Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Miris Sekali, Sekulerisme Menyuburkan Bunuh Diri

Tuesday, November 11, 2025 | Tuesday, November 11, 2025 WIB

 


Oleh: Nayla Shofy Arina (Pegiat Literasi)


Fenomena bunuh diri dikalangan remaja sudah menjadi kasus yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Hal tersebut seharusnya menjadi alarm serius bahwa kondisi psikis remaja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menyebutkan bahwa jumlah remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental setidaknya satu kali dalam 12 bulan terakhir dengan presentase 34,9 persen atau setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta atau setara 5,5 persen anak muda di Indonesia memiliki setidaknya satu masalah mental, dengan berbagai indikasi seperti gangguan cemas, fobia sosial, dan depresi mayor (goodstats.id/27/10/2025)


Fakta terbaru, sepanjang Oktober 2025 lalu, kasus bunuh diri di kalangan remaja menjadi isu hangat yang urgent untuk mendapat perhatian dari semua pihak. Diantaranya kejadian yang menimpa seorang siswa kelas VIII SMP di Sawahlunto, Sumatera Barat pada Selasa (28/10/2025) siang, seperti dilansir dari Detik.Com. Ia ditemukan tidak bernyawa di ruang kelas setelah izin keluar di tengah jam pelajaran yang saat itu tengah dilakukan di luar area kelas. Korban ditemukan tergantung tak bernyawa oleh tiga orang temannya di ruang kelas yang kosong. 


Di Jawa Barat, kasus bunuh diri dilakukan dua orang anak di Cianjur dan Sukabumi. Kasus di Cianjur terjadi pada Rabu (22/10/2025) sore. Warga dikagetkan kabar meninggalnya anak laki-laki berusia 10 tahun yang juga siswa kelas V salah satu SD negeri di wilayah tersebut. Korban ditemukan neneknya tergantung di kusen pintu kamarnya. Sementara di Sukabumi, seorang siswi kelas VIII madrasah tsanawiyah (MTs) ditemukan tak bernyawa di rumahnya, Selasa (28/10/2025) malam. Dalam kasus ini, polisi mendalami soal dugaan perundungan yang dialami korban sebelum mengakhiri hidup (Tirto.id/5/11/2025)


 *Sekulerisme Menyuburkan Bunuh Diri* 


Sederet kasus yang tengah menimpa remaja hari ini sejatinya mengindikasikan bahwa Indonesia sedang darurat kesehatan mental. Meningkatnya kasus bunuh diri menunjukkan seakan hidup tidak ada artinya lagi. Bunuh diri menjadi aktualisasi karena keputusasaan dalam menghadapi masalah hidup. Lantas bagaimana nasib masa depan bangsa jika bermental rapuh lalu bunuh diri sebagai solusinya?


Masa anak-anak merupakan fase penting dalam pertumbuhan. Maka segala hal yang mereka peroleh dengan mudah menirukan dan cepat untuk menentukan keputusan. Contohnya kecanduan gawai, selama penggunaannya tanpa pengontrolan, anak tentu secara bebas menjelajahi apa yang mereka inginkan, terlebih saat ini gawai menyediakan beragam konten, film, dan game yang menampilkan adegan kekerasan, cara menyakiti diri sendiri yang sama dengan melakukan percobaan bunuh diri, gaya hidup hedon yang membuat mereka insecure karena tak mampu menjadi seperti apa yang mereka lihat, dan mereka yang berinteraksi dengan gawai secara berlebihan cenderung akan menarik diri dari lingkungan sekitar. Hal demikian tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan dan menjadi tanda seseorang bisa melakukan bunuh diri.


Selain gawai, penyebab bunuh diri juga bisa dari lingkungan keluarga yang di dalamnya tidak lagi harmonis, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), serta tekanan dalam keluarga. Juga dalam hal percintaan, kegagalan akademik, tekanan sosial atau perundungan (bullying) baik didunia maya atau dunia nyata, gangguan mental seperti depresi, kecemasan berat dan trauma masa lalu, sehingga mereka menutup diri dan memilih untuk mengakhiri hidup.


Ketidakmampuan mereka menghadapi tekanan yang berasal dari sisi manapun membuat akalnya tidak mampu berpikir dengan jernih. Alhasil mereka berani untuk mengambil tindakan yang dianggap dapat mengurangi dan menghilangkan depresi seperti melukai dirinya bahkan sampai pada bunuh diri. Inilah buah dari penerapan Sekulerisme, karena agama dipisahkan dari kehidupan.


 *Islam Solusinya* 


Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah dari Allah swt yang harus senantiasa dididik dan dibimbing agar mereka tumbuh menjadi pribadi beriman dan berakhlak mulia. Arah pola pikir anak tidak boleh dibiarkan terbentuk oleh lingkungan yang serba bebas, melainkan harus diarahkan dengan dasar keimanan dan ketakwaan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. At-Tahrim [66]: 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini menegaskan bahwa Pendidikan awal yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua, tidak hanya mencukupi kebutuhan dasar hidup dan pendidikan duniawi, tetapi juga membentuk mindset anak agar selalu terikat dengan aturan dan nilai-nilai Islam.


Islam memiliki solusi mendasar dengan menanamkan akidah sejak dini. Anak perlu dikenalkan siapa Tuhannya, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali. Ketika anak memahami bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah, maka ia akan berpikir dengan arahan yang benar dan tidak mudah goyah oleh arus pemikiran sekuler, hedonis, atau materialistis yang secara nyata merusak. 


Selain keluarga, lingkungan masyarakat yang menciptakan lingkungan sosial yang Islami yaitu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 104, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” Masyarakat yang senantiasa menanamkan nilai kebaikan, saling menasihati dan mencegah ketika terjadi kemungkaran. Sedangkan bagi negara dalam pandangan Islam wajib memfasilitasi pendidikan yang menanamkan akidah, akhlak, dan ilmu yang bermanfaat, bukan hanya sekadar pengetahuan duniawi tanpa pembentukan kepribadian sesuai syariat. 


Dengan demikian, solusi Islam dalam pembentukan kepribadian anak yakni dari segi pola pikir dan pola sikap, meliputi tiga pilar utama: keluarga yang beriman dan menanamkan akidah sejak kecil, lingkungan sosial yang beramar ma’ruf nahi mungkar dan memahami batasan syariat, serta sistem pendidikan dan negara yang berperan dalam membangun generasi berkepribadian Islam. Maka dengan ketiga pilar utama ini akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai syara, berjiwa kuat, dan berorientasi hanya pada ridha Allah swt semata. Wallahu a’lam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update