding langsung bahwa telah terjadi genosida di negeri Afrika Barat itu. (Republika.co.id, 02/11/2025)
Trump menyebut pelaku genosida adalah “kelompok teroris Islam” dan mengancam akan memutus semua bantuan bagi Nigeria. Ia juga menempatkan negara itu sejajar dengan “pelanggar kebebasan beragama” seperti Cina, Korea Utara, Myanmar, Pakistan, dan Rusia.
Namun, tuduhan itu segera dibantah. Presiden Nigeria Bola Tinubu menegaskan bahwa tidak ada genosida di negaranya. Konflik yang terjadi, terutama di wilayah sabuk tengah seperti Plateau, justru berakar pada perebutan lahan antara petani (yang mayoritas Kristen) dan penggembala (yang kebanyakan Muslim). Kedua belah pihak sama-sama jadi korban. Pemimpin komunitas Kristen di Plateau, Danjuma Dickson Auta, pun menolak intervensi militer Amerika.
Analis politik Oxford Economics, Jervin Naidoo, menilai tuduhan Trump lebih berbau politik ketimbang kemanusiaan. Ketegangan sebenarnya muncul setelah Nigeria menolak permintaan AS untuk menerima kembali warga Nigeria yang dideportasi akibat kebijakan imigrasi Trump. Sebagai balasan, AS memperketat pemberian visa. (CNBCIndonesia.com, 04/11/2025) Fitnah genosida hanyalah dalih klasik untuk menginjakkan kaki kembali di tanah kaya sumber daya alam itu.
Nigeria: Negeri Islam yang Kaya
Nigeria bukan negeri kecil. Republik Federal ini memiliki luas 923.768 km² dengan penduduk lebih dari 225 juta jiwa (2022). Komposisi agamanya nyaris seimbang, 53,5% Muslim dan 45,9% Kristen, dengan ratusan etnis dan bahasa. Negara ini adalah raksasa Afrika, pemimpin kawasan Afrika Barat, dan motor utama organisasi ECOWAS.
Islam sendiri sudah masuk sejak abad ke-11, bahkan sebagian sumber menyebut sejak abad pertama Hijriah melalui futuhaat di bawah Uqbah bin Nafi’ pada masa Kekhalifahan Umayyah. Pada 1803, Usman dan Fodio mendirikan Kekhalifahan Sokoto, kekuatan Islam besar yang menguasai wilayah luas hingga Kamerun dan Niger selatan, sebelum dibubarkan Inggris pada 1903. (Muslimmatters.org, 09/02/2023)
Warisan Islam itu kemudian dipadamkan melalui kolonialisme. Inggris memanfaatkan konflik antarsuku dan memperkuat dominasi melalui politik devide et impera. Perdagangan budak Eropa yang berawal abad ke-15 memperburuk keadaan. Lagos direbut Inggris pada 1851 dan resmi dianeksasi 1865, lalu dijadikan protektorat pada 1901. Sejak itulah, sumber daya Nigeria disedot habis untuk kepentingan kolonial.
Setelah merdeka tahun 1960, Nigeria tak pernah benar-benar bebas. Kudeta, perang saudara, dan pemerintahan militer silih berganti. Bahkan kini, meski berganti rezim, jejak dominasi asing tetap menancap kuat. Negeri yang kaya minyak itu masih berkubang dalam kemiskinan.
Kekayaan Alam: Umpan Empuk Kapitalisme Barat
Ekonomi Nigeria sebenarnya yang terbesar di Afrika dengan PDB per kapita sekitar 9.148 USD (2022). Namun rakyatnya masih hidup di bawah garis sejahtera. Mengapa? Karena sumber daya alamnya, terutama minyak dan gas, dikuasai perusahaan asing.
Nigeria menemukan minyak pada 1956 melalui Shell-BP. Ladang minyak utama berada di Delta Niger, sementara cadangan lainnya, bauksit, emas, timah, bijih besi, hingga niobium, belum banyak tersentuh. Data Badan Informasi Energi AS menyebut cadangan minyak Nigeria mencapai 16–22 miliar barel, sebagian besar berjenis light crude yang biaya pemurniannya murah dan hasilnya tinggi. Tak heran, negeri ini menjadi rebutan dua raksasa kolonial lama: Inggris dan Amerika.
Sejak merdeka, AS sudah menancapkan pengaruhnya. Tahun 1958 saja Washington telah menyalurkan dana 700 ribu USD untuk proyek pembangunan pertanian. Kini, Nigeria termasuk penerima bantuan luar negeri terbesar dari AS dengan nilai mencapai 1,11 miliar USD (2020), terutama untuk sektor kemanusiaan dan keamanan. ChevronTexaco, ExxonMobil, hingga American Guadalupe Gas Products telah menandatangani kontrak eksploitasi gas dan minyak sejak 1970-an.
Bantuan dan investasi itu bukanlah “amal”, melainkan alat kontrol. Amerika tidak mengenal makan siang gratis. Setiap dolar bantuan harus kembali dengan keuntungan berlipat. Nigeria pun akhirnya tergantung pada AS dalam hal ekonomi, militer, dan diplomasi.
Duel Inggris–AS dan Nasib Negeri Muslim yang Tak Punya Pelindung
Nigeria adalah ajang perseteruan dua kekuatan kapitalis lama: AS dan Inggris. Walau keduanya tampak kompak dalam berbagai forum internasional, sesungguhnya mereka berebut pengaruh dan sumber daya. Inggris mendukung Presiden Bola Tinubu, sedangkan dua rivalnya dalam pemilu 2023, yakni Atiq Abu Bakar dan Peter Obi didukung oleh AS. (Mediaumat.id, 18/03/2023) Kekalahan tokoh pro-AS jelas mengurangi porsi keuntungan Washington. Maka, tuduhan genosida hanyalah langkah politis untuk menggoyang pemerintahan Tinubu dan mencari alasan agar bisa masuk kembali.
Fenomena seperti ini bukan hanya menimpa Nigeria. Hampir semua negeri Muslim mengalami hal serupa: kaya sumber daya, lemah kedaulatan. Mereka menjadi objek rebutan para penjajah modern yang bersaing demi kepentingan ideologi kapitalisme global. Seperti firman Allah Swt. dalam QS. Al-Hasyr [59]:14:
“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah.”
Ayat ini menggambarkan betapa rapuhnya persatuan bangsa-bangsa kafir, yang hanya bersatu ketika hendak menjarah negeri kaum Muslim.
Sayangnya, umat Islam kini tak punya pelindung. Tidak ada lagi institusi politik yang menaungi mereka sebagaimana Khalifah dahulu menjaga kehormatan umat dari gangguan penjajah. Dulu, satu seruan dari pusat kekhalifahan cukup membuat musuh gentar. Kini, negeri-negeri Muslim justru tunduk pada tatanan dunia buatan Barat dan sibuk mengadopsi tsaqafah asing yang menyesatkan.
Inilah wajah dunia tanpa khilafah. Umat tercerai-berai, sumber dayanya dirampas, dan kehormatannya diinjak dengan dalih “kemanusiaan”. Tuduhan genosida terhadap Nigeria hanyalah satu bab dari skenario panjang penjajahan baru.
Khatimah
AS menuduh tanpa bukti, menuding tanpa fakta. Semua hanya cara untuk membuka jalan intervensi. Bila berhasil, Washington akan mengendalikan kembali ladang minyak Nigeria, memperluas pangkalan militernya di Afrika, dan menyingkirkan pengaruh Inggris. Begitulah watak asli penjajah yang menjadikan kapitalisme sebagai ideologi.
Dunia Islam seharusnya tidak lagi tertipu oleh retorika “hak asasi” dan “kebebasan beragama” yang dijadikan alat penjajahan. Yang dibutuhkan bukan sekadar diplomasi, melainkan kebangkitan kesadaran politik Islam yang melahirkan kembali perisai umat, institusi pelindung yang menolak dominasi penjajah atas nama apa pun.
Karena sejatinya, genosida terbesar bukanlah pembantaian fisik, tetapi pembunuhan martabat dan kedaulatan umat oleh sistem kufur yang menjarah dengan topeng kemanusiaan.
Wallaahu a‘lam bish-shawaab.[]

No comments:
Post a Comment