Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Pendidikan Sekuler Gagal Mencetak Generasi Bermoral

Friday, November 14, 2025 | Friday, November 14, 2025 WIB Last Updated 2025-11-14T01:54:35Z

 


Oleh: Yanti, S.Pd (Freelance Writer)


Fenomena bullying saat ini menjadi isu yang semakin umum dan memerlukan perhatian serius, terutama dalam dunia pendidikan, di mana sekolah sering kali menjadi lokasi terjadinya perilaku ini. Seolah tak pernah ada habisnya, kejadian demi kejadian yang memiluhkan terus terjadi di kalangan pelajar. Sebagaimana belum lama ini terjadi kasus pembakaran pesantren dan peledakan sekolah. Semua dilakukan oleh anak-anak yang masih berstatus pelajar. Nampak nyata mental generasi saat ini sedang tidak baik-baik saja. 


Seorang santri di Aceh Besar ditetapkan sebagai tersangka kasus terbakarnya asrama pondok pesantren tempat dia belajar. Sang santri disebut sengaja membakar asrama lantaran sakit hati karena kerap menjadi korban bullying oleh rekan-rekannya (Beritasatu, 08-11-2025).


Hal yang tak kalah miris terjadi di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025) siang, mulai terungkap. Peristiwa tersebut membuat kepanikan di antara siswa dan guru yang sedang bersiap melaksanakan salat Jumat. Diduga pelaku merupakan remaja berusia 17 tahun yang diduga mengalami perundungan dan terpapar konten kekerasan di media sosial. Peristiwa ini menyebabkan puluhan orang terluka. Sejumlah saksi menyebutkan ledakan terjadi di beberapa titik di sekitar masjid sekolah saat siswa tengah melakukan salat Jumat. Pelaku ledakan SMAN 72 Kelapa Gading, diduga merupakan siswa yang kerap mendapatkan aksi bullying (Serambinews)


Fakta di atas merupakan gambaran nyata dampak dari korban bullying. Padahal ketika berbicara terkait kekerasan di lingkungan sekolah, kita cenderung fokus pada tawuran antar pelajar atau pemukulan antara guru dan siswa. Namun, ada bentuk kekerasan lain yang sering kali lebih berbahaya, yaitu bullying, yang berdampak serius pada kesehatan mental siswa. Kondisi siswa yang menjadi korban bullying tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak aman, depresi, dan isolasi, bahkan memicu stres yang berat. Ini merupakan masalah psikososial yang melibatkan penghinaan dan penurunan martabat secara berulang, di mana pelaku memiliki kekuatan lebih dibandingkan korban. 


Begitu pula hal yang dapat dialami korban. Seiring waktu, akan sangat mungkin terjadi krisis kepercayaan diri, rasa malu, dan takut, hingga memilih mengisolasi diri dari interaksi sosial disebabkan kesulitan menjalin hubungan. Jangka panjangnya, pada korban bullying juga bisa memicu gangguan mental serius yang berpotensi melakukan self-harm, bahkan bunuh diri. Bahkan di titik inilah, nampaknya korban bullying akan bertransformasi menjadi pelaku kekerasan dan agresi, demi melepaskan sinyal kemarahan yang meluap. Semua terjadi akibat tak adanya dukungan dan solusi, untuk menetralkan dan mengarahkan penyelesaian problem mental yang dihadapinya.


Hal ini tak lepas juga dari pengaruh sosial media yang semakin memperparah pelaku aksi bullying, bahkan bullying dijadikan candaan. Bahkan sosial media juga menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan tindakan pembalasan. Menjamurnya tontonan yang tidak mendidik yang banyak mengisahkan tentang remaja pelaku atau korban bullying dan balas dendam korban bullying seolah menjadi ittiba’ (panutan) korban bullying untuk menyelesaikan problem jiwanya. Dia akan merasa benar melakukan tindakan pembalasan hingga membahayakan nyawa orang lain, sebagai pelampiasan kemarahan atau dendam.


Selain itu, ini menunjukkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Tak hentinya aksi bullying di lingkungan sekolah bahkan di berbagai daerah bukan saja di kota-kota besar, menjadi bukti problem sistemik dalam pendidikan. Sekolah yang sekadar fokus pada nilai akademik dan algoritma kesuksesan berdasar materi, telah gagal melahirkan anak didik yang bermoral dan salih.


Krisis kepribadian terus melanda generasi saat ini.  Meskipun ada pendidikan karakter di sekolah, faktanya tak mampu mewujudkan generasi yang berkepribadian tangguh dan bertanggungjawab. Banyaknya kejadian siswa melakukan tindak pelecehan hingga kekerasan sesama temannya bahkan terhadap guru, menunjukkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Maka wajar jika terhadap guru saja mereka tak beradab, kepada teman mereka bisa berlaku biadab dan tak bermoral.  Perilaku ini tidak hanya di lakukan oleh anak laki-laki tetapi bahkan beberapa kasus yang beredar di media sosial juga dilakukan di kalangan pelajar Perempuan. 


Semua ini tak lepas dari penerapan sistem Pendidikan sekuler. Pendidikan sekuler adalah sistem pendidikan yang memisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dalam sistem ini, nilai-nilai keagamaan tidak menjadi landasan utama dalam proses pendidikan. Fokus utamanya adalah pada pengembangan aspek intelektual dan keterampilan teknis saja.​ Krisis kepribadian terus melanda generasi saat ini.  Maka wajar saja menghasilkan generasi yang rapuh.


Sistem pendidikan sekuler yang menghilangkan pengawasan agama dan lingkungan sosial yang kapitalistik hanya berfokus pada materi telah gagal dalam membentuk kepribadian tangguh pada generasi. Sistem sekuler kapitalis telah mencabut sisi kemanusiaan pada generasi mudah. Mereka hanya dicetak sebagai robot dan mesin pencetak nilai tanpa ada ruh kebaikan dan tanggung jawab.


Untuk mengakhiri problem serius yang terjadi pada remaja saat ini, tentunya membutuhkan sistem yang sahih (benar). Remaja harus dipahamkan tentang tujuan dia diciptakan dan dilahirkan di dunia. Mereka dibersamai dalam menjalani kehidupan dunia dengan pendidikan yang bertumpu pada keimanan dan rasa takut kepada penciptan-Nya.


Dalam membangun pola pikir yang berasas iman dan Islam, dan dituntun untuk berperilaku dalam koridor halal dan haram. Memahami bahwa tujuan mereka menuntut ilmu adalah untuk menjalankan kewajiban agama demi meraih rida Allah Swt. Di sinilah fokus tujuan pendidikan dalam Islam, yaitu membentuk pola pikir dan pola sikap Islam pada generasi.


Generasi yang berkepribadian Islam tidak hanya fokus pada nilai materi, tapi juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah. Dia akan mampu memilih setiap sikap dan tindakan dengan pencapaian adab tertinggi. Sebab kurikulum pendidikan dalam sistem Islam harus berbasis akidah Islam, menjadikan adab sebagai dasar pendidikan.


Di dalam Islam negara wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kejahatan sosial. Negaralah yang harus menutup semua pintu akses kerusakan sosial baik dari media sosial maupun interaksi di masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan penjagaan sistem sosial sesuai syariat Islam.


Kalaupun dengan sistem pendidikan dan sistem sosial yang berasas keimanan masih jebol dan terjadi kemaksiatan maupun kriminalitas, maka sangsi tegas akan diperlakukan. Batasan pemberlakuan sanksi tersebut pun sangat jelas, yaitu ketika seseorang telah akilbalig dia wajib menanggung semua konsekuensi tindakannya. 


Dengan demikian, saat ini sulit mewujudkan generasi yang memiliki budi pekerti yang luhur, jika masih banyak celah yang membuat generasi jauh dari nilai adab. Dari itu, sudah selayaknya sistem pendidikan hari ini tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga membentuk anak didik yang memiliki kepribadian yang beradab. Wallahu a’lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update