Pendidik Generasi
Harta
yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga.
Sepenggal lirik lagu Harta Berharga ciptaan Arswendo Atmowiloto, menggambarkan
betapa berharga dan berartinya sebuah keluarga. Keluarga diharapkan sebagai
benteng pertahanan dari berbagai badai kehidupan. Namun apa jadinya jika
keluarga yang kita dambakan sebagai tempat ternyaman, justru menjadi sebuah
momok yang sangat menakutkan. Belakangan ini, kasus kekerasan banyak terjadi
didalam keluarga. Dan pelakunya sendiri adalah orang terkasih yang dalam
keseharian hidup bersama. Sebagai Salah satu contoh kasus terjadi di kabupaten
Malang, Kasus penemuan jasad wanita hangus terbakar di
wilayah Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, akhirnya mulai
terungkap. Polisi memastikan pelaku pembunuhan adalah FA (54), suami siri
korban bernama Ponimah (42). Menurut pengakuan tersangka, istrinya dianiaya
terlebih dahulu sebelum akhirnya dibakar guna menghilangkan jejak. Kamis, 16
Oktober 2025.https://www.beritasatu.com.
Mirisnya berbagai kasus yang terjadi di dalam
keluarga membuat rasa ketidak nyamanan anggota keluarga, sehingga akhirnya
berpengaruh kepada anggota lainnya terutama anak anak yang mau tidak mau
menjadi korban dari ketidak nyamanan yang ada. Dampak ketidaknyamanan itu
membuat para remaja melakukan hal-hal yang diluar kendali hanya untuk
mendapatkan perhatian. Sehingga marak terjadinya kekerasan di dunia remaja.
Kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi di Jakarta. Seorang remaja
berusia 16 tahun di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, diduga mencabuli
dan membunuh anak perempuan berusia 11 tahun pada Senin (13/10/2025). https://www.beritasatu.com.
Berita ini tentunya menggemparkan seluruh warga, tidak habis pikir anak usia 16
tahun bisa melakukan perbuatan bejat. Hanya karena alasan kesal terhadap ibu
korban yang pernah menagih hutang.
Berbagai macam dan motif kekerasan yang terjadi
saat ini tentulah ada akar penyebabnya. Tak lain dan tak bukan ini semua
terjadi karena sistem yang diemban di negara ini adalah asas sekularisme yang
mana asas ini telah menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan. Agama seolah –
olah membuat sekat penjara bagi yang namanya kebebasan. Agama hanyalah di
mimbar – mimbar. Akibatnya kebebasan tanpa batas diberbagai lini kehidupan mulai
di agung- agungkan. Dari kebebasan ini pula lahirlah individulistik, yang
sedikit demi sedikit akhirnya menghancurkan tatanan keluarga. Asas sekularisme
telah cacat dari lahir, asas ini lebih mengedepankan kepentingan matrealisme.
Kebahagiaan yang dirasa hanya seputar duniawi, harta, tahta dan wanita. Ketika
kebahagiaan yang diraih hanya seputar duniawi, maka tak ayal targetan dunia
menjadi tekanan hidup, maka tingkat stress meningkat maka mudah tersulut amarah
maka goyalah tatanan keluarga, timbulah keretakan dan kekerasan.
Diperparah dengan abainya negara dalam
mengatasi meningkatnya angka kekerasan dalam keluarga dan remaja. Jika pun ada
UU KDRT tidak menyentuh dari problem yang mendasar. Hanya sekedar menindak hukum tanpa mencari akar masalah Dan
mencarikan solusi agar berbagai peristiwa kekerasan itu tak terjadi. Negara
dalam sistem sekularisme hanya sebagai regulator. Berbeda dengan sistem Islam.
Dalam sistem Islam negara akan senantiasa
menjaga kekokohan keluarga dengan membentuk ketaqwaan mulai dari ketaqwaan
individu, masyarakat juga negara. Negara juga akan senantiasa menerapkan
syariat Allah dalam menata tatanan
keluarga, baik itu berupa penjagaan Dan pengawasa peran istri dan suami
sehingga meminimalisir kekerasan dalam rumah tanggal.
Negara juga Ra’in, dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw., “Setiap orang adalah
pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang
kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta
pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah
pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang
dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah dan anak-anaknya dan akan
ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga bertugas
memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya tentang
pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas
pertanggungjawabannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Selain itu juga
negara akan menerapkan sangsi bagi para pelaku KDRT yang membuat jera sesuai
dengan syariat Allah. Maka dengan itu saatnya kita beralih dari sitem
sekularisme kembali menuju syariat Islam yang berasal dari rabb kita semuanya.
Sehingga berbagai problematika hidup dapat di atasi Salah satunya adalah KDRT.
Wallahu’alam bissawab.

No comments:
Post a Comment