Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sekulerisme dan Fenomena Bunuh Diri yang Meningkat

Wednesday, November 12, 2025 | Wednesday, November 12, 2025 WIB Last Updated 2025-11-12T13:08:38Z


Oleh : Seni Rosdiana
(Kontributor Pena Cemerlang)

Dalam beberapa pekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur yaitu seorang siswa kelas V SD berusia 10 tahun dan beberapa hari kemudian peristiwa serupa terjadi di Sukabumi. Siswi kelas dua SMP berusia 14 tahun, korban diduga bunuh diri karena mengalami tindakan perundungan atau bullying di sekolahnya. Kasus serupa pun terjadi di daerah Sawahlunto Sumatera Barat dimana dua siswa SMP bunuh diri di sekolah. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara dari pihak kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying dalam dua kasus tersebut.

Bunuh Diri Makin Marak  dalam Kapitalisme Sekuler

Fenomena bunuh diri di kalangan anak-anak ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi semua pihak, terutama orangtua, sekolah dan masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak. Karena hal ini menunjukan rentannya kesehatan mental generasi muda. Menurut Psikolog dan Dosen Fakulas Psikologi Universitas Maranatha Bandung, Efni Indriani mengatakan bahwa anak-anak dari generasi Alfa (anak yang lahir sekitar tahun 2010-2024) saat ini memiliki kondisi mental yang lebih rapuh dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dari laporan pemeriksaan kesehatan jiwa gratis mengungkapkan ada sekitar dua juta anak yang mengalami gangguan kesehatan mental. (Kompas.com/30/10/2025).

Angka bunuh diri yang meningkat di kalangan pelajar tidak hanya soal perundungan (bullying) di sekolah, tetapi kompleksitas masalah mental pelajar. Kepribadian yang rapuh pada remaja bisa menjadi faktor yang mendorong mereka melakukan bunuh diri. Rapuhnya kepribadian ini mencerminkan lemahnya akidah anak. Hal ini adalah salah satu dampak dari pendidikan sekuler yang hanya mengejar prestasi fisik, namun mengabaikan pendidikan agama. Agama hanya diajarkan secara ibadah ritual saja, tidak menjadi arah hidup yang menjasad pada anak. Dalam pendidikan barat, batas usia menganggap anak baru dewasa ketika sudah menginjak usia 18 tahun dan ini sangat berpengaruh karena seringkali anak sudah baligh namun masih diperlakukan sebagai anak-anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya.

Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental yang serius dan komplek. Faktor penyebabnya bisa karena depresi, kehidupan yang penuh tekanan seperti bullying, konflik orangtua, faktor ekonomi dan faktor hubungan pertemanan yang buruk sehingga tidak mempunyai koneksi sosial yang baik ataupun tuntutan gaya hidup. Hal ini terjadi karena penerapan sistem kapitalisme. Karena kapitalisme menciptakan lingkungan sosial dan ekonomi yang menekankan pada persaingan dan profitabilitas sehingga menghasilkan ketimpangan ekonomi dan ketidakamanan finansial yang meningkatkan resiko kesehatan mental dan bunuh diri. Sosial media juga berperan cukup signifikan dalam fenomena kasus bunuh diri. Pengguna aktif sosial media membahas percakapan yang mengandung niat bunuh diri setiap minggunya, ini menunjukan adanya keterikatan emosional antara individu terhadap media sosial. 

Rusaknya mental individu terutama anak-anak saat ini adalah buah hasil dari pemahaman sekulerisme yaitu konsep pemahaman yang memisahkan urusan agama dari kehidupan, sehingga menjadikan individu tidak mengenal Tuhan nya. Ketika aspek agama tidak lagi menjadi dasar dalam kehidupan seperti pendidikan, pergaulan maupun pembentukan karakter individu maka ukuran benar atau salah, halal atau haram pun menjadi kabur. Sehingga menyebabkan anak-anak tumbuh tanpa moral yang kuat. Minimnya pemahaman tentang akidah, serta  tidak mengetahui tujuan kita hidup di dunia ini untuk apa, menjadikan anak-anak ini rapuh dan mudah mengalami gangguan mental.

Sistem Islam Menjaga Jiwa

Dalam Islam, pendidikan dasar yang diajarkan dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat adalah akidah, sehingga dalam menghadapi setiap kesulitan anak akan mampu bertahan.  Karena dalam sistem pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Sehingga dalam diri anak akan terbentuk kepribadian Islam. Kemudian,  ketika anak sudah memasuki usia baligh akan diarahkan untuk aqil sehingga pendidikan anak sebelum baligh akan mendewasakan dan mematangkan kepribadiannya. Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, karena Islam tidak hanya berperan dalam aspek spiritual saja, tetapi penerapan Islam mampu mencegah dan menyembuhkan gangguan mental melalui pendekatan spiritual, sosial, ekonomi, dan emosional. Syari’ah islam menekankan pentingnya menjaga jiwa (hifz an-nafs) maka, pencegahan bunuh diri anak termasuk bagian dari pelaksanaan syariat Islam. Sebagaimana Firman Allah Swt

 “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa :29)

Kurikulum pendidikan dalam sistem Islam dirancang untuk melahirkan generasi tangguh yang memiliki kepribadian islam, serta menguasai ilmu pengetahuan secara mendalam. Pendidikan ini tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual tetapi mampu berakhlak mulia sehingga mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang syar’iy. 

Penerapan Khilafah tidak hanya memberikan solusi secara klinis tetapi menyentuh seluruh akar permasalahan sehingga dapat menciptakan lingkungan spiritual, ekonomi, sosial yang sehat dan menumbuhkan anak-anak yang kuat, berakhlak dan bermental tangguh. Dengan demikian, kurikulum pendidikan Islam dalam sistem Khilafah menjadi fondasi yang sangat penting dalam mewujudkan peradaban masyarakat yang berorientasi pada rida Allah Swt. 

 Wallahu a’lam bish-shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update