Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perceraian Marak, Apa Penyebabnya?

Monday, November 17, 2025 | Monday, November 17, 2025 WIB Last Updated 2025-11-17T22:01:23Z

                       Oleh Rosmita
                     Aktivis Dakwah 


Tingkat perceraian di Indonesia semakin marak, jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Bukan hanya rakyat biasa, rumah tangga para artis pun tak luput dari perceraian. Banyak faktor penyebab terjadinya perceraian diantaranya perselisihan dan pertengkaran terus menerus, masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dan judol  menjadi penyebab utama perceraian.

Rasio perceraian di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, bayangkan dari 100 pasangan yang menikah, 27 pasangan mengalami perceraian. Adapun jumlah perceraian tertinggi di dominasi provinsi-provinsi di pulau Jawa. Tercatat di Jawa Barat ada 88.985 kasus, di Jawa Timur 79.293 kasus dan di Jawa Tengah 64.937 kasus. Sedangkan di luar Jawa ada provinsi Sumatera Utara dan Lampung yang menjadi wilayah dengan jumlah perceraian tertinggi. (CNBCIndonesia, 30-10-2025)

Perceraian Marak Akibat Sistem Rusak

Sistem sekuler yang diadopsi oleh negara ini telah berhasil merusak tatanan kehidupan mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga negara. Umat Islam dijauhkan dari ajaran Islam hingga tidak mengenal syari'at tentang halal haram, mana kewajiban mana larangan, termasuk syari'at tentang pernikahan. 

Banyak suami tidak memahami apa kewajibannya sebagai suami, tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan istri, sehingga berlaku semena-mena sudahlah tidak memberi nafkah suka selingkuh dan KDRT pula. Begitu pula sebaliknya banyak istri yang tidak paham kodratnya sebagai seorang istri, sehingga membangkang kepada suami, tidak mau melayani suami dan lain-lain.

Apalagi sistem ekonomi kapitalis hari ini yang tidak berpihak kepada rakyat kecil menyebabkan banyak kepala rumah tangga tidak punya pekerjaan, kalaupun ada pekerjaan gajinya tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga banyak para istri memilih untuk bekerja dan membantu perekonomian keluarga.

Ditambah sistem pergaulan sosial yang bebas seolah tanpa batasan, baik di dunia maya maupun dunia nyata, sehingga menyebabkan marak terjadi perselingkuhan. 

Apalagi negara juga tidak hadir dalam membina ketakwaan individu. Negara abai dengan masalah keluarga dan generasi. Negara juga tidak menjamin kesejahteraan rakyat. Selain itu, tidak ada sanksi tegas bagi suami atau istri yang tidak menjalankan kewajibannya atau melakukan perselingkuhan, kdrt dan lain-lain.

Hal inilah yang menyebabkan ketahanan keluarga runtuh dan melahirkan generasi rapuh, karena dampak perceraian tidak hanya dirasakan oleh pasangan yang bercerai, tetapi juga anak-anak yang menjadi korban.

Dampak Perceraian pada Psikologis Anak

Perceraian dapat berdampak pada psikologis anak dan meningkatkan risiko masalah kesehatan mental diantaranya: gangguan emosional, seperti kecemasan, depresi dan stres. Masalah perilaku seperti agresivitas, hiperaktivitas dan kesulitan mengikuti aturan. Kesulitan akademik karena gangguan emosional dan kurangnya dukungan orang tua. Kesulitan membentuk identitas diri dan sulit membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Selain itu, anak-anak yang mengalami perceraian orang tua memiliki risiko yang lebih tinggi untuk penyalahgunaan zat-zat terlarang seperti narkoba.

Meskipun tidak semua anak mengalami hal yang sama karena dampak perceraian pada psikologis anak dapat berbeda-beda tergantung pada faktor-faktor seperti usia anak, kualitas hubungan anak dengan orang tua dan dukungan yang diberikan kepada anak pasca perceraian.

Islam Solusi Atasi Masalah Keluarga dan Generasi

Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh urusan manusia. Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan Allah. Syari'at Islam yang bersumber dari Pencipta manusia tentu akan membawa kemaslahatan bagi manusia jika aturan ini diterapkan secara keseluruhan.

Sistem pendidikan Islam  yang berbasis akidah Islam akan melahirkan individu yang bertakwa dan berakhlak mulia, yang paham agama sekaligus mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan. Individu inilah yang kelak  siap membangun keluarga samara dan melahirkan generasi yang tangguh.

Sistem pergaulan Islam menjaga hubungan tiap individu baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat tetap harmonis berlandaskan pada ketakwaan sehingga tidak melanggar batas-batas syari'at.

Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan masyarakat dengan memberikan pelayanan berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis. Negara akan memastikan harga-harga pangan stabil dan terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, negara akan memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan dengan gaji yang layak agar dapat menafkahi keluarganya. 

Sistem sanksi dalam Islam tegas dan tidak pandang bulu, jika ada orang yang melanggar syari'at seperti tidak menafkahi istri, kdrt, selingkuh (zina), dan judol pasti akan diberikan hukuman yang sesuai dan menimbulkan efek jera. 

Dengan demikian, ketahanan keluarga akan kokoh dan tidak mudah runtuh. Keluarga yang samara akan melahirkan generasi yang tangguh dan shalih/shalihah. Insya Allah. 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raf: 96) []

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update